Membaca Nusantara 5: Puisi, Tragedi, dan Keadilan Melawan Amnesia Sejarah

Bandar Lampung 8 Februari 2026. Rumah Baca Yussuf terus berpartisipasi dalam upaya menjadi ruang belajar dan refleksi kritis bagi masyarakat. Salah satu upaya tersebut tercermin dari partisipasi dalam diskusi “Membaca Nusantara 5”, sebuah agenda konsolidasi dan bedah buku yang diselenggarakan oleh LBH Dharma Loka Nusantara bekerja sama dengan KontraS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) serta KOBER, pada awal Februari 2026.

Diskusi seri kelima ini mengusung tema “Puisi, Tragedi, dan Keadilan”, yang menempatkan sastra sebagai medium penting dalam merawat ingatan kolektif dan melawan amnesia sejarah atas berbagai tragedi kemanusiaan di Nusantara.
Sastra sebagai Perlawanan terhadap Lupa
Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber utama, yakni Ari Pahala Hutabarat, penulis buku Nusantara, Amnesia; Jessenia Destarini dari Divisi Pemantauan Impunitas KontraS; serta Ahmad Hadi Baladi Ummah (Pupung) dari LBH Dharma Loka Nusantara. Diskusi berlangsung intens dan kritis, dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat sipil, mahasiswa, serta aktivis HAM.

Fokus utama diskusi adalah buku Nusantara, Amnesia karya Ari Pahala Hutabarat, yang membedah bagaimana ingatan atas pelanggaran HAM berat dan tragedi kemanusiaan kerap dihapus, dipinggirkan, atau diputihkan dalam narasi sejarah resmi. Melalui puisi dan tulisan reflektif, buku ini mengajak pembaca untuk kembali menengok luka-luka lama yang belum sembuh.
Mengingat Talangsari, Menagih Keadilan
Diskusi ini juga memiliki konteks penting, yakni memperingati 37 tahun peristiwa Talangsari, salah satu tragedi kemanusiaan yang hingga kini belum mendapatkan keadilan yang layak bagi para korban. Dalam pemaparannya, para narasumber menegaskan bahwa lupa bukanlah sesuatu yang netral, melainkan bagian dari mekanisme impunitas yang terus merugikan korban dan keluarganya.

Puisi dan sastra dipandang bukan sekadar ekspresi artistik, melainkan alat politik dan kemanusiaan untuk menyuarakan kebenaran, membangun empati, serta menjaga ingatan kolektif agar tragedi serupa tidak berulang.
Ruang Belajar dan Kesadaran Baru
Sebagai peserta diskusi, kegiatan ini memberikan pengalaman yang memperkaya pengetahuan dan membuka perspektif baru tentang hubungan antara sastra, sejarah, dan perjuangan keadilan sosial. Antusiasme peserta terlihat dari diskusi yang hidup, pertanyaan kritis, serta refleksi bersama tentang peran generasi muda dalam melawan lupa dan ketidakadilan.

Diskusi “Membaca Nusantara 5” menjadi pengingat bahwa perjuangan HAM tidak hanya berlangsung di ruang hukum dan kebijakan, tetapi juga di ruang-ruang baca, diskusi, dan sastra. Sejalan dengan semangat Rumah Baca Yussuf, kegiatan ini menegaskan pentingnya membaca, berdiskusi, dan mengingat sebagai bagian dari upaya membangun masyarakat yang lebih adil dan berkeadaban.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *