Mereka Mengejar Berita, Lalu Menjadi Berita

Oleh: Aan Frimadona Roza, Penggiat Rumah Baca Yussuf

Ada sisi lain dari profesi jurnalis yang sering luput dari perhatian kita. Di balik berita yang kita baca setiap hari, ada orang-orang yang bekerja di tengah risiko. Mereka datang ketika sebagian orang memilih menjauh. Mereka mendekati peristiwa untuk melihat, merekam, dan menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi kepada masyarakat.

Peristiwa hilangnya lima jurnalis di perairan Selat Sunda saat hendak meliput erupsi Gunung Anak Krakatau kembali mengingatkan kita tentang sisi lain dari pekerjaan tersebut. Mereka berangkat untuk menjalankan tugas jurnalistik. Mereka membawa kamera, peralatan kerja, dan harapan untuk mendapatkan informasi yang kemudian dapat disampaikan kepada publik.

Namun, berita yang hendak mereka cari justru berubah menjadi berita tentang mereka.Sampai hari ini, kabar tentang keberadaan mereka masih dinantikan. Tim pencarian dan pertolongan terus berupaya menemukan mereka. Di saat yang sama, keluarga tentu berada dalam kecemasan yang sulit dibayangkan. Menunggu kabar dari orang yang kita cintai, tanpa kepastian, adalah penantian yang sangat berat.

Di sinilah kita perlu melihat profesi jurnalis dari sisi yang lebih manusiawi.Sering kali kita hanya melihat hasil akhirnya. Sebuah berita muncul di layar telepon. Foto terpampang di media sosial. Video tersebar dan menjadi pembicaraan. Kita membaca, menonton, lalu berpindah kepada berita berikutnya. Padahal, sebelum berita itu sampai kepada kita, ada seseorang yang harus datang ke lokasi, mencari informasi, melakukan wawancara, mengambil gambar, memeriksa fakta, lalu menulisnya.

Tidak jarang, pekerjaan itu dilakukan di tengah situasi yang tidak mudah. Karena itu, apresiasi kepada jurnalis tidak seharusnya hanya diberikan ketika berita mereka menjadi viral. Kita juga perlu menghargai keberanian, kerja keras, dan pengorbanan mereka dalam menjalankan tugas. Lebih dari itu, keselamatan mereka harus menjadi perhatian bersama.
Jurnalis memang dituntut untuk berada dekat dengan fakta. Tetapi keberanian bukan berarti mengabaikan keselamatan. Berita memang penting, tetapi nyawa manusia jauh lebih penting.

Peristiwa ini juga menjadi pengingat bahwa di balik kamera ada manusia. Di balik sebuah berita ada keluarga yang menunggu. Di balik sebuah profesi ada kehidupan yang harus dijaga. Mungkin selama ini kita terlalu terbiasa menerima berita dengan cepat. Kita ingin informasi terbaru, gambar terbaru, dan kabar terbaru. Tetapi pernahkah kita berpikir bahwa untuk menghadirkan semua itu, ada orang yang harus mempertaruhkan waktu, tenaga, bahkan keselamatannya?

Mereka bukan sekadar nama yang tercantum di sebuah media. Mereka adalah manusia yang memiliki keluarga, sahabat, dan orang-orang yang berharap mereka pulang dengan selamat.
Karena itu, pencarian terhadap lima jurnalis tersebut bukan hanya persoalan menemukan pekerja media. Ini adalah persoalan kemanusiaan. Harapan harus terus dijaga. Upaya pencarian harus terus dilakukan. Dan doa harus terus dipanjatkan agar mereka ditemukan dalam keadaan selamat dan dapat kembali kepada keluarga.

Sebagai masyarakat, kita juga perlu belajar dari peristiwa ini. Menghargai jurnalis bukan hanya dengan membaca berita yang mereka hasilkan, tetapi juga dengan memahami risiko di balik pekerjaan mereka. Jangan sampai kita hanya membutuhkan berita, tetapi lupa bahwa di balik berita itu ada manusia.

Sebab pada akhirnya, berita bisa terlambat beberapa menit. Informasi bisa menunggu. Tetapi manusia tidak bisa digantikan.
Lima jurnalis itu berangkat untuk mencari berita tentang erupsi Anak Krakatau. Hari ini, justru masyarakat yang menunggu berita tentang mereka.

Semoga laut segera memberikan jawaban. Semoga pencarian menemukan titik terang. Dan semoga lima jurnalis yang berangkat untuk menjalankan tugas itu dapat kembali ke rumah, kembali kepada keluarga, dan kembali menjalani kehidupan mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *