1
KELOPAK MAYANG
pada undakan waktu menuju langit
tubuhku berdebar; adakah sesudah
naik, aku akan kembali ke kakimu?
jam akan selalu berdentang setiap
60 undak — aku sebut detik? — untuk
mengingatku bahwa perjalanan pasti
akan tiba seperti kelopak mayang
: saat mengembang,
mekarlah mataku, kelopak cahaya
datang dari ubunubun jadi dentang
di waktu riang di kala muram
kau boleh rebut waktu itu
tapi rawat setiap langkahku
Bukittinggi, 20 Januari 2026
2
JALAN SALJU
: buat feri-finlandia
sepanjang salju
di laut yang beku
tak lelah kau susuri
hidup dan pulang
matahari bersamamu
bukan jadi penyuluh
tapi sebagai matamu
untuk waktu pagi dan malam
di laut membeku
orang memancing
jalan yang kaususuri
seputih kapas
tapi bukan cinta yang lepas
2026
3
HANYA MENUNGGU
tugasku yang kuterima sebagai titah itu hanya menunggu. meski kau datang, akan bertemu, atau membatalkan pertemuan ini aku akan tetap menunggu
meski jarum waktu berkali kali memutari bumi ini, aku telah jenuh karena penantian ini
aku akan tetap menunggu
meski lampu lampu taman, jalan, ataupun lampu rumah berulang padam dan terang
hujan reda setelah kota digenangi air membuat orangorang itu cemas tapi, aku tetap akan menunggu
sampai segalanya tiada perjalanan
dan orangorang amat rindu menunggu: saat itu tak penting lagi kata “tunggu aku di situ
aku akan beri cinta dan ciuman.”
2522026
4
AKU ADALAH ARANG
aku selalu waswas untuk membuka pembungkus
jika datang kabar darimu. kubiarkan lama
sampai serasa makanan basi di tudung saji
karena setiap kiriman kabar itu ada bara
yang kuterima sebagai api yang menyala
wajahmu selalu membayang; matahari garang
menjelma dari amplop suratsurat itu
tubuhku terbakar hingga hangus
di depanmu aku hanya arang. legam
kau bisa patahkan sekecilkecil rupa
lalu dibuang di halaman jadi humus
bagi tanaman agar subur
agaknya aku harus keluar dari suratsurat itu
meski aku sulit melupakanmu, yang menulis
kabar demi kabar
yang membakar
— di rumah ini
aku adalah arang
sisa kayu dibakar
2026
Biodata
Isbedy Stiawan ZS adalah sastrawan Indonesia asal Lampung. Pada 2025, 3 bukunya terbit yakni Kitab Puisi Esai Elegi Galian Tambang, Kumpulan Puisi Satu Ciuman, Dua Pelukan (Januari 2025), dan
Menungguku Tiba (Juni 2025). Puisi “79” sebagai juara I Lomba Cipta Puisi Tingkat Asean (2024), dan puisi “Wadas, Apakah Kita
Masih Satu Tanah Air” dimenangkan juara II Lomba Cipta Puisi Esai Asean di Sabah, Malaysia
(2025).***
