Rosmalia Resma, Pengelola Rumah Baca Yussuf Jl. Arjuna, Dusun Pekalongan, Kampung Bhakti Negara, Baradatu
Setiap anak adalah kertas putih yang siap diisi dengan warna-warni masa depan. Hari Anak Nasional bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi momentum untuk merenungi kembali: sudah sejauh mana kita menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan fisik, mental, dan intelektual anak-anak kita?
Di tengah gempuran arus digital, budaya membaca semakin tergerus. Anak-anak lebih akrab dengan gawai daripada halaman buku. Di sinilah Taman Bacaan Masyarakat (TBM) dan rumah baca seperti Rumah Baca Yussuf hadir — menjadi oase kecil yang berusaha menjaga asa pendidikan di tengah keterbatasan.
Kami percaya, literasi bukan hanya soal bisa membaca, tapi juga soal kemampuan berpikir kritis, berempati, dan mengenal dunia. Melalui buku-buku cerita, dongeng lokal, hingga diskusi kecil, anak-anak dibiasakan untuk berani bermimpi dan berpikir mandiri.
Namun, perjuangan ini bukan tanpa tantangan. Masih banyak anak-anak yang tidak memiliki akses buku, tempat belajar yang layak, apalagi pendampingan belajar di rumah. Maka, peringatan Hari Anak Nasional adalah alarm bagi kita semua — bahwa anak-anak bukan hanya tanggung jawab orang tua atau guru, tetapi seluruh elemen masyarakat.
Mari kita kembalikan hak anak untuk bermain, belajar, bertanya, dan tumbuh dalam kasih sayang. Karena anak-anak bukan sekadar harapan masa depan — mereka adalah masa kini yang harus dilindungi, dididik, dan dihargai.
Selamat Hari Anak Nasional 2025.
Dari pojok sederhana Rumah Baca Yussuf, kami titip harapan:
Jangan biarkan satu anak pun kehilangan akses untuk bermimpi.
