Bandar Lampung, 16 Februari 2026 — Sore itu, ruang pertunjukan di Gedung Teater Tertutup (GTT) Taman Budaya Lampung terasa lebih hening dari biasanya. Pengurus Rumah Baca Yussuf (RBY) duduk berderet bersama para pecinta seni, literasi, dan isu lingkungan, menyaksikan hari terakhir pementasan teater Hilang Huma(n): Sebuah Esai Performatif.
Karya yang dipentaskan oleh Komunitas Berkat Yakin (Kober) dari Provinsi Lampung ini disutradarai oleh Ari Pahala Hutabarat. Selama satu jam, penonton tidak hanya diajak menonton drama, tetapi memasuki ruang perenungan tentang krisis pangan, bencana ekologis, dan hilangnya pengetahuan lokal masyarakat adat.
“Hilang Huma(n)” bukan pertunjukan dengan alur cerita konvensional. Ia hadir sebagai esai yang ditubuhkan opini yang dihidupkan lewat tubuh, suara, dan ruang. Para aktor tidak menjelma menjadi tokoh tertentu. Mereka tampil sebagai diri sendiri, sekaligus sebagai medium gagasan.
Ada tarik-ulur antara presentasi dan representasi, antara gaya non-realis dan realis. Musik dan koreografi hadir secukupnya, bukan untuk memanjakan, tetapi untuk menguatkan pesan. Yang paling dominan adalah argumentasi: bahwa bencana ekologis dan krisis pangan di Sumatera dan Indonesia berakar pada alih fungsi lahan. Ekspansi perkebunan, penanaman monokultur, pembangunan infrastruktur, hingga proyek food estate dipertanyakan secara kritis. Pertunjukan ini menyoroti bagaimana perubahan lanskap bukan hanya merusak tanah dan hutan, tetapi juga menghapus ingatan ekologis serta teknologi lokal masyarakat adat. “Huma” yang dalam banyak tradisi berarti ladang atau ruang hidup perlahan hilang. Ironisnya, ketika huma hilang, manusia (human) pun kehilangan pijakan.
Di tengah pertunjukan, Kober juga menyuarakan kritik agar Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia mengambil peran aktif melindungi pengetahuan lokal masyarakat adat. Pengetahuan itu dinilai rentan tergerus oleh proyek-proyek besar yang kerap mengabaikan kearifan lokal sebagai fondasi utama pembangunan.
Pesan yang disampaikan tegas: setiap proyek yang menyentuh wilayah adat harus mengkaji dan menghormati kearifan lokal sebagai syarat mutlak. Tanpa itu, yang terjadi bukan hanya kerusakan lingkungan, tetapi juga pengikisan identitas budaya.
Bagi pengurus Rumah Baca Yussuf, pertunjukan ini bukan sekadar tontonan, melainkan bacaan yang hidup. Jika selama ini literasi identik dengan halaman buku, sore itu panggung menjadi teks terbuka. Tubuh para aktor menjadi paragraf, cahaya menjadi tanda baca, dan diam menjadi ruang refleksi. Karya ini sebelumnya telah dipresentasikan dalam rangkaian Festival Teater Sumatera III di GTT Taman Budaya Sriwijaya pada September 2025. Kini, di Lampung, “Hilang Huma(n)” hadir dengan kedalaman yang lebih matang—lebih tajam dalam kritik, lebih tenang dalam penyampaian.
Di tengah meningkatnya isu krisis iklim dan ketahanan pangan, pertunjukan ini terasa relevan, terutama bagi generasi muda. Ia mengajak penonton untuk tidak hanya menikmati seni, tetapi juga mempertanyakan kembali relasi manusia dengan alam.
Pada hari terakhir pementasan, 16 Februari 2026, tepuk tangan penonton bukan sekadar apresiasi artistik. Ia adalah tanda bahwa pesan itu sampai. Sebab bisa jadi, yang hilang bukan hanya huma. Melainkan juga kepekaan kita sebagai manusia.
