Renungan Jiwa di Tengah Musibah

Oleh Effendy Akmal, Purnabakti ASN tinggal di Kampung Tiuh Balak Kecamatan Baradatu

اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ

“Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn”
(sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali)” (QS. Al-Baqarah [2]:156)

Musibah datang tanpa permisi. Ia mengetuk pintu kehidupan siapa pun — miskin atau kaya, taat atau lalai. Namun Allah mengajarkan satu kalimat yang menguatkan hati orang beriman saat tertimpa ujian:
“Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.”
Ucapan ini bukan sekadar lafaz, tapi pernyataan iman yang dalam — bahwa hidup dan semua yang kita miliki hanyalah titipan. Ketika diambil, kita kembali kepada pemilik sejati: Allah.

Dalam lanjutan ayatnya, Allah berfirman
اُولٰۤىِٕكَ عَلَيْهِمْ صَلَوٰتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌۗ
وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ
“Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. Al-Baqarah: 157)

Rasulullah SAW bersabda:
“Tidaklah seorang hamba tertimpa musibah lalu ia mengucapkan:
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ،
اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي، وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا
(sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali.Ya Allah, berilah aku pahala dalam musibahku ini dan gantilah untukku yang lebih baik darinya ),
إِلاَّ أَجَرَهُ اللَّهُ فِي مُصِيبَتِهِ وَأَخْلَفَ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا
melainkan Allah akan memberinya pahala dalam musibahnya dan menggantinya dengan yang lebih baik darinya.” (HR. Muslim, no. 918)

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah berkata:
“Orang yang mengenal hakikat dunia tidak akan terlalu bersedih dengan kehilangan, karena ia tahu bahwa dunia ini bukan tempat tinggal abadi, tapi tempat ujian dan peralihan.”

Maka saat musibah menimpa, jangan hanya fokus pada luka. Fokuslah pada kesempatan mendekat kepada Allah, merendahkan hati, dan memperbaharui iman.

Renungkanlah…

  • Apakah kita selama ini terlalu bergantung pada dunia?
  • Sudahkah kita siap untuk kembali kepada Allah, kapan pun Dia memanggil?
  • Apakah musibah ini justru menjadi jalan rahmat agar kita kembali pada-Nya?

Terkadang, musibah adalah bentuk cinta Allah. Ia memanggil kita pulang — bukan secara jasad, tapi secara hati dan jiwa.

“Sesungguhnya hati yang dekat dengan Allah akan tenang meski dunia terasa sempit.”
Mari jadikan musibah bukan akhir dari segalanya, tapi awal dari kembalinya jiwa kepada Rabb-nya.

Baradatu, 19 Dzulhijjah 1446H/15 Juni 2025.

Sumber: dimodifikasi dari chatGPT, Muallim_Islam_Pro, Qur’an Kemenag Android

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *