Menjelang Pentas “Hilang Huma(n)”: Esai Performatif tentang Luka Ekologi, Jangan Lewatkan!

Baradatu 13 Februari 2026. Rumah Baca Yussuf (RBY) mengajak para pecinta literasi, seni, dan isu lingkungan untuk menyambut kembali pertunjukan reflektif dari Kober (Komunitas Berkat Yakin). Kelompok teater ini akan mementaskan “Hilang Huma(n): Sebuah Esai Performatif” di Gedung Teater Tertutup (GTT) Taman Budaya Provinsi Lampung, pada Minggu–Senin, 15 & 16 Februari 2026, pukul 16.00 WIB. Sebelumnya, karya ini telah dipresentasikan dalam rangkaian Festival Teater Sumatera III di GTT Taman Budaya Sriwijaya pada 24–25 September 2025. Kini, “Hilang Huma(n)” kembali hadir untuk menyapa publik Lampung dengan daya gugah yang lebih matang dan mendalam.

Teater sebagai Esai yang Ditubuhkan
Disutradarai oleh Ari Pahala Hutabarat, pertunjukan ini berangkat dari refleksi tentang penyebab utama bencana alam dan krisis pangan di Sumatera dan Indonesia. “Hilang Huma(n)” bukan drama konvensional dengan alur dan tokoh yang kaku. Ia adalah esai yang ditubuhkan—opini yang dihidupkan melalui tubuh, suara, dan ruang.

Pertunjukan ini berwatak argumentatif dan reflektif. Ada tarik-ulur antara presentasi dan representasi, antara non-realis dan realis. Para aktor tidak menjelma menjadi karakter tertentu, melainkan tampil sebagai diri mereka sendiri sekaligus menjadi medium untuk menyampaikan gagasan. Unsur drama, komposisi musik, dan koreografi hadir secukupnya, namun yang utama adalah tersampaikannya opini secara maksimal.

Pertunjukan teatet “Hilang Huma(n)” adalah esai performatif berdurasi satu jam yang berpijak pada satu proposisi penting: bencana ekologis dan krisis pangan di Sumatera dan Indonesia terjadi akibat alih fungsi lahan. Alih Fungsi Lahan dan Ingatan yang Terhapus. Pertunjukan ini membeberkan bagaimana alih fungsi lahan secara masif baik karena ekspansi industri, perkebunan monokultur, maupun pembangunan infrastruktur tidak hanya merusak lingkungan fisik. Lebih dari itu, ia menghapus ingatan ekologis dan teknologi lokal masyarakat.

Dalam satu tarikan napas, kita menyaksikan percepatan krisis pangan sekaligus erosi budaya. Huma yang dalam berbagai tradisi lokal merujuk pada ladang atau ruang hidup perlahan hilang, berganti dengan lanskap yang asing dan seragam. Di situlah letak kegelisahan pertunjukan ini: ketika manusia (human) justru menjadi pihak yang kehilangan “huma”-nya.

Pertunjukan teater “Hilang Huma(n)” mengajak penonton tidak sekadar menikmati pertunjukan, tetapi ikut berpikir, mempertanyakan, dan merefleksikan ulang relasi manusia dengan alam. Di tengah meningkatnya isu krisis iklim dan ketahanan pangan, karya ini menjadi ruang dialog yang penting terutama bagi generasi muda.

Bagi komunitas literasi seperti Rumah Baca Yussuf, pertunjukan ini relevan sebagai pengingat bahwa membaca realitas tidak hanya lewat buku, tetapi juga lewat panggung. Teater menjadi teks yang hidup—yang menyentuh nalar sekaligus rasa.

Menjelang pementasan 15–16 Februari 2026, mari kita siapkan diri untuk menyaksikan sebuah esai yang tidak hanya dibacakan, tetapi ditubuhkan. Sebab bisa jadi, yang hilang bukan hanya huma melainkan juga kepekaan kita sebagai manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *