Bayang Kota
1.
Tubuh saya menyimpan kota yang menolak ditertibkan. Kota tanpa lampu jalan, tanpa halte, dan pasar malam. Pada hari minggu, kota dalam tubuh saya disesaki gedung-gedung kusam dan muram. Seekor anjing milik nyonya N keluar masuk kepala saya. Menggonggong dan berlari ke sana kemari. Kepala saya penuh gonggongannya. Tuan K yang gagal tidur siang membuka jendela lantas melempar vas bunga dan mengancam akan meledakkan kepala saya dengan senapan laras panjangnya. Tapi dari trotoar, Nyonya N yang menitipkan anjingnya kepada saya langsung melotot hingga Tuan K buru-buru menutup jendela dan membenturkan kepalanya ke dinding. Lalu minggu berlalu seperti biasanya. Tanpa insiden yang berarti.
Namun kegelapan dan kegelisahan segera berdenyut ke setiap dada dan kepala warga kota, rasa bosan pada kenyamanan menyebar dengan cepat. Lalu satu gedung terbakar, huru hara dimulai, dan tak satu pun penghuni kota yang tertarik untuk menghentikannya. Walikota mengatakan keributan adalah sebuah kelaziman. Ia menghimbau warga yang tinggal di flat atau apartemen mewah untuk tetap tenang, tidak panik, melakukan aktivitas seperti biasanya, polisi dan tentara sudah siaga, semua pasti terkendali, dan Kapolda mengangguk setuju.
Walikota sering menyumpahi tingkah penghuni Distrik Gudang Garam yang dianggapnya menyebalkan, sebab mayoritas bertabiat kasar, suka mabuk, dan gemar berbuat onar. Di sini semua pihak mewajarkan sejumlah kotradiksi, sejumlah ketidaknormalan. Distrik G2 adalah kota yang dibesarkan nelayan, kuli angkut, dan segala yang tak dikehendaki sebelumnya. Udara selain menyebarkan bau amis ikan dan anyir keringat juga disesaki caci maki yang terbang ke sana kemari, menyelinap, terpental, timbul tenggelam di antara bangunan-bangunan renta yang berjejer dan menumpuk begitu saja.
Hari ini Nyonya N keluar kota, berarti Alex kembali dititipkan. Kamu tahu, terkadang Alex sangat liar dan susah dikendalikan. Bahkan beberapa warga sudah melaporkan dan hendak mengusir Alex dari Distrik G2. Hanya saja pada akhirnya mereka tak berani memprotes Nyonya N, wanita gendut, yang dimasa lalu dianggap sebagai simbol kemakmuran itu tak lain adalah pemilik rumah bordil dan tokok kelontongan terbesar di Distrik G2. Sejatinya mereka tak takut pada Nyona N, tapi pada dua pengawal bertubuh kekar yang selalu ada di samping wanita itu. Jadi, meski anjing yang bulunya sewarna rambut jagung itu sering mengganggu, mereka diam saja.
Saya menerima pekerjaan menjaga Alex karena upah yang lumayan besar, dan tentu saja alasan utama adalah jaminan keamanan. Terlebih Alex hanya nyaman bersama saya, begitu pengakuan Nyonya N. Sebelum pergi, ia meminta saya mengajak Alex bermain, memberinya cukup makanan dan jalan-jalan. Permintaan Nyonya N adalah perintah. Jika saya menolak maka saya bisa ditendang ke selokan. “Mengenai warga kota yang tak suka dengan Alex, biar saya yang mengurusnya.” ujar Nonya N sebelum masuk mobil dan melambaikan tangan.
Dan Sabtu sore Alex bertingkah. “Fuck, kamu akan mendapat balasan yang lebih menyedihkan, dasar proletar brengsek!!” maki Nona S sambil meludahi wajah saya ketika kami berhenti di taman kota. Tangannya memberi isyarat bahwa besok atau lusa kepala saya bisa saja menggelinding di jalanan. Pelan saya menghapus ludah wanita yang rok dinasnya robek di gigit Alex, saat baru keluar dari pintu mobil yang diparkirnya sembarangan. Di kejauhan, Tom yang setengah sadar memberi isyarat agar saya lekas pergi dan tak memperburuk keadaan. “Nona, kamu akan menyesal telah berkata dan berbuat kasar semacam itu,” balas saya dingin sambil meludah ke tanah. Kami saling berhadapan. Alex menyalak dan hendak kembali mengoyak rok dinas gadis sialan itu jika talinya tak kupegang erat-erat. “Memang apa yang perlu ditakutkan darimu, hei, proletar brengsek?!” makinya lagi. Saya tersenyum sinis, mengejek gayanya yang pura-pura pemberani. “Kamu diam, pasti sudah membayangkan sebentar lagi tempat tinggalmu akan rata dengan tanah, dan kamu akan diseret keliling kota ini bersama anjing sialanmu,” lanjutnya.
Mengapa setiap orang yang kesepian jika keluar rumah atau tempat kerjanya jadi pemarah semacam itu? Tanya saya pada Tom. Lelaki sialan itu memilih melanjutkan bernyanyi, setelah Nona S yang anak walikota itu menjauh. Beberapa tahun ke depan setelah orang tuanya tak jadi walikota, pasti ia yang menggantikannya. Sekarang pemanasan, menjadi anggota dewan kota, begitu desas-desusnya.
Nona S mirip Tuan K yang kerap mengumpat dan mengancam hendak meledakkan kepala saya. Setelah ia pergi, saya menemukan lelaki dan perempuan yang saban akhir pekan menyumpahi dinding kota. Masing-masing berada di sisi berbeda. Banyak waktu terbuang untuk berdebat, masing-masing saling menyangkal, saling meragukan, kembali bertemu dan begitu lagi, berulang-ulang, mungkin korban telenovela.
Setelah menelusuri Fly-over yang membelah kota ini, sekitar pukul 15.30, saya dan Alex melihat seorang lelaki duduk di kursi panjang. Hampir satu jam ia duduk di sana sendiri dan akhirnya pergi dengan wajah muram. 25 menit berlalu dari pukul lima sore datang seorang wanita, langkahnya terburu-buru. Sesampainya di dekat bangku panjang ia menghela nafas. Menoleh ke sana kemari, menghempaskan tubuhnya, ia tak menemukan sesuatu yang dicarinya. Ia duduk, menggerutu. Ia pergi dengan wajah tak kalah sedih dari lelaki tadi. Hari berangsur gelap, taman kembali senyap.
Menjelang ulang tahun kemerdekaan, kota dalam kepala saya runtuh. Sesuai instruksi Walikota, Pol PP mematung di setiap persimpangan untuk segera melakukan penertiban. Beberapa kesatuan Polisi dan Tentara berjaga-jaga jika ada warga yang keras kepala mempertahankan rumah darurat yang mereka bangun puluhan tahun lalu tanpa izin itu, yang membuat badan jalan menyempit, sungai kotor dan saluran irigasi tersumbat di mana-mana. Walikota akhirnya memerintahkan untuk penertiban, tanpa relokasi. Penertiban, artinya ada aksi saling dorong, saling pukul dan banyak yang terluka. Demikian drama yang dikehendaki walikota atau pejabat kota ini. Berkelahi hingga lebam, hingga berdarah, itu hidup, manusia disusun dari darah, tulang, dan daging yang terbentur, ujar Tuan K, dulu.
Kerusuhan menyala. Kami terjebak dalam kerumunan, aksi dorong petugas dan warga yang keras kepala. Kayu dan botol terbang, membentur dinding, kepala, dan tubuh yang tak waspada. Kami mencari tempat sembunyi, Alex meringkuk sambil menjilati satu kakinya yang terluka. Saya berdiri di sela-sela rangka baja yang penyok dan gosong. Menengadahkan muka lalu mengusap kening yang memar. Pelipis saya berdarah. Oh pelipis saya yang malang, kota yang celaka. Tiba-tiba sebuah benda membentur kepala saya, pandangan menjadi kabur, lalu gelap.
