Oleh Aan Frimadona Roza, Anggota Bidang Pendidikan dan SDM ICMI Orda Way Kanan
Dunia pendidikan kembali diuji oleh sebuah peristiwa yang mengusik nurani bersama. Kasus pengeroyokan terhadap seorang guru Bahasa Inggris oleh sejumlah siswa di SMK Negeri 3 Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi, yang sempat viral di media sosial, menjadi cermin yang memantulkan persoalan mendasar dalam relasi pendidikan kita. Meski peristiwa tersebut telah diselesaikan secara damai, sebagaimana dikutip dari Tribata News Network (15/1/2026) dijelaskan oleh Kombes Pol Erlan Munaji (Kabid Humas Polda Jambi).
Jejak luka moralnya tidak serta-merta hilang begitu saja. Sekolah sejatinya adalah ruang aman, tempat nilai-nilai kemanusiaan, etika, dan peradaban ditanamkan. Guru hadir bukan sekadar sebagai pengajar mata pelajaran, melainkan sebagai pendidik, pembimbing, dan teladan. Ketika seorang guru justru menjadi korban kekerasan di lingkungan sekolah, maka yang sesungguhnya terluka bukan hanya individu, tetapi juga marwah pendidikan itu sendiri.
Peristiwa ini mengajak kita untuk melakukan refleksi bersama. Ada yang perlu dievaluasi secara jujur: bagaimana pembinaan karakter peserta didik selama ini berjalan? Sejauh mana pendidikan nilai, disiplin, dan penghormatan terhadap guru ditanamkan secara konsisten, baik di sekolah maupun di rumah? Apakah komunikasi antara guru, siswa, orang tua, dan pihak sekolah telah terjalin dengan sehat?
Perilaku kekerasan tidak lahir dalam ruang hampa. Ia bisa muncul dari akumulasi emosi, ketidakmampuan mengelola konflik, minimnya keteladanan, atau lemahnya penegakan tata tertib yang berkeadilan. Karena itu, penyelesaian damai hendaknya tidak dimaknai sebagai akhir persoalan, melainkan sebagai titik awal untuk berbenah.
Pendidikan tidak boleh kalah oleh kekerasan. Sekolah harus kembali menjadi tempat yang menjunjung tinggi adab sebelum ilmu, dialog sebelum emosi, dan pembinaan sebelum hukuman. Guru perlu dilindungi martabat dan keselamatannya, sementara siswa perlu dibimbing dengan pendekatan yang tegas namun manusiawi.
Semoga peristiwa ini menjadi pengingat bagi kita semua pendidik, orang tua, pemangku kebijakan, dan masyarakat bahwa keberhasilan pendidikan bukan hanya diukur dari nilai akademik, tetapi dari karakter dan perilaku yang tumbuh dalam diri peserta didik. Dari sanalah masa depan bangsa ditentukan.
