Cerpen Bimo Seno

Cerita di Ujung Senja yang Rapuh
Oleh: Bimo Seno


“Yah, beli bakso ya…”
Suara itu lirih, tapi cukup untuk mengguncang dadaku. Anak sulungku berdiri di depanku, menatap dengan mata penuh harap, tangannya terulur kecil meminta sesuatu yang bagi banyak orang mungkin sepele.

Aku terdiam. Jantungku berdetak cepat. Di saku celanaku, hanya ada dua ribu rupiah—angka yang bahkan tak cukup untuk memenuhi permintaan sederhana itu. Air mataku mulai menggenang, tertahan di pelupuk mata yang terasa berat.

“Ayah belum ambil uang, Nak… masih di ATM,” kataku pelan, berusaha tersenyum, meski terasa dipaksakan.

“Ya sudah, Yah… nggak apa-apa,” jawabnya lembut.

Jawaban itu justru terasa lebih menyakitkan daripada permintaannya.

Aku menyarankan ia untuk berutang mie instan di warung sebelah. Nanti malam, kataku, akan kubayar setelah mengambil uang. Ia mengangguk dan pergi tanpa banyak tanya.

Aku meraih ponsel androidku yang sudah retak di bagian belakang. Dengan tangan sedikit gemetar, kubuka aplikasi bank. Saldo yang tertera membuat kepalaku terasa berdenyut: Rp106.025.

“Bisa nggak ya ambil lima puluh ribu…” gumamku lirih. Aku tahu, sering kali ATM tak menyediakan pecahan itu.

Aku menyalakan rokok, menghisapnya dalam-dalam. Asapnya melayang ke langit-langit, seakan membawa pergi harapanku yang makin tipis.

“Mana, Mbak, Yah?” suara anak bungsuku membuyarkan lamunan.

“Ke warung,” jawabku singkat.

Tak lama kemudian, anak sulungku kembali dengan dua bungkus mie instan. Ia langsung ke dapur, memasaknya dengan cekatan.

“Adek mau nggak?” teriaknya.

Tak lama, dua mangkuk mie hangat tersaji di hadapanku. Aku menatapnya lama—terlalu lama. Uapnya tipis mengepul, seperti mengejek perutku yang sejak pagi hanya diisi air putih.

“Kalau ayah mau… ini kita bagi,” katanya polos.

Aku mengusap wajahku perlahan. Bukan karena panas, tapi karena air mata yang akhirnya jatuh tanpa izin.

“Enggak, Nak… itu buat kalian saja,” jawabku lirih.

Mereka makan pelan, rapi… seolah takut mie itu cepat habis. Aku tak sanggup melihat lebih lama. Aku bangkit dan berjalan keluar rumah.

Di teras, aku duduk di bangku kayu yang mulai rapuh. Catnya mengelupas, seperti harga diriku yang perlahan ikut luruh. Angin malam berhembus pelan, membawa dingin yang tak terasa di kulit, tapi menusuk dalam dada.

Aku kembali melihat saldo di ponselku. Angka itu masih sama: Rp106.025. Kecil… tapi terasa seperti jurang yang dalam.

Aku tertawa kecil. Entah menertawakan diri sendiri, atau keadaan yang terlalu pahit untuk dimengerti.

Dulu… aku pernah duduk bersama banyak orang, berbicara tentang mimpi dan masa depan. Kini, untuk membeli semangkuk bakso saja, aku harus berbohong pada anakku sendiri.

Yang lebih menyakitkan, bukan karena orang jauh menjauh. Tapi mereka yang dekat… perlahan seakan tak lagi melihat keberadaanku. Sapaan mulai jarang. Kepedulian menghilang.

Aku masih ada. Tapi seperti tak dihitung.
Masih bernapas. Tapi seperti tak dianggap hidup.

Dari dalam rumah, terdengar tawa kecil anak-anak. Mungkin mie instan itu terasa nikmat bagi mereka. Anehnya, tawa itu justru menembus dadaku lebih dalam daripada rasa lapar.

Aku menunduk lama.

Dalam hati, aku berbisik,
“Kalau aku hilang… siapa yang akan menyayangi mereka?”

Aku rela… bahkan jika nyawaku hilang, asalkan mereka bisa bahagia.

Angin malam kembali berhembus, membawa sunyi yang semakin pekat. Aku masih duduk di sana, bersama sisa-sisa diriku yang perlahan terasa tak berarti.

Ingatan datang silih berganti. Aku pernah memiliki hari-hari yang penuh—bukan kosong seperti sekarang. Pernah memberi tanpa menghitung. Pernah merasa cukup.

Namun kini, semua itu seperti tak pernah tercatat. Tak pernah dianggap ada.

Aku seperti hujan yang jatuh di laut—ramai saat turun, tapi tak pernah dihitung sebagai tambahan.

Sisa masa lalu yang dulu disebut warisan, kini hanya bayangan kabur. Seperti rumah tua yang perlahan lapuk tanpa ada yang peduli kapan terakhir berdiri.

Aku tak tahu, apakah aku yang terlalu lemah menggenggam, atau dunia yang terlalu cepat melupakan.

Yang jelas, aku kini berdiri di titik yang sama—tanpa pegangan, tanpa pengakuan.

Hanya ada aku…
dan sunyi yang terus mengulang satu kalimat yang sama:

bahwa segala yang pernah ada,
bisa lenyap…
seolah tak pernah berarti apa-apa.

Banjit, 18/04/2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *