Madju, Sebuah Keinginan Masa Kecil yang Datang Kembali

Oleh Aan Frimadona Roza, Bergiat di Rumah Baca Yussuf Baradatu.

Dulu, ketika masih menjadi anak sekolah, saya sering mendengar nama Toko Madju diJalan Raden Intan Tanjung Karang. Bagi banyak orang, toko itu identik dengan pakaian sekolah yang rapi dan berkualitas. Saya pun pernah memiliki keinginan yang sama seperti anak-anak lainnya: membeli seragam sekolah di sana.

Namun, tidak semua keinginan masa kecil bisa segera terpenuhi. Keadaan ekonomi keluarga saat itu membuat saya belajar memahami bahwa ada kebutuhan yang harus didahulukan. Seragam sekolah tetap ada, pakaian tetap bisa dipakai untuk belajar, meski bukan berasal dari toko yang saya impikan. Sebagai anak kampung, saya belajar bahwa sekolah tidak ditentukan oleh merek seragam atau tempat membelinya, melainkan oleh semangat untuk terus belajar.

Waktu berlalu. Tahun berganti tahun. Anak kecil yang dulu hanya bisa memandangi keinginan dari kejauhan kini telah tumbuh menjadi seorang ayah. Dan tanpa direncanakan, saya kembali berada di Toko Madju, bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk anak saya, Ajo Yussuf.

Saat melihatnya memilih pakaian sekolah, saya tersenyum sendiri. Tiba-tiba saya teringat pada keinginan sederhana yang pernah tersimpan rapat di masa kecil. Bukan rasa sedih yang datang, melainkan rasa syukur. Syukur karena hidup terus berjalan. Syukur karena apa yang dulu hanya menjadi angan seorang anak, hari ini bisa saya wujudkan untuk anak saya.

Toko Madju mungkin hanya sebuah toko pakaian bagi sebagian orang. Namun bagi saya, ia adalah pengingat tentang perjalanan hidup. Tentang mimpi-mimpi kecil yang tidak semuanya langsung tercapai. Tentang orang tua yang berjuang dengan segala keterbatasan. Dan tentang waktu yang akhirnya membawa kita pada pemahaman bahwa kebahagiaan bukan terletak pada barang yang dibeli, melainkan pada perjalanan yang telah dilalui. Hari itu saya tidak hanya membeli pakaian sekolah. Saya seperti membeli kembali kenangan yang pernah tertinggal di masa lalu.

Dan ketika menggenggam tangan Ajo Yussuf keluar dari toko, saya sadar bahwa kehidupan sering kali memberi jawaban atas doa-doa lama dengan cara yang tidak pernah kita duga. Apa yang dulu tidak bisa kita miliki, kadang hadir kembali bukan untuk kita, melainkan untuk anak-anak yang kita cintai.

Di situlah saya memahami, bahwa ada kebahagiaan yang baru terasa nilainya setelah kita menjadi orang tua. Bukan saat menerima, tetapi saat mampu memberi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *