Oleh: Aan Frimadona Roza
(Anggota PGRI Kabupaten Way Kanan)
Di usia ke-62, Provinsi Lampung patut berbangga atas berbagai capaian pembangunan. Namun di balik semangat “membangun bersama Lampung maju”, ada satu sektor yang masih menyisakan pekerjaan rumah besar: pemerataan kualitas pendidikan.
Pendidikan seharusnya menjadi jalan utama menuju kemajuan daerah. Sayangnya, realitas di lapangan menunjukkan bahwa tidak semua anak Lampung menikmati layanan pendidikan yang setara. Kesenjangan antara wilayah perkotaan seperti Bandar Lampung dan daerah pelosok seperti Way Kanan masih sangat terasa.
Perbedaan itu tampak jelas dari fasilitas. Sekolah di perkotaan relatif lebih lengkap, sementara di daerah masih ditemukan keterbatasan ruang belajar, minimnya sarana praktik, hingga akses internet yang belum merata. Di era digital, kondisi ini tentu menjadi hambatan besar dalam meningkatkan kualitas pembelajaran.
Namun persoalan pendidikan di Lampung tidak berhenti pada fasilitas. Data menunjukkan bahwa angka putus sekolah masih tergolong tinggi. Sepanjang tahun 2024, tercatat 75.219 siswa di Lampung putus sekolah dari berbagai jenjang pendidikan. Ini bukan angka kecil. Ini adalah puluhan ribu masa depan yang terhenti di tengah jalan. (kupastuntas.co)
Jika ditarik ke belakang, tren ini juga sudah terlihat sebelumnya. Pada tahun 2023 saja, terdapat 15.965 pelajar putus sekolah hanya dalam kurun Januari–Juni, dengan jenjang SMA/SMK sebagai penyumbang terbesar. Artinya, semakin tinggi jenjang pendidikan, semakin besar risiko anak tidak melanjutkan sekolah. (Jendela Informasi Lampung)
Salah satu penyebab utama adalah faktor ekonomi. Data menunjukkan bahwa tingkat kemiskinan di Lampung masih berada di kisaran 11,11 persen atau sekitar 970 ribu penduduk.
Kondisi ini berdampak langsung pada pendidikan, di mana banyak anak terpaksa berhenti sekolah untuk membantu ekonomi keluarga.(kupastuntas.co)
Selain itu, persoalan partisipasi pendidikan juga menjadi catatan penting. Data menunjukkan bahwa semakin tinggi usia, semakin menurun angka partisipasi sekolah. Ini menandakan bahwa tidak semua anak mampu melanjutkan pendidikan hingga jenjang lebih tinggi. (jdih.lampungprov.go.id)
Di sisi lain, rata-rata lama sekolah di beberapa daerah di Lampung masih berada di kisaran 7,6 tahun, yang berarti sebagian masyarakat belum menyelesaikan pendidikan hingga jenjang SMP secara penuh (data.lampungtengahkab.go.id)
Persoalan lain yang tak kalah krusial adalah distribusi tenaga pendidik. Sekolah di kota cenderung memiliki guru yang cukup dan sesuai bidangnya, sementara di daerah pelosok masih sering terjadi kekurangan guru, bahkan guru harus mengajar di luar kompetensinya. Kondisi ini tentu berpengaruh pada kualitas pembelajaran siswa.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka kesenjangan kualitas sumber daya manusia akan semakin melebar. Anak-anak di kota akan terus melaju dengan berbagai fasilitas, sementara anak-anak di desa harus berjuang lebih keras hanya untuk mendapatkan pendidikan yang layak.
Namun, kritik ini bukan untuk menyudutkan, melainkan sebagai bentuk kepedulian. Di usia ke-62 ini, Lampung memiliki peluang besar untuk melakukan lompatan kemajuan, terutama di sektor pendidikan.
Pemerataan pembangunan pendidikan harus menjadi prioritas. Distribusi guru perlu diperbaiki, fasilitas sekolah di daerah harus ditingkatkan, dan program bantuan pendidikan harus lebih tepat sasaran. Selain itu, penguatan budaya literasi melalui sekolah dan komunitas termasuk rumah baca juga menjadi bagian penting dalam membangun kualitas SDM.
Pada akhirnya, kemajuan Lampung tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi dari sejauh mana pendidikan dapat dirasakan secara adil oleh seluruh masyarakatnya.
Lampung akan benar-benar maju ketika tidak ada lagi anak yang tertinggal hanya karena ia lahir di tempat yang jauh dari pusat kota. Tabik.
