Oleh: Aan Frimadona Roza, Guru di SMPN 7 Banjit dan bergiat di Rumah Baca Yussuf Baradatu.
Awal mula saya mencintai dunia tulis-menulis bukan dari ruang kuliah, melainkan dari ruang kesenian. Tahun 2003, saya aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni (UKM BS) Universitas Lampung — sebuah wadah tempat kami para mahasiswa mengekspresikan diri melalui sastra, teater, musik, dan tari. Di situlah, tanpa saya sadari, benih literasi, kepemimpinan, dan komunikasi mulai tumbuh kuat dalam diri saya.
Tugas saya kala itu bukan sekadar membantu produksi pertunjukan. Saya bertanggung jawab memastikan kegiatan seni kami bisa berjalan dengan dukungan dana yang cukup. Bersama tim, saya menyusun proposal demi proposal untuk diajukan ke pemerintah daerah dan perusahaan-perusahaan di Lampung. Saya belajar bahwa menggerakkan kegiatan seni bukan hanya tentang kreatifitas di panggung, tapi juga soal keterampilan membangun jejaring, meyakinkan orang, dan menulis dengan tujuan.
Namun, ada satu tugas yang paling berkesan: menulis rilis kegiatan dan mengirimkannya ke media cetak.
Zaman itu, ponsel masih langka dan komputer belum seperti sekarang—masih berbentuk besar dan berat. Tapi semangat saya tak kalah besar. Saya terbiasa datang ke kantor SKH Lampung Post atau Radar Lampung, membawa selembar kertas berisi rilis berita yang saya ketik sendiri. Tak jarang, saya duduk di ruang pemberitaan, mengetik langsung di komputer redaksi agar berita kegiatan kami bisa dimuat keesokan harinya.
Rasa bangga saat melihat nama kegiatan kami terpampang di halaman surat kabar tidak tergantikan. Lebih dari itu, saya mulai memahami makna dari menulis sebagai bentuk eksistensi dan kontribusi. Bahwa tulisan mampu memperluas jangkauan sebuah ide, membuat peristiwa kecil di kampus bisa dikenal luas, dan memberi inspirasi bagi orang lain.
Kini, setelah lebih dari dua dekade berlalu, saya masih membawa semangat itu. Bedanya, panggung saya bukan lagi di teater kampus, melainkan di Perpustakaan Rumah Baca Yussuf, Baradatu, Kabupaten Way Kanan. Di tempat ini, saya kembali berjuang — bukan lagi mencari dana untuk pementasan, melainkan menyalakan api literasi di tengah masyarakat.
Dari kebiasaan membuat rilis sederhana di masa kuliah, saya belajar arti penting disiplin menulis, komunikasi publik, dan kepekaan sosial. Nilai-nilai itu kini menjadi fondasi dalam kegiatan literasi dan pemberdayaan masyarakat yang saya jalankan.
Menulis telah membawa saya memahami banyak hal — tentang kerja keras, jejaring, empati, dan tanggung jawab. Apa yang dulu sekadar tugas dari senior, kini berubah menjadi panggilan hidup: mendokumentasikan, menginspirasi, dan menggerakkan.
Karena pada akhirnya, setiap baris tulisan adalah jejak perjalanan.
Dan bagi saya, perjalanan itu dimulai dari sebuah ruang kecil di UKM Seni, Universitas Lampung — ruang tempat saya belajar bahwa kata-kata bisa menjadi nyala yang menuntun perubahan.
