Oleh Sukram Pedagang Kelontongan Baradatu
Aroma Ramadan mulai terasa. Di pasar-pasar tradisional, aktivitas jual beli kian ramai. Ibu-ibu menenteng keranjang, pedagang sibuk melayani pembeli, sementara perbincangan tentang harga sembako menjadi topik yang tak terelakkan. Menjelang bulan puasa, stabilitas harga kebutuhan pokok kembali menjadi perhatian utama.
Salah satu komoditas yang ramai diperbincangkan adalah minyak goreng merek Minyakita. Di sejumlah lapak, harga jualnya terpantau berada di kisaran Rp19.000 per liter. Angka tersebut melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah sebesar Rp15.700 per liter.
Pemerintah daerah menjelaskan bahwa selisih harga yang terjadi di pasaran bukan tanpa sebab. Harga tebus pedagang dari distributor kerap sudah lebih tinggi. Ditambah lagi dengan biaya angkut dan distribusi serta keterbatasan pasokan, harga di tingkat konsumen pun ikut terdorong naik. “Perbedaan harga dengan HET biasanya terjadi karena harga tebus dari distributor sudah lebih tinggi, adanya biaya angkut dan distribusi, serta keterbatasan pasokan. Namun pemerintah tetap melakukan pengawasan dan koordinasi dengan distributor agar penyaluran sesuai ketentuan dan harga di tingkat konsumen tetap terkendali,” demikian disampaikan pihak pemerintah.
Hasil turun lapangan bersama Tim Satgas Saber Pelanggaran Harga dan Mutu Pangan menguatkan kondisi tersebut. Para pedagang mengaku membeli Minyakita dari sales dengan harga sekitar Rp18.000 per liter. Dengan selisih yang tipis, ruang keuntungan menjadi terbatas sehingga harga jual pun sulit ditekan.
Di tengah dinamika itu, langkah intervensi pun ditempuh. Pemerintah pusat menginstruksikan Perum Bulog untuk mendistribusikan Minyakita langsung kepada pedagang dengan harga Rp14.500 per liter. Harapannya jelas: minyak goreng bisa dijual sesuai HET dan tetap terjangkau masyarakat.
Ramadan bukan sekadar bulan ibadah, tetapi juga momentum meningkatnya kebutuhan rumah tangga. Permintaan yang naik kerap beriringan dengan gejolak harga. Karena itu, pengawasan rutin di pasar tradisional dan toko ritel terus digencarkan. Pemerintah menegaskan komitmennya menjaga keseimbangan antara pasokan, distribusi, dan harga.
Bagi masyarakat, pesan yang disampaikan pun sederhana: berbelanja secukupnya dan tidak melakukan pembelian berlebihan. Sebab, menjaga stabilitas pangan bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga tanggung jawab bersama.
Di tengah semangat menyambut Ramadan, harapannya satu dapur tetap mengepul, ibadah berjalan khusyuk, dan kebutuhan pokok tetap terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat.
