Strategi Mencegah Stunting Untuk Generasi Cerdas dan Berkualitas

Oleh Mujiatun, S.Pd.
(Guru Bahasa Indonesia UPT SMPN 2 Banjit)

Masalah stunting saat ini menjadi perbincangan serius di negeri kita. Bahkan diangkat menjadi salah satu topik dalam kegiatan “Debat Capres dan Cawapres” beberapa waktu yang lalu. Hal ini tentu saja karena masalah tersebut sangat berpengaruh negatif terhadap kualitas masyarakat Indonesia. Tidak hanya mengganggu pertumbuhan fisik, anak-anak juga mengalami gangguan perkembangan mental yang akan mempengaruhi kemampuan dan prestasi mereka di masa yang akan datang. 

Selain itu, anak yang menderita stunting akan memiliki riwayat kesehatan yang buruk karena daya tahan tubuh yang juga buruk. Sebagaimana dijelaskan oleh pihak Kementrian Kesehatan Republik Indonesia beberapa waktu yang lalu, bahwa stunting dapat menurunkan kualitas generasi berikutnya bila tidak ditangani dengan serius sejak dini.

Mengingat begitu pentingnya untuk segera menangani masalah stunting, maka perlu adanya tindakan-tindakan nyata sebagai strategi untuk mencegah dan mengatasinya. Baik oleh pihak pemerintah ataupun secara pribadi oleh orang tua dan keluarga sebagai pilar utama di dalam mengatasi permasalahan stunting. Berikut beberapa strategi untuk mengatasi permasalahn tersebut yang dihimpun dari berbagai sumber. Sebelum membahas strategi satu per satu, akan dibahas terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan stunting, apa gejalanya, apa saja faktor penyebabnya, dan bagaimana strategi untuk mengatasinya.

1. Apa yang Dimaksud dengan Stunting?
Stunting adalah masalah gizi kronis akibat kurangnya asupan gizi dalam jangka waktu Panjang. Sehingga pertumbuhan fisik maupun mental anak menjadi terganggu. Pertumbuhan anak-anak yang mengalami stunting tidak sesuia dengan usianya.
Sebagian masyarakat menganggap kondisi tersebut merupakan faktor genetika dan tidak ada hubungannya dengan masalah kesehatan. Faktanya, faktor genetika memiliki pengaruh kecil terhadap kondisi kesehatan seseorang dibandingkan dengan faktor lingkungan dan pelayanan kesehatan. Biasanya stunting mulai terjadi saat anak masih berada dalam kandungan dan terlihat saat mereka memasuki usia dua tahun. 

2. Apa Saja Gejala Stunting?
a. Wajah tampak lebih muda dari anak seusianya,
b. Pertumbuhan tubuh dan gigi yang terlambat,
c. Memiliki kemampuan fokus dan memori belajar yang buruk,
d. Pubertas yang lambat,
e. Saat menginjak usia 8-10 tahun, anak cenderung lebih pendiam dan tidak banyak melakukan kontak mata dengan orang di sekitarnya,
f. Berat badan lebih ringan untuk anak seusianya.

3. Faktor-faktor Penyebab Stunting
Mengingat stunting merupakan salah satu masalah kesehatan yang cukup membahayakan, maka masyarakat perlu memahami faktor penyebab stunting. Dengan demikian, masyarakat bisa melakukan langkah-langkah preventif untuk menghindarinya. Berikut beberapa faktor penyebab stunting.

a. Kurang Gizi dalam Waktu Lama
Penyebab stunting pada dasarnya sudah bisa terjadi sejak anak berada di dalam kandungan. Sejak di dalam kandungan, anak bisa jadi mengalami masalah kurang gizi. Penyebabnya adalah karena sang ibu kurang asupan makanan sehat dan bergizi. Sehingga janin pun kekurangan nutrisi. Kekurangan gizi sejak dalam kandungan inilah yang menjadi penyebab terbesar kondisi  stunting pada anak.

b. Pola Asuh Kurang Efektif
Pola asuh yang kurang efektif juga menjadi salah satu penyebab  stunting 
pada anak. Pola asuh di sini berkaitan dengan perilaku dan praktik memberikan makanan kepada anak. Bila orang tua tidak memberikan asupan gizi yang baik, maka anak bisa mengalami stunting. Selain itu, faktor ibu yang masa remaja dan kehamilannya kurang nutrisi serta masa laktasi yang kurang baik juga dapat mempengaruhi pertumbuhan anak.

c. Pola Makan Kurang Sehat
Rendahnya akses terhadap makanan dengan nilai gizi tinggi serta menu makanan yang tidak seimbang dapat mempengaruhi pertumbuhan anak dan meningkatkan risiko  stunting. Hal ini dikarenakan ibu kurang memahami tentang konsep gizi sebelum, saat, dan setelah melahirkan.

d. Tidak Melakukan Perawatan Pascamelahirkan
Setelah bayi lahir, sebaiknya ibu dan bayi menerima perawatan pascamelahirkan. Sangat dianjurkan juga bagi bayi untuk langsung menerima asupan ASI agar dapat memperkuat sistem imunitasnya. Perawatan pascamelahirkan dianggap perlu untuk mendeteksi gangguan yang mungkin dialami ibu dan anak pascapersalinan.

e. Gangguan Mental dan Hipertensi Pada Ibu
Pola asuh yang kurang efektif juga menjadi salah satu penyebab stunting pada anak. Pola asuh di sini berkaitan dengan perilaku dan praktik memberikan makanan kepada anak. Bila orang tua tidak memberikan asupan gizi yang baik, maka anak bisa mengalami stunting. Selain itu, faktor ibu yang masa remaja dan kehamilannya kurang nutrisi serta masa laktasi yang kurang baik juga dapat mempengaruhi pertumbuhan fisik dan daya pikir pada anak.

f. Sakit Infeksi yang Berulang
Sakit infeksi yang berulang pada anak disebabkan oleh sistem imunitas tubuh yang tidak bekerja secara maksimal. Ketika imunitas tubuh anak tidak berfungsi dengan baik, maka risiko terkena berbagai jenis gangguan kesehatan termasuk  stunting menjadi lebih tinggi.  Karena stunting adalah penyakit yang rentan menyerang anak-anak, ada baiknya masyarakat selalu memastikan imunitas anak-anak tetap terjaga sehingga terhindar dari berbagai infeksi.

g. Sanitasi Kurang Baik
Sanitasi yang buruk serta keterbatasan akses pada air bersih akan mempertinggi risiko  stunting  pada anak. Bila anak tumbuh di lingkungan dengan sanitasi dan kondisi udara yang tidak layak, hal ini dapat mempengaruhi pertumbuhannya. Rendahnya akses terhadap pelayanan kesehatan juga merupakan salah satu faktor penyebab stunting.

  1. Strategi Mengatasi Stunting
    Menyadari bahwa stunting  adalah masalah kesehatan yang berisiko tinggi dan dapat mempengaruhi pertumbuhan anak hingga dewasa, tentu sangatlah perlu memperkenalkan berbagai usaha pencegahannya kepada masyarakat. Berikut beberapa tindakan preventif yang dapat dilakukan untuk mencegah  stunting. Tindakan pencegahan ini sebaiknya dilakukan sebelum, saat, dan sesudah masa kehamilan.

a. Pahami Konsep Gizi
Pastikan ibu-ibu mendapatkan asupan gizi yang cukup setiap hari, terutama saat masa kehamilan. Pahami konsep gizi dengan baik dan diterapkan dalam pola asuh anak.

b. Pilihan Menu Beragam
Upayakan untuk selalu memberi menu makanan yang beragam untuk anak. Jangan lupakan faktor gizi dan nutrisi yang dibutuhkan mereka setiap hari. Saat masa kehamilan dan setelahnya, ibu pun perlu mendapatkan gizi yang baik dan seimbang agar dapat menghindari masalah stunting.

c. Pemeriksaan Rutin
Selama masa kehamilan, ibu perlu melakukan  checkup  atau pemeriksaan rutin untuk memastikan berat badan sesuai dengan usia kehamilan. Ibu hamil juga tidak boleh mengalami anemia atau kekurangan darah karena akan mempengaruhi janin dalam kandungan. Kontrol tekanan darah ini bisa dilakukan saat  checkup  rutin.

d. Pentingnya Air Susu Ibu (ASI)
Air susu ibu (ASI) mengandung banyak nutrisi baik yang dapat menunjang pertumbuhan anak. Di dalam ASI, terdapat zat yang dapat membangun sistem kekebalan tubuh anak sehingga menjauhkan mereka dari berbagai masalah kesehatan, salah satunya adalah stunting.

e. Pentingnya Konsumsi Asam Folat
Asam folat berperan penting untuk mendukung perkembangan otak dan sumsum tulang belakang bayi. Zat ini juga dapat mengurangi risiko gangguan kehamilan hingga 72%. Dengan asupan asam folat, kegagalan perkembangan organ bayi selama masa kehamilan juga bisa dicegah.

f. Peningkatan Kebersihan/Sanitasi
Tidak bisa disangkal lagi bahwa faktor kebersihan ini merupakan penyumbang terbesar di dalam kualitas kesehatan tubuh. Oleh sebab itu, tidak bisa ditawar lagi, jika mengharapkan anak-anak tumbuh sehat fisik dan mental, maka masyarakat harus meningkatkan kebersihan. Baik kebersihan diri maupun lingkungan di sekitar. Dengan demikian, anak-anak akan terhindar dari berbagai penyakit, termasuk stunting.

Demikian beberapa strategi yang dapat dilakukan oleh pemerintah maupun keluarga di dalam mengatasi masalah stunting yang akhir-akhir ini cukup meresahkan masyarakat. Sudah banyak upaya yang dilakukan oleh pemerintah dalam hal ini. Akan tetapi, yang paling penting adalah kesadaran dari masyarakat sendiri untuk melakukan tindakan-tindakan preventif yang dapat dilakukan sebagai strategi dalam mencegah stunting untuk mewujudkan generasi Indonesia yang cerdas dan berkualitas. Hanya dengan kondisi sehat jasmani dan rohanilah, anak-anak Indonesia akan tumbuh menjadi generasi penerus bangsa yang cerdas dan berkualitas sebagaimana harapan bangsa dan negara Indonesia.

Sumber Referensi
1.https://dinaspmd.wonogirikab.go.id/2023/10/09/program-pencegahan-dan- penanggulangan-stunting-terintegrasi/
2.https://hellosehat.com/parenting/kesehatan-anak/penyakit-pada-anak/stunting/
3.https://johorejo.desa.id/kabardetail/eHVxOFV1VTM4eXN5VTgzaDBTbHZWdz09/10-kegiatan-di-desa-untuk-pencegahan-stunting.html
4.https://www.djkn.kemenkeu.go.id/kpknl-pontianak/baca-artikel/16261/Permasalahan-Stunting-di-Indonesia-dan-Penyelesaiannya.html
5.https://humbanghasundutankab.go.id/main/index.php/read/news/828
6.https://biroadpim.lampungprov.go.id/detail-post/aksi-konvergensi-penurunan-stunting-kabupaten-kota-2023-gubernur-arinal-stunting-turun-rakyat-berjaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *