Cerpen Yulizar Lubay
Semua terjadi di luar kendali Soleman Jangkung. Mungkin ia baru sadar bahwa tak semua peristiwa bisa dimengerti dan cepat dimaknai. Mungkin ia pun baru sadar bahwa ia tak tahu apa-apa tentang dunia ini. Tak tahu dan tak kunjung mengenali dirinya sendiri.
Hal itu terbukti pada suatu malam ketika tubuh dan napas Soleman Jangkung berhenti mendadak saat melihat lelaki tua bersayap abu-abu jatuh ke lantai dapurnya. Lelaki tua itu tergeletak sambil merintih pilu. Pecahan genting dan patahan kayu menimpa sebagian tubuhnya yang terluka. Dari luka-lukanya, mengalir cairan biru muda bercahaya yang beraroma gaharu.
Mungkin malam itu Soleman Jangkung sempat berpikir bahwa dirinya sedang mengigau. Ia mencubit pipi, lalu menampar wajahnya. Ia mengaduh karena masih bisa merasakan sakit.
Begitulah, peristiwa itu terjadi beberapa bulan lalu, saat riuh hujan deras tak mampu mengalahkan suara genting pecah diikuti debuman keras dari arah dapur rumah bata warisan orang tua Soleman Jangkung. Rumah bata yang letaknya di tengah-tengah kebun kopi.
Mendengar suara ganjil itu, Soleman Jangkung langsung lompat dari ranjang, membuka pintu kamar, dan lekas lari memeriksa keadaan di tempat kejadian.
Air hujan menyerbu lewat lubang atap dapurnya. “Kamu …” Ia menelan ludah. “Siapa kamu?” katanya setelah dicekam hujan lokal dan satu kenyataan di luar nalar.
“Teman Izrail … Asisten 3 …” katanya agak terbata. Sepasang matanya biru bening menyala. Wajahnya kuning gading gajah Sumatra.
Soleman Jangkung kaget dengan mulut ternganga. Kumis dan jenggotnya yang tipis dan jarang-jarang seolah ikut kaget juga. Mungkin karena baru pertama kali ia melihat ada orang yang sangat renta. Mungkin umurnya seribu tahun. Mungkin juga seribu abad. Tapi bisa jadi lebih dari itu. Soleman Jangkung tak tahu. Benar-benar tak tahu.
“Perut dan sayapku tertembak. Luka dan hujan membuatku susah terbang. Boleh aku istirahat sebentar?” kata Si Lelaki Tua. Suaranya seperti rebana yang dipukul pelan-pelan.
“Boleh, Mbah. Eh, Eyang …” kata Soleman Jangkung dengan bibir dan kedua tangan gemetar. Mulutnya belepotan.
Sebelum memapah lelaki super renta itu ke kamar yang terletak di ruang tengah, Soleman Jangkung sempat mendongak dan terpukau melihat lubang atap dapurnya bisa menembus langit malam. Ia singkirkan pecahan genting dan patahan kayu dari tubuh Si Lelaki Tua. Ia bantu Si Lelaki Tua berdiri perlahan, dan ia kaget mendapati kenyataan bahwa tubuh Si Lelaki Tua sangat ringan. Ia bingung bagaimana tubuh yang seringan itu bisa memecahkan genting dan mematahkan kayu juga menghasilkan debuman keras di lantai dapurnya.
Di tengah serangan rasa kaget dan bingung, Soleman Jangkung diserang pula oleh perasaan senang yang asing saat menyentuh sebelah sayap Si Lelaki Tua yang terluka dan basah oleh hujan. Sayap abu-abu yang berkilau dengan bulu-bulu selembut kapuk randu.
Perasaan Soleman Jangkung makin campur aduk tak keruan saat melihat sepasang sayap Si Lelaki Tua menyusut dan berangsur hilang waktu ia membantunya berbaring di ranjang. “Mau pakai selimut?” katanya masih dengan perasaan tak keruan.
Si Lelaki Tua menggeleng. “Aku tidak membutuhkannya. Oh iya, kamu boleh memanggilku Kakek Moyang,” katanya ketika Soleman Jangkung berdiri memandanginya seperti orang bodoh.
Soleman Jangkung mengangguk takzim. Dadanya terasa ringan dan lapang. Tak satu pun kalimat yang bisa keluar dari mulutnya ketika itu.
“Lukaku akan pulih dalam beberapa masa. Aku akan terbang lagi dan menyelesaikan tugasku membopong ribuan bayi dan anak-anak,” katanya sebelum memejam dan merintih kesakitan.
Soleman Jangkung mematung seperti sebatang pohon kopi tanpa tiupan angin. Hampir tak ada yang bisa ia lakukan kecuali mengedip-mengedip karena tiba-tiba matanya terasa perih.
Dengan perasaan aneh dan perih itu, Soleman Jangkung keluar dari kamar tengah lalu masuk ke kamar mandi mengambil dua ember hitam besar untuk menadah air hujan. Ia bereskan pecahan genting dan patahan kayu, lalu mengangkat dan memindahkannya ke halaman belakang. Ia mengepel lantai semen dapur sampai kering sambil mendengar rintihan lembut Si Lelaki Tua di kamar tengah. “Makhluk-makhluk macam apa yang bisa membuat malaikat terluka?” Ia menghela napas panjang sambil mencoba menerka-nerka.
Diganggu pertanyaan itu, Soleman Jangkung tak bisa tidur sampai hujan benar-benar reda. Lagi pula ia harus menjaga supaya air yang jatuh di kedua ember itu tak sampai luber ke lantai. Si Lelaki Tua juga tak tidur selama Soleman Jangkung menjaga ember.
Soleman Jangkung sempat dibuat takjub dan beberapa kali mengucap takbir saat kamar yang lampunya sengaja ia matikan menjadi terang karena pancaran cahaya kuning gading tubuh Si Lelaki Tua.
Hujan sempurna reda setelah adzan subuh berkumandang. Soleman Jangkung sembahyang kemudian tumbang dalam tidur yang cukup panjang. Ia tidur, lantas terbangun jam sebelas siang. “Sembahyang subuh jugakah Kakek Moyang?” Ia sama sekali tak punya jawaban.
Si Lelaki Tua tinggal di rumah Soleman Jangkung selama delapan hari. Ia tak pernah tidur. Tak pernah makan dan minum, hanya terbaring di ranjang sambil meminta rahmat Tuhan, siang dan malam. “Dengan nama-Mu Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Maha Lembut dan Maha Indah. Kasihani aku. Kasihani aku. Turunkahlah rahmat-Mu. Aku sangat membutuhkannya. Kabulkanlah. Kabulkanlah … sehingga aku tidak lagi berkata, seandainya dikabulkan … seandainya dikabulkan.”
Soleman Jangkung tak berani mendekat ketika Si Lelaki Tua sedang berdoa dengan kalimat yang sama. Ia hanya berani mengintip lewat pintu kamar yang sengaja ditutup setengah agar ia bisa tetap mengawasi dan berjaga-jaga kalau Si Lelaki Tua membutuhkan bantuannya.
Setelah terbangun jam sebelas siang di hari pertama Lelaki Tua tinggal di rumahnya, saat itu hari Minggu, Soleman Jangkung membereskan dua ember hitam yang telah penuh air hujan. Sesudah itu ia makan, lalu memperbaiki genting, kusen, juga plafon dengan bantuan dua orang tetangga jauhnya.
Delapan hari tinggal di rumah Soleman Jangkung, Si Lelaki Tua dan Soleman Jangkung mengobrol tiga kali. Obrolan pertama mereka terjadi pada malam hari saat Si Lelaki Tua jatuh ke lantai dapurnya. Obrolan kedua terjadi tiga hari berikutnya setelah isya, setelah Soleman Jangkung selesai membetulkan genting dan atap dapurnya. Sementara itu obrolan ketiga terjadi saat Si Lelaki Tua pamit terbang ke langit malam. Mungkin Soleman Jangkung merasa sangat segan mengobrol dengan malaikat yang tubuhnya mengeluarkan harum gaharu.
Saat Soleman Jangkung mengajak ngobrol untuk kali kedua di kamar tengah, Si Lelaki Tua berkata, “Tak patut banyak bicara denganku. Lebih baik kamu diam dan bekerja seperti biasa seolah aku tidak ada di rumahmu.” Rambutnya yang panjang keabuan sedikit bergoyang ditiup angin lembut yang masuk dari pintu depan rumah Soleman Jangkung.
“Iya, Kek,” kata Soleman Jangkung dengan nada murung. Jantungnya berdebar seperti orang yang baru saja selamat dari kecelakaan beruntun. Padahal, mungkin, Soleman Jangkung masih ingin banyak bertanya pada Si Lelaki Tua; dari mana asalnya dan siapa nama aslinya. Mengapa ia begitu betah menahan kantuk, haus, dan lapar? Mengapa ada makhluk yang sanggup melukai tubuhnya yang renta? Terbuat dari apakah hati makhluk-makhluk itu?”
“Simpan pertanyaanmu, Anak Muda. Aku Izrail sekaligus bukan Izrail. Aku tak suka bicara berputar-putar,” kata Si Lelaki Tua sambil duduk mengambang di ranjang kayu. Sayapnya masih menyusut di punggungnya yang terbungkus kain biru gelap berbahan mirip beludru. Kain itu hampir menutupi seluruh tubuhnya hingga sebatas mata kaki. Sepasang kaki yang tak beralas, telanjang dan menakjubkan. Sepasang kaki dengan jari-jari yang indah dan panjang. Demikian pula jari-jari tangannya.
“Siap, Kek,” kata Soleman Jangkung sebelum merasakan nyeri di jantung. Mungkin ia sangat kaget karena Si Lelaki Tua bisa membaca pikirannya.
Sesuai permintaan Si Lelaki Tua, Soleman Jangkung melakukan semua pekerjaannya seperti biasa sebagai bujang tiga puluh tahun yang mewarisi dan mengurusi kebun kopi, tiga ekor sapi, dan mengajar mengaji saban Jumat sore di masjid pasar kecamatan yang berjarak satu kilo meter dari rumahnya. Di sela-sela pekerjaannya itu, Soleman juga menyempatkan diri mengajak murid-murid ngajinya, keluarganya, para sahabatnya, dan calon istrinya untuk memasang gambar sepotong semangka sebagai foto profil akun media sosial atau foto profil WA.
Selain itu, demi menjaga rahasia keberadaan Si Lelaki Tua, kecuali dua orang tetangga yang pernah memperbaiki genting dan atap dapurnya, Soleman Jangkung tak mengizinkan siapa pun datang dan masuk ke rumahnya, termasuk calon istirnya yang agak cerewet dan mudah kaget. Ia pun, entah kenapa, tak ingin melaporkan kejadian itu kepada Lurah Kosim maupun Kapolsek Sobirin. Untung pulalah selama delapan hari itu calon istri, sahabat, tetangga, atau anggota keluarga Soleman Jangkung tak ada yang berkunjung ke rumahnya. Ia tak tahu apakah itu semua kebetulan atau ada campur tangan Si Lelaki Tua. Ia benar-benar tak punya jawaban.
Semua terjadi di luar kendali Soleman Jangkung. Mungkin ia baru sadar bahwa tak semua peristiwa bisa dimengerti dan cepat dimaknai. Mungkin ia pun baru sadar bahwa ia tak tahu apa-apa tentang dunia ini. Tak tahu dan tak kunjung mengenali dirinya sendiri. Hal itu terbukti ketika datang malam ke delapan.
Di malam ke delapan saat Si Lelaki Tua berkata akan segera pergi ke sebuah negeri yang jauh dan nyaris runtuh, Soleman Jangkung masih saja gatal mengajukan satu permintaan konyol yang akhirnya ia sesali.
“Saya ingin bicara sebentar dengan Izrail,” kata Soleman Jangkung setelah mengucap istighfar beberapa kali. Mendadak badannya yang sekurus papan penggilas pakaian itu seperti diserang demam tinggi.
“Hindarilah menginginkan sesuatu yang kamu tidak ada kuasa menanggungnya.”
“Saya penasaran, Kek.”
“Begitulah manusia. Tapi maaf, tetap tidak bisa.”
“Satu menit saja?”
“Jangan minta sesuatu yang aku tidak bisa mengabulkannya.” Si Lelaki Tua berkata dengan nada lembut tapi terdengar keras dan menyucuk telinga Soleman Jangkung.
“Saya mohon …”
“Memohonlah hanya pada Tuhan, Anak Muda. Aku tak bisa mengizinkannya.”
“Baiklah, Kek,” kata Soleman lesu. Ia terpaksa menelan lagi permintaanya seperti menelan lima biji kopi yang telah dicampur dengan tiga jumput tahi sapi.
“Dasar manusia.”
“Maafkan saya, Kek. Saya sudah lancang, dan sekarang menyesal.”
Kakek Moyang bergumam sebentar. “Itu bukan wilayahku. Aku tak merasa perlu memaafkanmu. Namun, anak muda, aku ingin memperingatkanmu selagi bisa. Ingat baik-baik pesanku ini jika kamu tak ingin mati: tutup matamu waktu Izrail datang nanti,” kata Si Lelaki Tua setengah jam sebelum terbang menembus dingin dan gelap malam.
Soleman mengangguk dan kehilangan bahasa. Dadanya sesak seketika.
Di halaman belakang rumahnya yang dikepung pohon-pohon kopi, obrolan ketiga mereka terjadi. Soleman Jangkung mengajak mengobrol sebentar sebenarnya untuk mengisi waktu luang sampai Izrail datang menjemput Si Lelaki Tua. Saat itu luka-luka di tubuh Lelaki Tua sudah sembuh sempurna, dan sepasang sayapnya sudah muncul lagi dari punggungnya yang mempesona.
Soleman Jangkung senyum-senyum sendiri karena tak bisa berhenti mengagumi sosok Si Lelaki Tua, sampai-sampai ia tak sadar kalau malaikat Izrail sudah datang. Jantungnya nyaris copot saat malaikat maut itu terbang dan melayang-layang di atas rumahnya. Soleman Jangkung tahu Izrail datang karena diberitahu Si Lelaki Tua.
Secepat mungkin Soleman Jangkung menutup mata saat Si Lelaki Tua berkata, “Aku pamit. Ini adalah tahun-tahun tersibuk kami di Palestina.”
Soleman Jangkung jatuh terduduk di tanah. Sepasang telinganya berdarah.
Lampung, 2024-2025
*Catatan penting: cerita ini diinspirasi langsung oleh cerita A Very Old Man with Enormous Wings karya Gabriel Garcia Marquez.
Biodata:
Yulizar Lubay, fiksionis dan aktor Komunitas Berkat Yakin Lampung. Pengasuh divisi teater dan sastra di UKMF KSS FKIP UNILA.
