Iduladha, Literasi, dan Harapan dari Kampung

Oleh: Aan Frimadona Roza, pegiat literasi di Rumah Baca Yussuf Baradatu

Hari Raya Iduladha selalu hadir membawa pesan tentang keikhlasan, pengorbanan, dan kepedulian terhadap sesama. Di kampung-kampung Kabupaten Way Kanan, gema takbir yang berkumandang dari masjid ke masjid bukan hanya menjadi penanda hari raya, tetapi juga pengingat bahwa hidup akan lebih bermakna ketika manusia mampu memberi manfaat bagi orang lain.Bagi seorang guru dan pegiat literasi, makna kurban tidak hanya sebatas menyembelih hewan dan membagikan daging kepada masyarakat.

Lebih dari itu, kurban adalah kesediaan untuk mengorbankan waktu, tenaga, dan pikiran demi masa depan generasi muda. Di daerah-daerah kampung, guru sering kali menjadi lebih dari sekadar pengajar. Guru menjadi tempat bertanya, tempat mengadu, bahkan menjadi penyemangat bagi anak-anak yang sedang berjuang mengejar mimpi di tengah keterbatasan hidup.

Realitas di Kabupaten Way Kanan menunjukkan bahwa masih banyak anak-anak yang tumbuh dengan minimnya akses bacaan dan terbatasnya fasilitas pendidikan. Tidak sedikit pula keluarga yang harus berjuang menghadapi persoalan ekonomi sehari-hari. Dalam kondisi seperti itu, Iduladha seharusnya menjadi momentum untuk menumbuhkan kepedulian sosial yang lebih luas, termasuk kepedulian terhadap pendidikan dan budaya literasi.

Kurban hari ini tidak cukup hanya dimaknai sebagai berbagi daging semata. Kurban juga bisa diwujudkan melalui berbagi ilmu, menghadirkan buku, membuka ruang belajar, dan menumbuhkan budaya membaca bagi anak-anak kampung. Sebab kemiskinan bukan hanya tentang kekurangan materi, tetapi juga tentang kurangnya akses terhadap pengetahuan.Di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus media sosial, generasi muda membutuhkan pendampingan agar tidak kehilangan arah.

Literasi menjadi penting agar anak-anak mampu berpikir kritis, bijak menerima informasi, dan tetap memiliki kepedulian sosial serta akhlak yang baik. Karena itu, sekolah, rumah baca, masjid, dan keluarga memiliki peran besar dalam membentuk karakter generasi masa depan.

Kisah Nabi Ibrahim AS mengajarkan bahwa sesuatu yang besar lahir dari keteguhan hati dan keikhlasan. Nilai itulah yang seharusnya hidup dalam dunia pendidikan. Membangun generasi tidak dapat dilakukan secara instan. Dibutuhkan kesabaran, keteladanan, dan pengorbanan panjang dari banyak pihak.Pada akhirnya, Iduladha mengingatkan bahwa kemajuan daerah tidak hanya dibangun melalui jalan dan gedung, tetapi juga melalui manusia-manusia yang berilmu, berakhlak, dan peduli terhadap sesama.

Dari kampung-kampung kecil di Way Kanan, harapan itu tetap tumbuh melalui anak-anak yang terus belajar, guru yang terus mengabdi, dan masyarakat yang masih percaya bahwa pendidikan adalah jalan perubahan. Tabik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *