Puisi Siswa SMPN 7 Banjit

1.Karya : Nasywa Lutfianingsih
Kelas: IX B UPT SMPN 7 Banjit

” Senyum Di Balik Kesakitan “

Di lorong sekolah yang sunyi
Ada suara bisikan yang sangat menusuk hati
Kata kata pedas yang menghujani
Membuat jiwa kecil merasa tak berati

Tangan tangan yang seharusnya melindungi
Justru menjadi alat untuk menyakiti
Senyum senyum palsu
yang menyembunyikan rasa sakit

Di balik semua itu
Ada kekuatan, ketangguhan yang tak terlihat
Jiwa yang kuat dan tak pernah menyerah
Mampu melawan semua kesakitan

Jangan biarkan kata kata kebencian, yang menyayat hatimu
Menghancurkan dirimu
Karena kamu lebih baik dari apa yang mereka katakan
Kamu kuat, kamu hebat kamu berharga, kamu berarti


2.Karya : Nindi Livia L Sari Kelas: VIII A

UPT SMPN 7 Banjit


Orang Tua Kedua di Sekolah


Di balik gerbang sekolah yang ramai,
Tersimpan cinta yang tak pernah usai.
Ada sosok sederhana, namun luar biasa,
Dialah guru — orang tua kedua di sana.

Setiap pagi menyambut senyum kami,
Dengan sabar, menyapa satu demi satu hati.
Meski lelah kadang menghampiri,
Ia tetap hadir, membawa semangat yang tak terganti.


Ia tahu saat kami bersedih,
Dan paham saat kami sembunyikan letih.
Dengan tatapan teduh penuh pengertian,
Ia hadir sebagai pelindung dan harapan.

Buku dan pena jadi senjatanya,
Ilmu dan doa bekalnya setiap masa.
Ia bukan hanya pengajar di depan kelas,
Tapi pelita yang menerangi jalan yang terasa lepas.

Kami mungkin sering lupa berterima kasih,
Namun jasa dan cintamu takkan pernah bersisih.
Karena engkaulah yang menemani langkah awal kami,
Mendorong kami terbang, meraih mimpi setinggi langit bumi.

Wahai guru, orang tua kedua kami tercinta,
Terima kasih atas segalanya.
Semoga Tuhan membalas segala lelah dan bakti,
Dengan bahagia, kesehatan, dan cinta abadi.



3.Karya: Astrid Safa Wulan Cahya Kelas : VIII B UPT SMPN 7 Banjit

Tanah Ini Merah Oleh Namamu

Di tanah yang kini kita injak,
ada darah yang tak pernah kering.
Darah pahlawan yang gugur
agar kita bisa tertawa di pagi yang tenang.

Mereka pergi tanpa pamit,
meninggalkan rumah yang tak akan melihat mereka pulang.
Tak ada bendera di tangan mereka,
hanya senjata tua dan doa yang tak pernah putus.

Di dadanya, tersimpan nama ibu,
di matanya, terbayang wajah anak yang belum sempat digendong.
Namun langkahnya tak mundur,
meski peluru menjemput di ujung jalan.

Pahlawan, maafkan kami
jika kemerdekaan ini belum seindah yang kau impikan.
Tapi setiap 17 Agustus,
kami berdiri menunduk,
mengingat bahwa napas kami hari ini
adalah hadiah dari napas terakhirmu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *