Hikayat Gangsa dan Putri Malu: Cerita Kepahlawanan dari Tanah Way Kanan

Oleh: Tim Website RBY Baradatu Way Kanan

Baradatu, 11 Oktober 2025. Dari tanah subur dan berbudaya di ujung utara Lampung, sebuah kisah lama kembali dihidupkan. Adalah “Hikayat Gangsa dan Putri Malu”, karya Sarippudin, seorang Widya Swara Pemerintah Kabupaten Way Kanan, yang menuturkan legenda kepahlawanan dan cinta dalam balutan nilai-nilai luhur masyarakat Way Kanan.

Hikayat ini berkisah tentang Gangsa, seorang anak yatim yang dibesarkan di sebuah perguruan silat milik kakeknya. Sejak kecil, Gangsa tumbuh dalam disiplin, keteguhan hati, dan ajaran untuk menegakkan kebenaran. Dari perguruan itu pula, ia belajar bukan hanya tentang jurus dan kesaktian, tetapi juga tentang budi pekerti dan kerendahan hati.

Suatu hari, kabar datang dari Negeri Banjit, Negeri yang tengah dilanda kekacauan akibat serangan belasan raksasa jahat. Gangsa, dengan tekad dan keberaniannya, memutuskan untuk berangkat sendiri menghadapi ancaman itu. Pertempuran besar pun terjadi. Dengan kesaktian dan keteguhan niatnya, Gangsa berhasil melumpuhkan para raksasa yang mengacau negeri Banjit.

Atas jasa dan kebijaksanaannya, Raja Banjit mengangkat Gangsa menjadi Pangeran, gelar yang tidak hanya mencerminkan keberanian, tetapi juga keutamaan budi. Dikenal sebagai Pangeran Gangsa, ia tetap rendah hati, santun, dan hormat kepada siapa pun, membuat rakyat semakin mencintainya.

Kabar ketampanan dan kebijaksanaan Pangeran Gangsa pun sampai ke telinga Putri Malu, putri Raja Banjit. Hati sang putri perlahan terpikat oleh sikap lembut sang pahlawan. Cinta tumbuh di antara keduanya, bukan karena kekuasaan, melainkan karena kesucian hati dan keagungan perilaku.

Dalam kelanjutan kisahnya, Gangsa kemudian dipercaya menjadi Raja Kasui, melanjutkan kepemimpinan dengan adil dan arif, sementara Putri Malu menjadi pendamping setia. Mereka menjadi simbol kasih, keberanian, dan kebajikan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat Way Kanan hingga kini.

Melalui karya ini, Sarippudin berusaha menggali kembali kekayaan cerita lokal Way Kanan yang sarat pesan moral. Hikayat Gangsa dan Putri Malu bukan hanya cerita legenda, melainkan cermin kebudayaan dan karakter luhur masyarakat Way Kanan: berani, sopan, setia, dan berjiwa pemimpin.

Cerita ini di tulis untuk menghidupkan kembali warisan lisan yang hampir hilang, agar generasi muda Way Kanan tahu bahwa tanah mereka kaya akan kisah yang mengajarkan nilai-nilai kehidupan.

Hikayat ini kini menjadi bagian dari upaya literasi budaya lokal, memperkuat identitas daerah, sekaligus memperindah khazanah sastra Lampung, khususnya Way Kanan — tanah yang tak hanya melahirkan pahlawan sejati, tetapi juga cinta yang tumbuh dalam keheningan dan kesederhanaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *