Oleh Aan Frimadona Roza, Pengiat di Rumah Baca Yussuf Baradatu
Jika kita berkeliling Kabupaten Way Kanan, banyak sekali kita menemukan nama kampung dan dusun yang terdengar sangat akrab dengan wilayah Jawa, seperti Jogja, Semarang, Cirebon, Kedu, Malang, Mojokerto, dan lain-lain. Nama-nama ini bukan muncul secara kebetulan—tetapi berkaitan erat dengan sejarah perpindahan penduduk ke wilayah Lampung, khususnya pada masa transmigrasi.
Jejak Transmigrasi ke Lampung
Sejak awal abad ke-20, dan lebih masif lagi pada masa kemerdekaan hingga tahun 1980–an, pemerintah Indonesia menjalankan program transmigrasi. Tujuannya Menyebarkan pemerataan penduduk, Membuka lahan pertanian baru dan Meningkatkan pembangunan ekonomi daerah.
Lampung, termasuk Way Kanan, menjadi salah satu tujuan utama karena wilayahnya memiliki tanah yang luas dan subur. Sebagian besar peserta transmigrasi berasal dari: Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta dan Jawa Barat. Dalam perjalanan waktu, mereka mendirikan permukiman baru yang kemudian menjadi kampung atau dusun.
Mengapa Banyak Nama Kampung Berasal dari Nama Kota di Jawa?
Ada beberapa alasan mengapa nama-nama itu muncul:
- Penanda Asal Usul
Banyak kelompok transmigran awal menamai kampung mereka dengan nama daerah asal sebagai bentuk pengingat identitas.
Contoh: Kelompok asal Yogyakarta menamai wilayah barunya dengan “Jogja”. Warga asal Semarang menamai permukiman “Semarang”. Nama itu menjadi simbol rasa kebersamaan sekaligus penguat ikatan sosial antar perantau. - Penyesuaian Administratif Pada Masa Perintisan.
Pada beberapa lokasi transmigrasi, pemerintah pusat mengizinkan kelompok transmigran mengusulkan nama kampung. Karena banyak yang belum punya nama baku, akhirnya nama-nama daerah asal dipakai sementara—yang kemudian justru menjadi nama permanen. - Bentuk Kerinduan akan “Tanah Lama”.
Perpindahan dari Jawa ke Lampung bukan hal mudah. Dalam proses adaptasi, pemberian nama kampung menjadi salah satu cara menjaga ingatan, budaya, dan kebiasaan yang mereka bawa dari daerah asal. - Pembauran Budaya di Way Kanan
Nama-nama dengan nuansa Jawa bukan berarti kampung tersebut hanya dihuni oleh orang Jawa. Di Way Kanan, masyarakat Jawa sudah lama hidup berdampingan dengan: Masyarakat Lampung Pepadun, Masyarakat Sunda, Masyarakat Bali hingga pendatang dari berbagai daerah lain. Pembauran ini melahirkan masyarakat Way Kanan yang terkenal ramah, terbuka, dan kaya dalam tradisi budaya. - Identitas Lokal Baru yang Terbentuk
Kini, kampung-kampung seperti Kampung Kedu, Dusun Malang, atau Dusun Cirebon tidak lagi sekadar menggambarkan asal-usul warganya, tetapi telah menjadi bagian dari identitas lokal Way Kanan itu sendiri.
Generasi muda tumbuh dan belajar di kampung dengan nama “Jawa”, tetapi mereka sepenuhnya adalah anak daerah Way Kanan dengan budaya, bahasa, dan kebiasaan yang khas Lampung pedalaman.
Nama-nama kampung bernuansa Jawa di Way Kanan adalah jejak sejarah panjang perpindahan penduduk yang turut membentuk wajah sosial, budaya, dan ekonomi kabupaten ini. Dari sanalah tumbuh masyarakat yang majemuk, saling menghargai, dan terus berkembang bersama.
#Dikutip dari berbagai sumber.
