Kamis malam itu warga perumahan Puspa Mega geger karena melihat Kemala hidup lagi dan berjalan gontai menuju rumahnya yang ada di blok E 98. Padahal, semua warga tahu, rumah itu sudah lama kosong sejak presiden kedua dilengserkan. Harum bunga tanjung dan aroma rumput basah menyeruak, seolah ikut menyambut kebangkitannya.
“Mala…” Santori memanggil.
Kemala hanya menjawab dengan menoleh.
Santori terus menanyai Kemala, tetapi perempuan itu diam saja.
Didorong rasa takut dan penasaran, Santori, paman Kemala sekaligus salah satu warga Puspa Mega yang paling berani, tak bisa berdiam diri. Lantaran jarak perumahan dengan kuburan sangat dekat dan hanya dibatasi tembok tinggi yang ditumbuhi lumut hijau, ditemani tiga orang warga, ia lantas bergegas memeriksa kuburan Kemala.
Dengan bantuan sinar bulan dan senter di tangan kanan, ia mendapati sebuah kenyataan di luar nalar: kuburan Kemala telah kosong-melompong dan menganga. Nisan keramik biru muda itu pecah dan serpihan papan beserta tanah cokelat berhamburan ke mana-mana, seolah kemarahan yang sudah lama dipendam baru saja meledak dari sana.
Sekarang Kemala memang bangkit dari kubur. Ia berjalan menyusuri gang-gang Puspa Mega dengan gaun putih compang-camping. Entah bagaimana gaun putih itu tetap melekat di tubuhnya. Rambut lurus sebahunya kusam dan penuh dengan tanah, namun mata beloknya kini mencorong mencari mangsa.
Sementara itu di sudut lain perumahan, di Blokl E 21, Anwari yang dikenal pula sebagai orang hebat dan pemberani, malah terlihat pucat dan ketakutan. Lelaki pesek bertubuh tinggi dengan rambut tetap cepak itu mendadak seperti kehilangan nyali dan wibawa. Tangannya gemetar dan sepasang matanya terbelalak saat mengintip dari balik gorden rumahnya, menyaksikan sendiri betapa sosok yang seharusnya sudah menyatu dengan tanah itu malah berdiri di depan rumahnya.
Anwari yang kini sudah berkepala lima, merasakan sesak di dadanya. Ia tahu siapa yang datang. Ia menelepon sebagian kawan-kawannya yang dulu ikut serta, namun tak ada yang berani mendekat. Akhirnya, dengan sisa-sisa harapan, ia memutuskan untuk mengadakan yasinan di rumahnya selama tujuh hari berturut-turut.
“Tolong pimpin yasinan di rumah saya,” kata Anwari dengan suara parau saat mendatangi rumah Santori di Blok E 32.
Santori menatap Anwari dengan mata yang sulit diartikan. Ia adalah pengurus masjid perumahan sekaligus guru agama di SMA Ulul Al-Bab. Hatinya diliputi keprihatinan. Sebagai paman Kemala, ia mengetahui kejahatan yang dilakukan Anwari, meskipun tak punya cukup bukti. “Hanya doa yang bisa menenangkan jiwa yang gelisah. Tapi Tuhan Maha Adil,” jawab Santori dingin.
Meskipun sakit hati, Santori tetap menyanggupi untuk memimpin yasinan itu. Ia tak bisa berbuat apa-apa selain membantu Anwari.
Malam pertama yasinan, suasana rumah Anwari mulai mencekam. Puluhan warga berkumpul, namun suara mereka terdengar lirih, kalah oleh gemuruh angin di luar. Anwari duduk di sudut ruangan, memegang buku yasin dengan tangan basah oleh keringat dingin.
“Jangan berhenti membaca. Kalau bisa sampai pagi,” kata Anwari setelah surah Yasin dan doa bersama selesai dibaca.
Orang-orang menoleh, lalu menggeleng.