Dalam kegelapan, saya melihat Alex bangun, menyalak. Belasan bayangan berkelebatan di antara rangka gedung yang runtuh. Lelaki berkepala musang tersenyum. Kamu cari mati anak muda, ancamnya angkuh. Namun, belum sempat saya beraksi, seekor gagak dengan wajah dongkol mengepakkan sayap, membumbung tinggi lalu menukik dan menabrak wajah lelaki berkepala musang. Terjadi perkelahian burung gagak dan lelaki berkepala musang. Usai perkelahian itu, satu gagak terluka setelah nekat mematuk dan mencakar dua mata lelaki berkepala musang sampai nyaris buta. Ia pergi dibantu gagak lainnya. Akhirnya saya tersadar. Udara masih basah rasa cemas, kami pulang dengan perasaan was-was.
Sesampainya di kamar, setelah menyedu kopi, kembali saya baca catatan harian. Mendengar lagu Doel Soembang. Saya tidak sinting, hanya celaka. Pikiran saya terpelanting sangat jauh, tapi tetap tak menemukan jawaban kenapa tiba-tiba hadir di kota ini, dilahirkan wanita yang sampai sekarang tak saya tahu namanya. Kabarnya saya ditemukan di selokan. Untunglah ada Alex yang menemukan saya diantara tumpukan sampah. Nyonya N menitipkan saya dipanti asuhan. Saban bulan ia menjenguk saya. Lalu, saya meninggalkan panti usahan pada usia belasan, tumbuh dan besar di trotoar. Belajar membaca dari buku dan koran bekas. Alex adalah anjing Nyonya N yang harga satu kotak makanannya sama dengan jatah makan saya 3 bulan. Tapi saya tidak membenci Alex, demikian juga sebaliknya. Sebab nasib kami sama. Sama-sama tak jelas siapa yang perlu dipanggil ayah dan ibu. Ah, tenang saja, di kota ini tak penting hal-hal semacam itu. Orang-orang datang dan pergi sesuka hati.
Di ketinggian mungkin kamu akan berpendapat bahwa tempat ini tak lebih sebagai kota yang putus asa, kota bencana, tumpukan sampah teronggok begitu saja, setiap saat tikus got berkeliaran di selokan, air sungai serupa oli bekas, perut-perut keroncongan, ratapan dinding dan atap bocor, tawa pelacur gembrot di Pemandangan, keluh pengemis dan buruh-buruh bangunan menjelang ajal, semua jumpalitan di sana.
2
Alex menjilati luka-luka di tubuh dan kakinya, satu kenang-kenangan akibat berselisih dengan anak Walikota. Wanita berkerudung hitam mendekat, menaburkan serbuk berwarna putih ke bagian tubah yang terluka. Saya yang semula menggigil mengerang. Merasakan sakit yang teramat sangat, didera hawa panas yang menjalar ke sekujur tubuh. Saya seperti di dalam oven. Mengejang. Dan pada detik selanjutnya seluruh ruang berubah gelap, sangat gelap. Kembali saya dengar suara belasan parang berbenturan, ada yang beradu dengan aspal, yang bergerak setengah berlari mendekat, makin dekat, disusul gongongan 4 anjing yang saya tahu milik petugas keamanan. Saya memperhatikan wajah anjing, petugas keamanan, dan beberapa anggota geng mata merah suruhan Walikota, semuanya bengis, semuanya seolah hendak melumat saya dengan satu gerakan. Liur 4 anjing sialan itu berjatuhan ke aspal, ia meronta dan hendak menerkam saya jika tak tertahan rantai di lehernya, saya akan tamat hari ini, pikir saya. Di depan gedung-gedung kusam dua bayangan menyelinap berkelebat, lalu saya dengar suara senapan, anjing menyalak dan menerkam, sabetan parang, teriak kesakitan, hujan deras, jalanan berwarna merah dan anyir, lalu bayangan-bayangan itu menghilang. 4 anjing tewas, 4 petugas keamanan tak lagi bernyawa, 6 anggota Geng Mata Merah terkapar. Saya terduduk, bersandar pada dinding gedung kusam, hari telah berubah gelap.
Saya kembali sekarat di awal Jumat, tiga hari setelah Nona N meninggalkan kota, atau dua hari setelah penyerangan kedua geng mata merah ke Distrik G2. Alex juga murung, sangat murung Nyonya N tak ada kabar. Saya menggigil. Alex menjilati bekas luka di pinggang kiri, lengan, dan paha saya. Ia mendekatkan kepalanya di dekat kepala saya. Hujan belum reda.
Tiba-riba Alex bangun dan menggonggong, sosok berjubah hitam berdiri di dekat pintu. Ajal saya mungkin segera tiba. Saya mencoba tersenyum, mengumpulkan keberanian, menyambut detik-detik akhir sesuatu saya duga sebagai akhir kisah hidup saya. Sosok itu masih berdiri di dekat pintu. Alex tak lagi menggonggong. Susah payah saya mencoba bangkit, menyandarkan tubuh ke dinding gudang yang kusam. Saya terbatuk, kepala berdenyut, pandangan kabur, dunia berputar, membentuk sebuah lorong, berpusar. Lalu semua memutih. Tubuh terasa sangat ringan, tiba-tiba saya dengar cekikikan dua bocah ingusan itu, seolah menertawakan kepasrahan yang tidak lain adalah ketidakberdayaan saya. Tubuh saya yang semula meringan kembali memberat, nyeri di sekujur tubuh kembali terasa, sementara sosok yang saya duga sebagai malaikat sudah pergi entah kemana. Oh mula yang gelap.
3
Lampu kembali padam. Orang-orang tak lagi mengelus dada, tak mengumpat atau memaki. Kota telah runtuh. Dua hari kegelapan menyelimuti kota dan diri kami, mungkin dalam waktu yang lebih panjang lagi. Saya mengusap kepala alex, yang merindukan majikannya. Saya tertawa, dua sosok yang masih bernafas, kaki yang sama-sama pincang, dan kini menyusuri gang-gang sempit, mencari makanan.
Dua bocah ingusan keluar dari toko roti dengan wajah penuh jejak arang. Apakah mereka cucu lelaki tua yang dikabarkan terbakar kemarin malam? Kulambaikan tangan, namun mereka justru ketakutan dan lari menjauh. Alex menyalak.Dua bocah ingusan terus berlari, masuk ke kompleks perumahan yang kini tak berpenghuni. Jalanan lengang, langit gelap. Lalu hujan, cukup deras. Tapi tentu tak mungkin hujan bisa menghapus kesedihan warga yang baru saja kehilangan rumah dan keluarganya. Mereka kini bersembunyi. Terdengar suara sirene mobil Letnan TT berpatroli. Saya melihat bayangan-bayangan menyelinap ke gedung-gedung kusam itu. Jumlahnya hanya belasan. Lalu terdengar sebuah gedung kembali meledak, Alex yang ketakutan segera bersembunyi di belakang saya.
Saya mencari Nyonya N di antara puing-puing bangunan yang runtuh usai huru-hara terjadi. Alex mengendus ke sana kemari. Namun selalu saja sosok yang ia temukan bukan yang ia cari. Sementara lelaki tua yang bersama kami semalam, kini meringkuk di dekat jembatan. Ia tak bernafas lagi saat kami tinggalkan. Saya menyesal tak bisa mencegah besi yang ia pegang menusuk perutnya, tak lama setelah kami mendapat kabar dua cucu kesayangannya ditemukan terbakar. namun saya tak menyangka dia akan senekat dan sekonyol itu. Saya mengumpat, hingga denyut di kaki yang robek makin terasa nyeri, namun saya mencoba menahan rasa sakit tersebut dan terus melangkah. Ketika nyeri semaki hebat saya memutuskan berhenti, duduk. Alex mendekat dan mengendus kaki saya, seolah lidahnya bisa mengembalikan kaki saya yang terluka membaik seperti semula. Anjing pintar yang membimbing saya meloloskan diri.
Situasi Distrik G2 masih mencekam, Tom ditemukan menggantung dijembatan, kondisinya mengenaskan, banyak luka lebam di sekujur tubuh dan dua sayatan cukup dalam di wajahnya. Letnan TT, Kapolres Distrik G2 yg datang bersama opsir RR menduga bahwa pelakunya adalah anggota geng merah, yang menguasai sepertiga kota ini. Mereka tak tersentuh. Bertahun-tahun mereka menjadi ancaman serius Distrik kami, dikenal kejam, dan berselisih dengan Tuan K setahun silam. Lalu bagaimana dengan Nyonya N? Tak satu pun yang mengetahui kabarnya. Ia menghilang, 3 Hari berlalu tanpa pesan apa pun darinya. Alex nampak gelisah di dekat pintu, mendengus, mengendus, menyalak hingga opsir RR tak berani jauh-jauh dari Letnan TT yang berperut buncit. Tuan K mengawasi kami dari jendela, lalu buru-buru turun ke jalan ketika melihat konvoi petugas keamanan nampak di kejauhan.
4.
Di situasi yang diliputi kegelapan dan celaka saya menemukan Tuan K sebagai kawan lama. Sosok dengan sepasang mata bulat merah, membawa senapan laras panjang dan berkeliaran di jalan. Dua mobil petugas keamanan berhenti menghadang di dekat jembatan. Lampu kendaraan mereka menyala & sangat menyilaukan. Terdorong rasa gusar, Tuan K mengarahkan senapan dan berniat menghabisi kami, yang tentu saja sigap dengan ancaman seperti ini. Mereka bilang Tuan K dan yang lain sudah dikepung, meminta semua warga segera meletakkan senjata sebelum hitungan ke tiga, mengangkat dua tangan, dan bersujud pada govermen di pengadilan jika berharap keringanan. Huh, enak saja. Warga kota memamerkan senyum tertahan di jendela-jendela apartemen mewah di kejauhan, menambah dongkol Tuan K, Tom, dan ribuan proletar lainnya. Api dendam berkobar, mengatasi ketakutan atas ancaman yang siap mengirim kami ke neraka.
Menggunakan pengeras suara, salah satu petugas keamanan kembali melontarkan kata-kata peringatan. Lebih tegas dan lebih tajam dari sebelumnya. Sebagai bagian dari warga Distrik G2, saya pun gusar. Dasar sundal. Tapi apa peduli saya. Mungkin mereka sudah muak dengan huru-hara yang terjadi beberapa bulan terakhir, dan mereka tahu, Tuan K, Tom, saya atau yang lain tidak akan menyerah begitu saja. Mereka membutuhkan alasan untuk menarik pelatuk, hingga ada alasan peluru-peluru melesat menembus tubuh saya dan lainnya. Wajah bengis petugas benar-benar menyiratkan niat yang kuat agar kami semua mati dengan kondisi menyedihkan. Seperti nasib puluhan demonstran yang hingga sekarang tak jelas kabarnya. Hitungan pertama digemakan, berharap Tuan K gentar dan buru-buru putar haluan, meminta maaf atas kekonyolan yang baru saja kami lakukan.
Tuan K meludah ke tanah. Tom memandang pada saya dan proletar lainnya. Petugas mengamati kami satu per satu. Tampak malaikat kematian duduk di belakang mereka dengan dagu terangkat, menjilati kuku-kuku tajamnya yang hitam, mengawasi keadaan yang tampak tegang, yang ia duga sesaat lagi mencekam. “Jangan bertingkah seolah-olah kamu orang baik, bajingan,” guman malaikat itu yang membuat kaki saya sedikit goyah. Anjing di kepala saya mendengus geram. Dua!! Kembali terdengar peringatan petugas keamanan. Kami tidak berniat mundur, dan menduga pasti banyak petugas keamanan yang mulai gugup. Malaikat maut yang mengenakan jubah hitam akhirnya berdiri seiring salah satu orang menyebut kata Tiga!!! nyaris serentak peluru berhamburan, melesat dan memburu tubuh kami. Orang-orang di jendela apartemen terbelalak, tubuh saya dan proletar lainnya mendadak meringan, melayang, lalu angin sore dengan sigap mendorong tubuh saya ke atas hingga lebih tinggi dari atap apertemen, melewati beberapa gumpal awan hitam, dan beberapa waktu kemudian saya merasa berada di neraka.
Tapi tunggu dulu. Cerita tak harus berakhir di sini.
***
(Alexander GB dikenal sebagai salah satu figur aktif dalam dunia teater Lampung melalui Komunitas Berkat Yakin (KOBER), sebuah komunitas seni dan kebudayaan independen yang fokus pada teater, sastra, dan pengembangan kesadaran sosial melalui seni.)
