Oleh:Made Gayatri Anggarkasih, S.T.P., M.Si.Department of Food Quality Assurance SupervisorVocational School, Institut Pertanian BogorWest Java, Indonesia
Stunting masih menjadi salah satu permasalahan gizi utama di Indonesia yang memerlukan penanganan komprehensif dan lintas sektor, khususnya pada tingkat komunitas. Rendahnya pengetahuan gizi, keterbatasan akses pangan bergizi, serta praktik keamanan pangan yang belum optimal di rumah tangga menjadi faktor yang memperkuat risiko terjadinya stunting pada anak. Sebagai respons atas tantangan tersebut, Program Pengabdian Masyarakat NUTRIFISH dilaksanakan di Kampung Ramsai, Kecamatan Way Tuba, Kabupaten Way Kanan. Program ini dirancang sebagai intervensi terpadu berbasis edukasi dan pemberdayaan masyarakat yang berfokus pada peningkatan pengetahuan gizi seimbang, keamanan pangan rumah tangga, serta inovasi pengolahan ikan sebagai sumber protein hewani yang mudah diakses dan bernilai gizi tinggi.
Program NUTRIFISH diawali dengan rapat koordinasi daring pada 20 Juni 2025. Kegiatan ini melibatkan tim dosen IPB University, Sekretaris Daerah Kabupaten Way Kanan, Kepala Kampung Ramsai, Ketua TP-PKK Kampung Ramsai, kader Posyandu, Kepala PAUD Kartini, perwakilan mahasiswa, serta pembantu lapang.Rapat koordinasi bertujuan untuk memperkenalkan konsep dan tujuan Program NUTRIFISH serta menyepakati rencana pelaksanaan kegiatan yang mencakup pelatihan inovasi olahan ikan, edukasi gizi seimbang, dan sosialisasi keamanan pangan rumah tangga. Diskusi berlangsung interaktif dan menghasilkan pembagian tugas, penjadwalan kegiatan, inventarisasi kebutuhan logistik, serta pembentukan jejaring koordinasi untuk menjamin kelancaran pelaksanaan program.Sebagai bagian dari tahap persiapan, tim pengabdian masyarakat juga melakukan uji coba pembuatan produk nugget ikan nila. Kegiatan ini bertujuan memastikan formula dan kualitas sensori produk sebelum diperkenalkan kepada masyarakat.
Evaluasi meliputi rasa, tekstur, ukuran produk, dan metode pengolahan. Hasil uji coba menunjukkan bahwa rasa nugget sudah diterima dengan baik, namun tekstur dinilai kurang juicy akibat penggunaan tepung tapioka yang berlebihan. Selain itu, ukuran produk dinilai terlalu besar dan kurang seragam. Berdasarkan temuan tersebut, dilakukan penyesuaian komposisi bahan, ukuran produk, serta penambahan proses penggorengan setengah matang sebelum pembekuan guna meningkatkan kualitas dan umur simpan. Hasil evaluasi ini menjadi dasar penyempurnaan modul pelatihan pengolahan pangan bagi masyarakat Kampung Ramsai.
Tahap implementasi Program NUTRIFISH dilaksanakan pada 4–5 Juli 2025 di Kabupaten Way Kanan. Kegiatan diawali dengan audiensi pengabdian masyarakat pada 4 Juli 2025 di Kantor Pemerintah Kabupaten Way Kanan. Audiensi ini dihadiri oleh Pj Sekretaris Daerah Kabupaten Way Kanan, Kepala Dinas P3AP2KB, Camat Way Tuba, Kepala Kampung Ramsai, serta tim pelaksana program.Dalam forum ini, tim pengabdian masyarakat memaparkan urgensi permasalahan stunting di Kampung Ramsai, rancangan program NUTRIFISH, serta pentingnya dukungan dan kolaborasi pemerintah daerah guna menjamin keberhasilan dan keberlanjutan program. Audiensi menghasilkan kesepahaman strategis yang memperkuat sinergi lintas pemangku kepentingan.Pelaksanaan program selanjutnya dianalisis menggunakan kerangka ABGSM (Academic–Business–Government–Society–Media). IPB University berperan sebagai pihak akademik penyedia inovasi berbasis riset, Pemerintah Kabupaten Way Kanan sebagai pendukung kebijakan dan fasilitator, masyarakat Kampung Ramsai sebagai pelaku utama, serta media sebagai pendukung diseminasi informasi. Meskipun unsur bisnis belum terlibat secara eksplisit, pengembangan produk olahan ikan membuka peluang kewirausahaan lokal di tahap lanjutan. Edukasi Gizi, Keamanan Pangan, dan Praktik Olahan Ikan.Kegiatan inti Program NUTRIFISH dilaksanakan pada 5 Juli 2025 di Balai Kampung Ramsai. Peserta terdiri atas Ketua TP-PKK se-Kecamatan Way Tuba, kader PKK dan Posyandu, kader Bina Keluarga Balita, serta perwakilan PAUD Kartini. Kegiatan ini didampingi oleh Kepala Kampung Ramsai, Camat Way Tuba, dan perwakilan Dinas P3AP2KB Kabupaten Way Kanan. Edukasi gizi seimbang disampaikan secara interaktif oleh Rosyda Dianah, S.K.M., M.K.M., dengan tujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya gizi seimbang dalam mendukung tumbuh kembang optimal dan mencegah stunting. Materi meliputi konsep dasar gizi seimbang, empat pilar dan sepuluh pedoman gizi seimbang, prinsip “Isi Piringku”, serta dampak jangka panjang stunting terhadap kualitas hidup. Respons peserta sangat positif, ditunjukkan melalui diskusi aktif dan pertanyaan kritis seputar variasi sumber karbohidrat dan pola makan sehat.Sosialisasi keamanan pangan disampaikan oleh Nurafi Razna Suhaima, S.Pi., M.Si., dengan fokus pada penerapan prinsip keamanan pangan di dapur rumah tangga. Materi mencakup pemilihan bahan baku segar, kebersihan lingkungan dapur, serta pencegahan kontaminasi silang dalam proses pengolahan pangan.Praktik pembuatan nugget ikan nila dipandu oleh Made Gayatri Anggarkasih, S.T.P., M.Si. dan Ai Imas Faidoh Fatimah, S.T.P., M.P., M.Sc.
Kegiatan ini tidak hanya mengajarkan teknik pembuatan nugget, tetapi juga praktik Cara Produksi Pangan yang Baik (CPPB), termasuk penerapan sanitasi dan higiene seperti penggunaan apron, masker, sarung tangan, dan penutup kepala. Peserta juga diperkenalkan pada prinsip teknis penting, seperti penggunaan es batu untuk menjaga suhu adonan agar kualitas protein tetap optimal. Selain nugget ikan nila, diperkenalkan pula produk alternatif baby fish nila crispy yang berpotensi menjadi camilan sehat sekaligus peluang usaha lokal. Evaluasi Program NUTRIFISH dilakukan secara daring menggunakan Google Form untuk mengukur tingkat kepuasan peserta, pemahaman materi, serta dampak yang dirasakan masyarakat. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa 78% responden menilai program berjalan sangat baik dan 22% menilai baik. Sebanyak 52% responden menyatakan program memberikan dampak sangat besar, 41% berdampak, dan 7% cukup berdampak.Dampak utama yang dirasakan masyarakat adalah peningkatan pengetahuan gizi seimbang (34%), diikuti penguatan kolaborasi lintas pemangku kepentingan (19%) dan adopsi inovasi nugget ikan nila (17%). Peningkatan wawasan keamanan pangan dan kesadaran pencegahan stunting masing-masing dirasakan oleh 15% responden. Temuan ini menunjukkan bahwa pendekatan edukatif berbasis komunitas efektif dalam meningkatkan kapasitas masyarakat secara berkelanjutan.
Kesimpulan Program
Pengabdian Masyarakat NUTRIFISH berhasil dilaksanakan secara terstruktur melalui tahapan persiapan, implementasi, dan evaluasi dengan melibatkan multipihak. Fokus kegiatan pada edukasi gizi seimbang, keamanan pangan, dan inovasi olahan ikan nila terbukti memberikan dampak positif terhadap peningkatan pengetahuan masyarakat, penguatan kolaborasi lokal, serta adopsi pangan bergizi berbasis sumber daya lokal.Keberhasilan ini tidak hanya mencerminkan capaian jangka pendek, tetapi juga membuka peluang keberlanjutan melalui kaderisasi lokal, penguatan kewirausahaan olahan ikan, serta integrasi dengan sistem monitoring Posyandu. Program NUTRIFISH berpotensi direplikasi di wilayah lain sebagai model intervensi pencegahan stunting berbasis komunitas.
