Oleh: Aan Frimadona Roza, Anggota Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) IPS SMP di Kabupaten Way Kanan
Sebelum hiruk pikuk kendaraan melintasi jalanan Baradatu, denyut kehidupan di kawasan ini berirama di tepian Way Besay. Di sanalah, Tiuh Balak Lama berdiri, sebuah kampung tua yang menjadi pusat peradaban masyarakat adat Lampung. Sungai bukan hanya sumber air, tetapi juga saksi bisu ritual dan tradisi yang mengakar kuat.
Namun, tahun 1961 membawa perubahan besar. Program transmigrasi pemerintah membuka lembaran baru bagi Baradatu, dengan kedatangan ribuan penduduk dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Mereka membuka lahan baru, membangun permukiman, dan mengubah lanskap sekitar Way Besay.
Perpindahan Tiuh Balak Lama ke Tiuh Balak Pasar bukan sekadar relokasi fisik, tetapi juga transformasi budaya. Masyarakat adat beradaptasi dengan pembangunan jalan lintas Sumatra yang membuka akses ekonomi baru. Mereka membangun pasar, rumah ibadah, dan memindahkan balai adat ke sekitar jalan, meninggalkan tepian sungai yang dulu menjadi pusat kehidupan.
Pertemuan antara masyarakat Lampung dan para transmigran Jawa melahirkan perpaduan budaya yang unik. Bahasa, tradisi gotong royong, arsitektur rumah, hingga ritual pertanian, semuanya berbaur menciptakan identitas baru bagi Tiuh Balak.
Kini, Tiuh Balak Pasar menjadi pusat ekonomi dan pemerintahan Kecamatan Baradatu. Jejak masa lalu masih terasa, dengan sebutan “Kampung 61” yang mengingatkan pada sejarah transmigrasi. Namun, sungai Way Besay tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas mereka.
Kisah Tiuh Balak adalah cermin bagaimana sebuah komunitas mampu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri. Perpindahan dari sungai ke jalan adalah metafora tentang bagaimana masyarakat Tiuh Balak terus bergerak maju, merangkul modernitas, sambil tetap memegang teguh nilai-nilai luhur budaya mereka.
“Dulu kami hidup di pinggir Way Besay, sekarang kami hidup di pinggir jalan besar. Tapi sungai itu tetap di hati kami,” begitulah ungkapan seorang warga Tiuh Balak yang menggambarkan perjalanan panjang kampung mereka.
Dari Way Besay yang tenang hingga jalan lintas yang ramai, Tiuh Balak adalah bukti bahwa perpindahan tidak harus memutus sejarah, tetapi justru dapat menyambungnya menjadi kisah yang lebih kaya dan bermakna.
