Puisi Fitri Yani

Perangkap Ilusi

Malam berganti pagi
Kata-kata berkelebat
Bersandar di jendela

Cahaya pagi menyentuh
Wajah sungai
Pohon-pohon berderet
Dan berjajar

Sejak dua anakku datang
Jalanan membenam
Dan meninggi
Awan bergerak lebih pelan
Kota dan mimpi melambat
dengan sendiri
Dedaunan jatuh
di kedalaman bahasa
Menyendiri
Dari waktu ke waktu

Musim berganti dari pagi ke pagi
Tapi rindu masih serupa dulu
Lompatan kata-kata
sering kuajak nostalgia
Saat ada gerimis
Atau sehabis hujan
Saat anak-anakku menuju malam

Kini kata-kata itu susun-menyusun
Berbulir di jendela memantulkan
Cahaya warna-warni.

2022-2025


Benua Musim

Di beranda rumah itu
Aku membayangkan
Kita adalah keheningan

Kau di sampingku
Menjelma gelombang
Yang hendak menggapai tepian

Sementara orang-orang berjalan
Menempuh malam
Kemuning mekar di halaman

Selalu begini, sayangku
Dada kita kerap rapuh
Menyimpan masa lalu

Tapi kita selalu kembali
Ke gerbang subuh itu
Memeluk cahaya matahari
Yang tiada pernah sama

Kini, dada kita musim semi
Daun-daun bertunas
Embun bergulir
di kelopak-kelopak bunga.

Bandarlampung 15 Maret 2022


Samidare

Mendengarkan Elliot Tordo Erhu
Mengenangkan engkau
Di bawah cahaya pagi
Kilau embun di tangkai melati
Menguap dan tak akan kembali

Di sini, di rumah musim semi
Duduk di bangku kayu
Aku melupakanmu
Dengan segenap rasa pahit
Merelakan hangat dadamu
Yang di dalamnya
Dulu muara harapan

aku ingin percaya
setelah kututup jendela
Semesta tetap sama
Perjumpaan kehilangan
Sekedar ilusi
Terbit terbenamnya matahari


Maret 2022
*Early summer rain, judul gubahan Elliot Tordo Erhu.


Ilusi Waktu

Waktu yang membeku
adalah debar di dada
saat berjumpa
kekasih lama

Kita memastikan cuaca
tergesa membuka peta
mencari-cari nama kota
yang belum didatangi
Harum bunga
menguar samar
dari balik jendela

Apa yang dinanti?
usia mencengkram
masa muda
labirin sungai
tak henti
mencari muara

Hidup berulang memberi tafsir
Tiada yang menetap
Matahari berputar
Semesta mengambang
Pada jeda nafasmu.

Maret 2022


Fitri Yani adalah salah satu penyair penting dari Lampung yang lahir 1986 di Liwa. Karya puisinya Suluh membuatnya meraih penghargaan sastra bergengsi Rancage Award. Ia konsisten menulis dalam bahasa Lampung dan memadukan budaya lokal dengan ekspresi universal dalam puisi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *