Puisi Nurzaim

Renyah serumpun pagi

Kini november tertidur.
Desember terbangun dalam hujan tipis rintik dan redup

Aroma dan kilas sekejap uap gelas kopi hitam tak bertwman menatap jendela

Lampu kamar mandi belum juga padam. Sisa mala berbenah denfan rencana serumpun ilalang. Kelak mungkin desember akan pergi tanpa gumam dan bayang-bayang

Cts, awaldesmbr’2023

Pagi sang pesulap

Ada kudengar igau orang-malam
seperti clean-sing* kicau kata tanpa makna
Menelusuri sekalian menampik duka
Duka?

Bahasa mantra kian tertebak dari sepi.
Seolah pertama jatuh cinta : kita memaknai yang tumbuh, bertubuh dan berakar dari dada, meski tak semestinya: kecuali buku, uang, catatan, tiket lama yang terkoyak, ingatan-siang di beranda :tak ada yang sia-sia

lihat dan cobalah sesekali akrabi debu dan remah rumah laba-laba kamar tidurmu :siapa pencipta pengirim mimpimu (ibu), mengapa tercipta rindu-dendam, dan siapa peduli dengan debu?

Mungkin hanya pesulap yang tak bisa mengelaki sepi kata-sapa
Mungkin hanya pesulap yang bisa tulus tertegun menatap megah pagi.
Mungkin cuma pesulap yang bisa meniagakan mimpi farfum laut :dan menyudahi keajaiban dalam kungkung kemungkinan meta-bahasa tatap Mata.

citystones mart6’25

Dream from morning

Kepergian cuma nyanyi kran air kamar mandi, dapur ada untuk senyap detak kompor dan bisik ringam minyak yang menggoreng kata-kata yang mengais wajan

Lala-laku kangen rapat dekapan menjadi suara yang teriris dan lebam menuju siang.
Di sini, aroma dapur pagi hari tak hanya pandang lepas selekas jamuan menunda sepi.

Cts, okt2020
_10:43

Nurzaim, Lahir di Kota batu Juli 1975. Tamat Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Lampung. Sempat bekerja SKH Lampung Post dan Posmetro Batam, Honorer di sekolah SMP, SMA, SMK di Kampung halaman ( Kecamatan Warkuk Ranau Selatan, OKUS Sumatra Selatan) Sekarang menetap dan memilih menjadi petani.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *