“Pikiran yang Retak: Hidupku dengan Sebelas Kepribadian”

Peresensi Rumah Baca Yussuf

Buku Pikiran yang Retak merupakan memoar yang ditulis oleh Robert B. Oxnam, seorang tokoh akademisi terkemuka yang pernah menjabat sebagai presiden Asia Society. Melalui buku ini, Oxnam membuka sisi paling rapuh dalam hidupnya—sebuah pergulatan panjang dengan gangguan kepribadian ganda atau Dissociative Identity Disorder (DID).

Identitas Buku:
Judul: Pikiran yang Retak
Penulis: Robert B. Oxnam
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-979-22-2765-9

Buku ini bukan sekadar kisah pribadi, melainkan sebuah perjalanan batin yang kompleks dan menggugah. Oxnam awalnya tidak menyadari bahwa dirinya memiliki sebelas kepribadian berbeda. Ia mulai menyadari ada sesuatu yang tidak beres ketika mengalami blackout, kecanduan alkohol, dan ledakan emosi yang sulit dikendalikan. Dari sinilah perjalanan pencarian jati diri dimulai.
Dengan bantuan seorang psikiater, Oxnam perlahan mengungkap keberadaan berbagai “alter” dalam dirinya. Setiap kepribadian memiliki karakter, emosi, dan peran masing-masing. Misalnya, sosok anak kecil bernama Tommy yang penuh amarah, serta Wanda yang tenang dan bijaksana. Narasi yang ditulis dari berbagai sudut pandang kepribadian ini menjadi kekuatan utama buku, karena pembaca seolah diajak masuk langsung ke dalam “pikiran yang retak” tersebut.

Salah satu bagian paling menarik adalah proses terapi yang dijalani Oxnam. Ia tidak hanya mengenali kepribadian-kepribadian itu, tetapi juga menelusuri akar traumanya yang berasal dari masa kecil. Proses ini digambarkan dengan jujur, menyentuh, dan terkadang terasa menyakitkan. Namun, justru di situlah letak kekuatan buku ini—keberanian untuk menghadapi masa lalu yang kelam.

Setelah melalui perjalanan panjang, sebelas kepribadian tersebut akhirnya berhasil diintegrasikan menjadi tiga: Robert, Wanda, dan Bobby. Proses integrasi ini menjadi simbol pemulihan dan harapan, bahwa luka batin yang dalam sekalipun masih bisa disembuhkan melalui usaha, kesabaran, dan dukungan yang tepat.

Secara keseluruhan, buku ini memiliki beberapa keunggulan. Pertama, kejujuran penulis dalam membuka sisi gelap kehidupannya membuat cerita terasa autentik dan kuat. Kedua, gaya penulisan yang menggunakan berbagai perspektif menjadikan buku ini unik dan tidak monoton. Ketiga, pesan moral yang disampaikan sangat relevan—tentang pentingnya menghadapi trauma, menerima diri, dan berjuang untuk pulih.

Namun demikian, bagi sebagian pembaca, alur yang berpindah-pindah antar kepribadian mungkin terasa sedikit membingungkan di awal. Istilah psikologis yang digunakan juga membutuhkan perhatian lebih agar dapat dipahami secara utuh.

Pada akhirnya, Pikiran yang Retak adalah kisah inspiratif tentang keberanian, keteguhan, dan harapan. Buku ini tidak hanya membuka wawasan tentang gangguan mental, tetapi juga mengajarkan bahwa setiap manusia, seberapa pun retaknya, tetap memiliki peluang untuk menjadi utuh kembali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *