Di jantung Kecamatan Baradatu, Kabupaten Way Kanan, berdiri kokoh sebuah monumen bersejarah yang telah menjadi ikon bagi masyarakat setempat: Tugu Perahu, atau yang kerap disebut Tugu Tani. Lebih dari sekadar penanda jalan atau hiasan kota, tugu ini menyimpan makna mendalam tentang sejarah perjuangan dan jati diri rakyat Way Kanan, khususnya para petani yang menjadi tulang punggung pembangunan daerah.
Tugu Perahu Baradatu merupakan simbol perjuangan dan semangat petani Way Kanan sejak tahun 1961. Melambangkan kerja keras, gotong royong, dan identitas masyarakat Baradatu sekaligis menjaga dan merawat warisan sejarah. Tugu Perahu Baradatu dibangun oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Way Kanan dalam semangat membangun identitas lokal pasca-kemerdekaan. Meski tidak tercatat secara resmi dalam dokumen negara, sejarah lisan dari masyarakat dan tokoh setempat menyebutkan bahwa tugu ini dibangun untuk menghormati semangat juang para petani dan veteran yang berjasa dalam masa transisi kemerdekaan Indonesia, khususnya di wilayah Lampung bagian utara.
Tampak pada tugu ini sepasang patung petani laki-laki dan perempuan berdiri di atas perahu, menggambarkan harmonisasi kerja antara laki-laki dan perempuan dalam mengolah lahan dan mempertahankan kehidupan. Perahu sendiri menjadi simbol perjalanan, ketahanan, dan harapan — mencerminkan bagaimana masyarakat Way Kanan berlayar dalam sejarah, menghadapi tantangan zaman dengan daya juang yang kuat.
Selama bertahun-tahun, Tugu Perahu telah mengalami beberapa proses pemugaran dan perawatan. Pada tahun 2019, tugu ini dicat ulang dan dilengkapi dengan taman kecil, menciptakan ruang publik yang nyaman bagi masyarakat. Kemudian pada Juli 2025, pemerintah kecamatan kembali melakukan perawatan dan pelurusan tugu, sebagai bagian dari program penataan wajah kota Baradatu.
Kini, Tugu Perahu tidak hanya menjadi pengingat sejarah, tetapi juga titik temu sosial, tempat anak-anak bermain, pedagang berjualan, dan warga bersantai di sela aktivitas mereka.
Tugu ini bukan sekedar Monumen tapi mengingatkan kita bahwa pembangunan bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga tentang menghargai nilai-nilai budaya dan sejarah lokal. Ia berdiri sebagai penjaga memori kolektif, simbol ketekunan dan semangat rakyat Baradatu yang sejak lama mengakar pada dunia pertanian dan nilai gotong royong.
Di era modern ini, keberadaan Tugu Perahu menjadi peluang untuk memperkuat identitas lokal dan pariwisata budaya, serta menjadi bagian dari narasi pendidikan sejarah yang kontekstual bagi generasi muda.
Tugu Perahu Baradatu bukanlah sekadar batu dan semen yang dibentuk menjadi patung. Ia adalah simbol kehidupan, perjuangan, dan harapan masyarakat Way Kanan. Di balik ketenangannya, ia berbicara tentang masa lalu yang patut dikenang dan masa depan yang layak diperjuangkan.
“Baradatu dan Tugu Perahunya: Identitas yang Terjaga”