Di luar, di bawah pohon jambu air yang belum berbuah, Kemala berdiri mematung. Matanya yang tak pernah tertutup itu tertuju pada pintu rumah Anwari. Ia tak masuk, seolah menunggu dan membiarkan kehadirannya itu perlahan-lahan menggerogoti keberanian Anwari.
Malam ketiga, setelah selesai yasinan dan orang-orang pulang ke rumah masing-masing, gangguan mulai terjadi. Lampu kristal di ruang tamu Anwari bergoyang dan jatuh tanpa ada angin di ruangan itu. Suara garukan terdengar di kaca jendela kamar. Anwari makin ketakutan, ia mulai meracau tentang peristiwa masa lalu yang selama ini ia tutupi.
“Ampun, Mala! Bukan cuma saya yang melakukannya!” teriak Anwari di ranjang tidur dan membuat istrinya terbangun.
“Dia berdiri di belakangmu sekarang!” Anwari menunjuk ke arah belakang istrinya dengan wajah pucat pasi.
Istrinya menoleh, tapi tak melihat apa-apa. Namun, ia mencium aroma bunga tanjung, parfum yang sering dipakai Kemala saat ia masih hidup. Istri Anwari takut, dan mungkin ia tahu Kemala memang berdiri di belakangnya, menghendaki kematian suaminya.
Malam ketujuh adalah puncak dari segalanya. Langit di atas Puspa Mega gelap sempurna kalau saja tidak ada sinar bulan. Warga yang hadir di rumah Anwari semakin sedikit karena ketakutan. Hanya Santori yang masih setia memimpin, meskipun suaranya mulai serak.
“Cukup, Anwari. Cukup sampai di sini,” ujar Santori saat melihat Anwari hampir pingsan karena tekanan batin.
“Tidak! Satu malam lagi! Dia harus pergi! Aku tidak mau hidup seperti ini!” Anwari bangkit dari duduknya.
Santori dan semua warga yang ada di dalam rumah itu menolak. Mereka memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.
Setelah rumah Anwari sepi, tiba-tiba terdengarlah suara ketukan keras di pintu depan. Suara itu bukan ketukan biasa, seolah dentuman yang bisa menggetarkan seluruh pondasi rumah. Anwari bergegas lari ke arah garasi. Ia merasa takut dan terdesak. Ia harus lari dari perumahan Puspa Mega, lari menjauhi makam yang dibatasi tembok tinggi.
Meninggalkan istri dan anaknya, lelaki berhidung pesek itu menyambar kunci sedan putih miliknya. Mesin menderu saat ia memundurkan mobil dengan kasar, hampir menabrak pagar rumahnya sendiri. Istrinya berusaha mengejar, tapi sudah terlambat. Mobil itu melesat keluar menuju jalan raya.
Anwari memacu sedannya dengan kecepatan tinggi. Ia ingin menuju pusat kota, mencari keramaian agar rasa takutnya hilang sempurna. Jalanan malam itu sepi, hanya ada beberapa kendaraan yang melintas.
Saat ia melirik ke arah kaca spion tengah untuk memastikan tidak ada yang mengejarnya, jantung Anwari seolah berhenti mendadak. Di sana, di kursi belakang, duduklah Kemala. Rambut lurus sebahunya kini basah dan melekat di wajahnya yang putih pucat. Matanya yang besar menatap tajam ke arah mata Anwari lewat pantulan kaca spion.
“Kamu…” desis Anwari. Suaranya tercekat di tenggorokan.
“Saya antar kamu pulang …”
Anwari bisa mendengar suara Kemala dengan jelas. Ia mendengar suara itu seperti ujung pisau yang menusuk gendang telinganya.
Mendengar suara dari bibir yang tertutup rapat itu, Anwari kehilangan kendali. Ia membanting stir ke kanan dengan sekuat tenaga. Sedan itu oleng, ban berdecit menyayat malam, sebelum terbang melompati pembatas jalan. Dari arah berlawanan, sebuah truk melaju kencang. Benturan itu tak terelakkan. Suara besi beradu besi terdengar sampai di kejauhan.
Mobil Anwari ringsek seketika. Tubuhnya terjepit di antara kemudi dan kursi. Dalam sisa-sisa kesadarannya, ia melihat Kemala turun dari mobil itu melalui pintu yang sudah hancur, sama sekali tidak terluka, dan berjalan pergi tanpa menoleh sedikit pun. Anwari mengembuskan napas terakhirnya di tengah kobaran api yang mulai mengepung mobilnya.
Pagi harinya, berita kematian Anwari menyebar ke mana-mana.
Dulu, dua puluh delapan tahun lalu, Kemala adalah kembang perumahan Puspa Mega. Ia punya rambut lurus sebahu yang selalu tampak berkilau, mata besar jernih, dan alis tebal yang memberikan kesan cantik dan pemberani. Kulitnya putih bersih dengan hidung sedikit mancung.
“Pulanglah lebih awal. Suasana sedang gawat,” kata Santori suatu pagi di minggu ketiga bulan Mei. Sebagai paman, ia selalu cemas melihat keponakannya itu tinggal sendirian di Blok E 98.
Kemala tersenyum tipis. “Hanya kerja sebentar, Paman.”
“Hati-hati. Angin bulan ini bisa membuat orang menjadi jahat,” kata Santori lagi dengan satu firasat aneh.
Hari itu, kerusuhan pecah di mana-mana. Asap hitam membumbung dari pusat kota dan amarah orang-orang merambat hingga ke satu sudut gang gelap yang agak jauh dari perumahan Puspa Mega. Di gang gelap itulah Kemala dihadang oleh sekelompok pemuda tak dikenal yang sebenarnya dipimpin oleh Anwari. Saat itu Anwari berusia dua puluh tujuh tahun dan memiliki hubungan dengan orang-orang partai golongan hebat.
“Saya antar kamu pulang,” kata Anwari sambil meraih paksa tangan Kemala. Tubuhnya yang tinggi tegap terus mendesak tubuh Kemala.
“Lepaskan!” teriak Kemala dengan suara bergetar.
“Pulang sama saya,” bisik Anwari tepat di telinga Kemala sebelum menyeretnya ke kegelapan. Malam itu, di usianya yang kedua puluh lima, hidup Kemala dihancurkan sekeji-kejinya sebelum akhirnya mati diperkosa beramai-ramai.
Sekarang, di malam hari, setelah memimpin yasinan di rumah almarhum Anwari, Santori berdiri di depan rumah E 98 yang sudah bertahun-tahun dibiarkan kosong. Ia melihat sosok Kemala berdiri di beranda sambil menatap bulan.
Santori membaca ayat suci di dalam hati sebelum mendekati Kemala dan berhadapan dengan perempuan itu. “Kamu sudah tenang sekarang?” tanyanya dengan suara lembut dan sedih. Air mata mengalir di sepasang pipinya yang keriput.
Kemala masih diam. Ia merapikan rambut lurus sebahunya yang kini tampak bersih, meskipun kulitnya tetap pucat pasi. Ia menoleh ke arah pamannya, dan untuk pertama kalinya sejak bangkit dari kubur, ia bisa tersenyum tipis.
“Satu hutang sudah lunas, Paman. Tapi mereka yang menghapus ingatan, masih saja hidup tenang,” kata Kemala tanpa membuka mulutnya.
“Kamu mau ke mana?” Santori berkata lirih.
Kemala menatap ke arah gedung-gedung pencakar langit di kejauhan. Matanya yang sudah belok tiba-tiba terbelalak, memancarkan amarah yang membara.
Sebelum benar-benar pergi meninggalkan Santori dan rumah E 98 untuk selamanya, ia bersuara tanpa membuka mulutnya, “Ke jantung kota …”
Angin berembus pelan membawa terbang harum bunga tanjung.
Lampung, 2026
───
Biodata:
Yulizar Lubay, fiksionis dan pengasuh teater di UKMF KSS FKIP Unila.
