Ketimpangan Ekosistem Literasi Kita

Oleh Eko Prasetyo Ketua FTBM Kabupaten Way Kanan.

Literasi pada pemahaman yang lebih komplek, bukan lagi soal membaca huruf, kata dan kalimat pada teks bacaan. Bukan lagi soal capaian prestasi individu seseorang dalam menerbitkan buku. Bukan lagi soal jumlah taman baca, perpustakaan dan relawan. Bukan lagi soal skor asesmen pada kemampuan siswa di sekolah. Akan tetapi literasi kita hari ini adalah bagiamana menjaga ekosistem dapat tetap berjalan dengan kesadaran dan pengaruh perilaku masyarakatnya.

Kita masih melihat praktik literasi di kelas sebagai bagian kompetensi akademik dengan tujuan akhir untuk mendapat standar nilai pada lembar rapor dan ijasah. Kelas pada jenjang sekolah menjadi tempat rutinitas siswa hanya untuk menggugurkan absensi. Tatkala ditemukan siswa dengan kemampuan membaca yang rendah, maka siswa disalahkan dan diberikan ‘hukuman’ dengan nilai kecil. Padahal kelas semestinya adalah ruang hidup bagi siswa untuk tumbuh dan berkembang dengan ragam kompetensi dan intelegensia yang variatif. Siswa harus diberikan keleluasaan dalam bertanya, mencari tahu, berekspresi atau bahkan mengkritik pada proses belajar. Belum lagi peran guru pada siklus belajar ini menjadi sosok super power yang tak terkalahkan dan tidak bisa dibantah yang sering menghantui siswanya dengan angka-angka nilai pada rapor. Ini sistem yang terlanjur sudah sejak lama berlaku dalam dunia pendidikan kita dengan aneka kurikulum yang terus berganti.

Pada sudut pandang guru, beban administrasi juga menjadi persoalan tersendiri karena harus patuh pada model silabus dan kaku mengikuti RPP yang dirancang mandiri. Belum lagi jobdesk yang tumpah tindih dalam struktur sekolah yang terkadang dilakukan demi memenuhi ‘standar ideal’ sekolah unggul dan demi prestige lainnya. Sepertinya hal seperti itu akan terus terjadi, entah sampai kapan. Ketersediaan buku bacaan bermutu juga ikut serta menjadi persoalan pada ekosistem literasi ini. Silakan bisa dicek, berapa persentase jumlah kunjungan siswa di perpustakaan yang ada di sekolahnya? Lihat juga berapa taman baca masyarakat yang memilki buku bermutu? Minimnya jumlah tersebut tidak lain karena akses buku yang tidak memenuhi kebutuhan bacaan siswa dan masyarakat. Jika dirunut pada akar masalah, maka akan ditemui alasan klise, yakni anggaran. Kalaupun bukan anggaran, maka alasan klise lainnya bangsa ini yakni korupsi.

Pada dimensi keluarga, kita juga belum sepenuhnya mampu mengikuti kebiasaan yang dilakukan Finlandia, Inggris dan negara-negara maju lainnya. Kebiasaan me-non aktif-kan penggunaan android/hp pada quality time bersama keluarga, membeli buku koleksi pribadi secara berkala, membaca buku secara kontinu, mengunjungi situs dan wahana edukatif dan sebagainya. Persoalan kesejahteraan ekonomi, kemiskinan ekstrim, konflik politik lokal, akses geogrfis, kesenjangan pemerataan pembangunan, habitually dan faktor lainnya jelas menjadi bagian yang tak terpisah pada pengaruh ekosistem ini.

Namun demikian, kita wajib memiliki dan terus menebar semangat optimisme bahwa tak ada yang tak mungkin. Kita berharap bahwa gerakan literasi kita terus beranjak pada kesadaran kolektif untuk meneruskan cita-cita perjuangan pendiri bangsa ini mencerdaskan kehidupan bangsa yang dimulai dari hal kecil dan dimulai dari diri sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *