“Perahu di Tengah Simpang”

Sore itu, awan berarak pelan di atas Baradatu. Angin membawa aroma singkong rebus dari warung kecil di depan Prapatan. Di antara riuh kendaraan yang melintas, seorang remaja bernama Ajo berdiri memandangi Tugu Perahu Baradatu. Ia baru pulang dari sekolah, tapi langkahnya tertahan oleh sesuatu yang sejak kecil membuatnya penasaran.

Tugu itu menjulang sederhana, seperti perahu yang terdampar di tengah kota. Catnya tak lagi seterang dulu, tapi bentuknya tetap kokoh, seolah menunggu seseorang untuk kembali mendengarkan kisahnya.

“Dulu… Buya sering cerita tentang tugu ini,” gumam Ajo, menahan napas saat kenangan muncul. Buyanya adalah seorang petani yang sangat bangga pada kampung halamannya. “Perahu itu simbol perjalanan, Jo. Orang Baradatu itu kuat. Sekali melaju, tidak mundur,” begitu kata Buya suatu malam, saat mereka lewat dengan motor tua.

Ajo meraba dinding tugu yang dingin. Ia baru saja mendengar rumor bahwa tugu itu akan dibongkar karena dianggap tak relevan lagi. Rumor itu membuat dadanya sesak. Kalau tugu ini hilang, pikirnya, apa yang tersisa dari cerita-cerita Buya? Dari masa kecilku?

Dari kejauhan, terdengar suara sepeda. Seorang kakek berhenti di dekat Ajo. Rambutnya memutih, tapi senyumnya hangat.

“Kamu sering lihat tugu ini, Nak?” tanya Yayik itu sambil mengusap keringat di dahinya.

Ajo mengangguk. “Saya dengar tugu ini mau dibongkar… tapi saya nggak tahu betul.”

Kakek itu terkekeh pelan. “Ah, itu cuma kabar yang belum jelas. Tapi kamu orang pertama yang saya lihat memperhatikannya begini lama. Ada cerita?”

Ajo tersenyum kecil. “Buya saya dulu sering cerita kalau tugu ini pengingat perjuangan orang-orang sini.”

Kakek berdiri di samping Ajo, turut menatap tugu itu. “Dia benar. Saya salah satu dari yang ikut membantu pembangunannya dulu… sekitar puluhan tahun lalu. Tidak banyak, cuma mengangkut pasir dan batu. Tapi waktu itu kami merasa seda.m sesuatu untuk anak cucu kami. Biar mereka tahu bahwa Baradatu punya sejarah, bukan cuma simpang jalan.”

Raka menelan ludah. Ia tidak menyangka akan bertemu seseorang yang punya keterhubungan langsung dengan tugu itu.

“Kalau tugu ini hilang, apa nggak sayang, Kek?”

Kakek itu terdiam sebentar, lalu berkata, “Yang hilang bukan cuma bangunannya… tapi juga kenangan orang-orang yang lahir dan tumbuh di sini.”

Raka merasakan angin sore menyentuh pipinya. Tugu itu seolah berpendar dalam cahaya matahari yang turun pelan, seperti ingin memastikan ia benar-benar memahami maknanya.

Saat kakek itu pamit mengayuh sepedanya, Raka berdiri lebih tegak. Untuk pertama kali, ia merasa seolah tugu itu berbicara padanya—tentang masa lalu, tentang perjuangan, dan tentang betapa pentingnya menjaga identitas sebuah tempat.

Ia mengeluarkan ponsel, memotret tugu itu dari berbagai sudut.

“Kalau tidak ada yang menjaga ceritamu,” katanya pelan, “biar aku mulai dari sini.”

Dan di tengah simpang Baradatu yang ramai, tugu perahu itu tetap berdiri, tidak hanya sebagai monumen, tapi sebagai penjaga ingatan—yang menunggu generasi muda untuk kembali menghampiri dan menyimak kisahnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *