Guru Bukan Beban, Melainkan Pilar Bangsa


Oleh Aan Frimadona Roza, Anggota PGRI Kabupaten Way Kanan


Kontroversi pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani yang menyebut guru sebagai “beban negara” sungguh menyisakan luka bagi saya sebagai seorang guru. Kalimat tersebut tidak sekadar sebuah ungkapan, melainkan mencerminkan cara pandang terhadap dunia pendidikan yang seakan menomorduakan peran guru dalam pembangunan bangsa.

Padahal, konstitusi kita sudah tegas mengamanatkan bahwa minimal 20 persen anggaran APBN dan APBD harus dialokasikan untuk pendidikan. Alokasi ini seharusnya berpihak pada tiga pilar utama: guru dan dosen, siswa dan mahasiswa, serta sarana pendidikan pendukung. Sayangnya, seperti disorot oleh Prof. Jimly Asshiddiqie, implementasi aturan ini sering kali menyimpang dari semangat awalnya.

Jika guru dipandang sebagai beban, bagaimana mungkin pendidikan bisa bermutu? Guru adalah pondasi utama yang menjaga keberlangsungan generasi bangsa. Tanpa kesejahteraan guru, mustahil ada kualitas pembelajaran yang baik. Kesejahteraan yang tidak adil membuat banyak guru bergulat dengan masalah ekonomi, alih-alih fokus pada pengabdian mendidik anak bangsa.

Cuitan Jimly yang viral di media sosial seolah menjadi “suara hati” banyak kalangan. Guru, dosen, bahkan orang tua siswa merasa bahwa arah kebijakan pendidikan kini semakin menjauh dari substansinya. Anggaran besar kerap diarahkan ke program-program populis seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) yang manfaatnya masih diperdebatkan, sementara kesejahteraan guru justru terpinggirkan.

Opini publik yang menguat belakangan ini adalah refleksi dari keprihatinan kolektif. Guru bukanlah beban, melainkan investasi jangka panjang bangsa. Jika guru disejahterakan, kualitas pembelajaran meningkat, anak-anak lebih terdidik dengan baik, dan pada akhirnya pembangunan nasional pun akan lebih kokoh.

Saya percaya, kritik publik ini semestinya menjadi momentum bagi pemerintah untuk menata ulang orientasi anggaran pendidikan. Jangan sampai konstitusi hanya berhenti sebagai angka di atas kertas, sementara guru yang menjadi garda terdepan justru terus dipandang sebelah mata.

Pernyataan bahwa guru adalah beban negara sejatinya bukan hanya keliru, melainkan berbahaya. Ia bisa melunturkan penghormatan publik kepada profesi mulia ini. Maka, mari kita tegaskan: guru bukan beban, guru adalah penentu masa depan bangsa.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *