Oleh Septa Muktamar ( Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Way Kanan)
Pagi ini di meja makan Aissa anak saya tanya gini, “Pi papi tau gak bahasa gay?”.
Agak setengah kaget saya bilang,
“Gimana bahasanya Nak?” ucap saya.
“Kayak gini lho Pi, pagapigi nagantigi agajagarigin Agaigissaga cagaraga ngigitugung jagaragak yaga?”
“Oh igiyaga Nak, nagantigi magalegem yaga!” Kata saya.
“Ih kok papi bisa sih.” Katanya.
Dibenak saya terpikirkan bahwa saya merasa perlu menjelaskan terutama istilah gay yang disampaikannya, bagi saya kok konotasinya negatif, apalagi disampaikan anak usia SD. Selanjutnya saya jelaskan lagi.
“Nak, bahasa yang tadi Aissa omongin itu bukan bahasa gay, itu udah banyak dipake dari dulu, mungkin dari mulai jaman Yayik atau Datuk Aissa dulu. Papi dulu juga tau ngomong gitu pas papi seumuran Aissa juga. Tapi dulu temen-temen papi bilang itu bahasa ‘sisipan’, kenapa dibilang sisipan kan cuma nyisipin kata ga,gi,gu,ge,go aja sesuai dengan suku katanya.”
Saya lanjutkan, “sebenernya ada gaya bahasa gaul laen dari jaman dulu, bahasa gay maksud Aissa itu kali kayak bahasa banci, misalnya Akika, Begindang, Tinta Mawar,”
“Apa artinya Pi?”.
Saya jawab, “akika itu = aku, begindang = begitu, tinta mawar = tidak mau.”
Dia tertawa, lucu kali ya kok Bapaknya tau bahasa banci gitu.
Kemudian saya bilang. “Aissa mau nggak papi ajarin bahasa gaul yang dulu papi sering pake terutama kalo ngomong yang rahasia-rahasia gitu?”. “Iya mau.” Jawab Aissa.
Saya teringat dulu waktu masih ABG saya dan teman-teman kalo ngobrol pake bahasa rahasia di kampung kami.
“Ukanmanang unyakbanang, uyarbinang uhatsenang usabinang untarpineng.” Ujar saya.
“Wow, apalagi itu Pi”, dengan mata berbinar dia antusias.
“Artinya makan banyak, biar sehat bisa pinter. Sama aja sih prinsipnya.”
Demikian penjelasan saya padanya. Aissa tinggal tambahin imbuhan, depan U-, belakang -NG, cuma huruf hidup depan diganti semua pake huruf A, huruf hidup lain, A,I,U,E,O ditaruh di belakang sebelum -NG. Setelah itu saya berikan dia beberapa kata dan dia menjawabnya. Sampai pada akhirnya dia bisa dan tahu.
Memperhatikan fenomena ngobrol anak-anak kini saya seperti mengalami dejavu. Saat saya masih anak-anak sampai menjelang remaja terdapat beberapa pola bahasa lainnya yang juga biasa dipakai, bahasa BALIKAN diantaranya. Dulu pas SMA, teman-teman saya biasa sebut kata ‘balik’ dengan ‘labik’, ‘rokok’ sama dengan ‘kokor/korok’.
Di Jogja, Solo atau Malang juga dikenal dengan bahasa WALIKAN, kalau pernah ke Jogja mesti familier dengan istilah DHAB yang berarti Mas, DAGADU atau Matamu, PAHIN = APIK (bagus, cantik). Saya ingin menuliskan ini karena ‘khazanah berbahasa’ anak-anak muda itu menarik dan asyik. Sekarang mungkin lebih banyak lagi istilah dan bahasa-bahasa baru. Belum lagi istilah baru seperti Kuy, Santuy, Japri dan yang lainnya, gaya berbahasa anak gaul ini banyak yang bilang adalah bahasa ‘alay’. Apalagi tulisan-tulisan yang dipakai waktu chat, kalimat begini mungkin Anda contohnya: K4mU tuCH t4u 64k s1h N6omon6 4p4. Opo meneh kuwi???
Belum lagi gaya bahasa gaul anak muda seperti anak muda Jaksel yang campur-campur dengan Bahasa Inggris, contohnya , literally, guys, healing, mager, FYI, that’s why, ghosting, overthinking, discuss, yang banyak dipake dalam sisipan obrolan mereka sekarang. Makanya waktu ke Jakarta kalo ketemu saat meeting dengan teman-teman Gen Z saya konsultasi atau rakor kadang saya harus ekstra dengerin penyampaian mereka karena di forum resmi pun ada English-englishnya gitu. Hehehe..
Bahasa-bahasa ini melengkapi bahasa-bahasa lain yang sudah ada diantaranya adalah bahasa prokem, bahasa preman dan bahasa banci. Bahasa gaul bukanlah standar bahasa Indonesia yang baik dan benar, dan saya rasa trend pemakaian bahasa ini akan terus berkembang menyesuaikan zaman dan keadaan penggunanya. Tapi kalo kamu generasi old nggak tau istilah-istilah sekarang maka jangan jadi ‘FOMO’ dan bisa dipastikan kamu itu ‘kudet’.
Catatan:
°Datuk atau Yayik Dalam Bahasa Sumatra dan Lampung berarti kakek
°Dejavu, fenomena merasakan bahwa suatu peristiwa atau pengalaman yang saat ini sedang dialami sudah pernah dialami di masa lalu.
