Dari Pakaian ke Sayuran: Kisah IBR Bertahan di Tengah Gempuran Jualan Online

Baradatu, 9 November 2025. Setiap pagi, sebelum matahari terbit, suara sepeda motor tua milik IBR terdengar di jalanan menuju Pasar Pagi Baradatu. Di keranjang motornya kini tak lagi tergantung baju-baju berwarna-warni seperti dulu, melainkan sayuran segar hasil panen petani lokal: bayam, kangkung, tomat, cabai, dan terong.

Lebih dari sepuluh tahun, IBR menggantungkan hidupnya dari berdagang pakaian keliling. Dengan sabar ia menjajakan dagangannya dari kampung ke kampung di wilayah Baradatu dan Gunung Labuhan. Namun, roda zaman berputar cepat. “Sekarang orang tinggal klik di HP, baju langsung datang. Lengkap, banyak pilihan, dan harganya juga pas di kantong,” ujarnya lirih sambil menata sayuran di lapaknya.

Perubahan besar itu terjadi sejak maraknya perdagangan online. Platform digital menawarkan kemudahan yang sulit disaingi oleh pedagang kecil. IBR mengaku, usahanya perlahan merugi hingga akhirnya harus gulung tikar. “Kami tidak berdaya. Pembeli banyak beralih ke jualan online. Kalau kami terus memaksa jualan pakaian, habis modalnya,” katanya.

Namun, menyerah bukan pilihan bagi IBR. Dalam dua tahun terakhir, ia mencoba peruntungan baru: berdagang sayur mayur. Setiap sore ia membeli hasil panen langsung dari petani sekitar. Dini hari, sebelum fajar menyingsing, ia sudah siap berangkat ke pasar membawa dagangannya.
“Alhamdulillah, meskipun tak sebesar dulu, tapi cukup untuk makan, bayar sekolah anak, dan kebutuhan sehari-hari,” ujarnya sambil tersenyum.

Kisah IBR menjadi potret nyata perubahan ekonomi masyarakat kecil di era digital. Di balik kemudahan teknologi, ada banyak pedagang tradisional yang harus berjuang menyesuaikan diri, mencari celah agar tetap bertahan hidup.
“Yang penting halal dan bisa bertahan. Saya tak malu jual sayur, karena dari sinilah rezeki kami sekarang,” tutup IBR.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *