Antara Kepala Daerah dan Kematian Selebgram: Negeri yang Gemar Menerka

Oleh Aan Frimadona Roza, Tinggal di Baradatu juga Netizen yang memiliki Akun Media Sosial

Di negeri ini, ada dua hal yang selalu menarik perhatian publik: cara memilih kepala daerah dan ramalan kematian selebgram. Yang satu urusan demokrasi, yang satu urusan dunia gaib tapi anehnya, keduanya sama-sama ramai, penuh tafsir, dan sering dibahas seolah sudah hampir pasti terjadi.Belakangan, wacana perubahan mekanisme pemilihan kepala daerah kembali mengapung. Ada yang bilang demi efisiensi, ada yang bilang demi stabilitas, ada pula yang bilang demi “kebaikan bersama” meski bersama siapa, itu sering masih jadi misteri.

Publik pun mulai menerka-nerka: Apakah Pilkada langsung akan tinggal kenangan? Atau hanya sekadar isu musiman seperti sinetron kejar tayang? Menariknya, suasana menerka itu mirip dengan saat media sosial ramai membahas ramalan Hard Gumay tentang kematian selebgram Lula.

Belum terjadi, tapi sudah ramai. Belum jelas, tapi sudah diyakini. Bahkan ada yang lebih percaya ramalan ketimbang klarifikasi. Di sinilah letak kesamaannya. Wacana kepala daerah sering disampaikan dengan bahasa yang berputar-putar: “masih dikaji”, “belum final”, “menyerap aspirasi”. Sama seperti ramalan: tidak menyebut waktu pasti, tidak menyebut cara, tapi cukup membuat publik deg-degan dan sibuk berspekulasi.

Bedanya, kalau ramalan selebgram biasanya berakhir dengan klarifikasi dan permintaan maaf, wacana politik sering berakhir dengan kalimat sakti: “Demi kepentingan nasional. ”Publik pun kembali ke posisi lama: menebak-nebak. Netizen menjadi analis politik dadakan. Grup WhatsApp keluarga berubah jadi forum demokrasi. Dan rakyat, seperti biasa, menjadi penonton setia dari panggung isu.Satirnya, kita hidup di zaman ketika ramalan bisa lebih viral daripada regulasi, dan isu bisa lebih dipercaya daripada naskah akademik.

Kepala daerah belum “dipilih”, tapi sudah “diramal”. Mekanisme belum berubah, tapi sudah dianggap wafat.Mungkin memang begini karakter bangsa yang kreatif: Kalau belum jelas, kita ramaikan. Kalau masih wacana, kita yakini. Kalau sudah pasti, baru kita debatkan.

Pada akhirnya, baik wacana kepala daerah maupun ramalan selebgram mengajarkan satu hal penting:di negeri ini, yang belum terjadi sering terasa lebih nyata daripada yang sudah ada. Ala Mak Jang !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *