Oleh Aan Frimadona Roza, Pengurus Korda ICMI Way Kanan Anggota Bidang Pendidikan dan SDM
Menjadi aparatur sipil negara (ASN), terutama seorang guru, bukan sekadar pekerjaan, tetapi panggilan jiwa. Puluhan tahun mengabdikan diri untuk mendidik, membimbing, dan melayani masyarakat bukanlah hal yang sederhana. Bagi mereka yang memasuki masa purna bakti, meninggalkan rutinitas yang telah dijalani bertahun-tahun adalah fase yang sulit sekaligus penuh makna.
Seringkali, purna bakti hanya dimaknai sebagai akhir dari pengabdian. Padahal sejatinya, momen tersebut adalah puncak penghormatan atas dedikasi dan loyalitas yang telah diberikan. Penghargaan terbaik bukanlah berupa materi semata, melainkan penghormatan yang tulus dan elegan. Penghormatan yang mengakui bahwa di balik berdirinya lembaga pendidikan dan pelayanan publik, ada kerja keras mereka yang mungkin tak selalu tampak, namun sangat berarti.
Sebagaimana kita menyambut ASN baru dengan penuh kebanggaan, seyogianya saat mereka memasuki masa purna bakti pun diberikan panggung kehormatan. Tidak sekadar acara seremonial, melainkan sebuah penghormatan yang benar-benar menempatkan mereka pada posisi terhormat.
Melayani dengan sepenuh hati adalah identitas seorang ASN. Maka ketika pengabdian itu usai, wajar bila mereka mendapatkan apresiasi yang tidak hanya simbolis. Sebuah penghormatan elegan adalah bentuk terindah dari rasa terima kasih bangsa. Boro-boro soal penghargaan materi, bagi mereka doa, pengakuan, dan penghormatan yang tulus jauh lebih berarti.
Purna bakti bukan akhir perjalanan, melainkan puncak pencapaian. Dan di titik itulah, negara, institusi, dan masyarakat semestinya hadir untuk menundukkan kepala, berterima kasih, serta memberi penghormatan setinggi-tingginya.
