Kolaborasi Rumah dan Sekolah

Oleh Julmansyah Putra (Trainer dan Penulis buku Guru Mahardika)



Sering kita temui pertengkaran guru dan orang tua. Keduanya bersikeras menjadi pihak yang merasa paling benar. Konflik ini juga tak jarang berlanjut ke jalur hukum, meski beberapa kasus akhirnya memilih jalan damai. Tapi rumah dan sekolah sebagai tempat anak seharusnya menimba ilmu dan menghaluskan pekerti terlanjur tercoreng.

Sebagai contoh, peristiwa guru yang menghukum anak karena kedapatan merokok atau melanggar aturan sekolah. Orang tua dan guru berselisih paham terkait cara guru mendisiplinkan anak. Kemarahan semakin menyela setelah viral. Keributan meledak menjadi polemik publik. Pro dan kontra, bahkan publik saling mencela.

Siapa yang akhirnya menjadi korban dari ketidakharmonisan ini? Anak. Mereka adalah pihak yang paling dirugikan. Pernahkah kita berpikir, bahwa rasa malu dan beban mental yang ditanggung anak melihat guru dan orang tuanya bertengkar di ruang publik dan diolok-olok masyarakat sepelosok negeri.
Silang pendapat dalam proses pendidikan anak sejatinya bisa dikomunikasikan dengan hati yang lapang. Rumah dan sekolah seharusnya menjadi tempat aman bagi anak. Dan tak seharunya ada pertengkaran. Bukankah keduanya memiliki tujuan mulia yang sama, yaitu ingin memberikan pendidikan terbaik untuk sang anak.

Anak Bercermin dari Kita

Jika seorang anak berperilaku tidak sesuai dengan yang apa yang menjadi gambaran ideal kita sebagai guru dan orang tua, siapa yang seharusnya pertama diperiksa? Dalam komunikasi, jika teman bicara tidak mengerti apa yang kita sampaikan, itu artinya kita perlu melihat kembali bagaimana cara kita mengkomunikasikan sebuah pesan. Adakah bahasa yang kurang tepat atau mungkin bahasa tubuh kita yang tidak relevan, sehingga mengaburkan pemahaman. Kita perlu mengecek cara kita berkomunikasi, sebelum memeriksa dan menuding pihak lain payah karena tidak memahami yang kita sampaikan. Pun begitu dengan cara kita melihat anak. Ingat, kita adalah cermin mereka. Bila ada laku yang kurang pantas dan tidak berkenan dari mereka, berhentilah sebentar. Berkacalah, tanyakan pada diri sendri apa yang sudah kita contohkan? Dengan begitu, kita akan lebih bijaksana dalam memahmi perilaku mereka. Kita dapat belajar bagaimana seharusnya membersamai mereka dalam proses bertumbuh.

James Baldwin, seorang penulis Amerika dengan cukup tepat menggambarkan betapa piawainya anak meniru perilaku orang dewasa. Children have never been very good at listening to their elders, but they have never failed to imitate them (Anak-anak tidak pernah cukup baik dalam mendengarkan orang yang lebih tua darinya, namun mereka tak pernah gagal untuk meniru mereka).

Sekali lagi, anak bercermin pada kita. Mereka belajar dari apa yang dilihat dalam kesehariannya, di rumah mereka mencontoh kebiasaan orang tuanya, di sekolah mereka belajar dari gurunya. Ada baiknya, rumah dan sekolah berdamai, mencipta harmoni untuk menjadi panutan juga tuntunan anak dalam mengembangkan dirinya.

Kolaborasi Mencipta Harmoni


Bayangkan sebuah pertunjukan musik. Apa yang membuat sebuah konser menjadi luar biasa dan menghipnotis penontonya? Jawabya adalah kerjasama tim. Kita juga menyebutnya kolaborasi. Dalam tim semua orang memainkan peran yang sama penting. Vokalis, gitaris, bassis, drumer, bahkan panitia pertunjukkan menjadi penenentu sukses sebuah pertunjukkan.

Kelancaran acara dan permainan musik yang menghipnotis merupakan harmoni yang tercipta dari kolaborasi. Sekarang bayangkan jika, setiap orang egois. Pamer ingin tampil paling menonjol, ingin mendapat tepuk tangan paling banyak, sehingga tidak menjalankan tugasnya, pertunjukkan akan berubah menjadi kekacauan.

Begitu juga dengan kolaborasi rumah dan sekolah, harmoni akan menjadi penghias jalan untuk membersamai tumbuh kembang anak. Kalaupun ada kerikil yang mengahalangi perjalanan, tentulah kebesaran hati, sikap toleran, dan pilihan untuk mengedepankan kepentingan anak akan menjadi prioritas utama.

Lapang hati adalah ciri orang beriman dan berilmu yang akan Tuhan angkat derajatnya. ‘Hai orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu, ‘berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,’ lapangkanlah. Kutipan dari firman Allah ini (QS. Al Mujadalah: 11) dalam maknanya yang lebih luas mengingatkan betapa pentingnya sikap terbuka. Meluaskan hati agar tak mudah tersulut emosi. Melihat keragaman sebagai sebuah potensi mencipta harmoni. Termasuk keragaman dalam mendidik.


Rumah dan sekolah adalah tempat belajar.

Semua peristiwa yang terjadi di dalamnya turut mempengaruhi tumbuh kembang anak. Baik atau buruk, pilihannya ada di tangan kita; guru dan orang tua. Jika kukuh memilih pertengkaran, semua akan kalah, akhirnya menjadi abu dan arang. Sementara kesediaan untuk berkolaborasi akan berbuah manis yaitu harmoni. Wallahu a’alam bishawab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *