Oleh: Aan Frimadona Roza
(Guru & Pengurus ICMI Orda Way Kanan)
Beberapa waktu lalu, kita dikejutkan oleh sebuah video viral yang memperlihatkan pelajar di SMAN 1 Purwakarta bersikap tidak pantas terhadap gurunya. Banyak yang marah, kecewa, bahkan langsung menyalahkan anak-anak tersebut. Tidak sedikit pula yang menuding sekolah gagal mendidik.
Namun, jika kita mau jujur, peristiwa itu seharusnya tidak hanya membuat kita marah tetapi juga mengajak kita berpikir lebih dalam. Apa sebenarnya yang terjadi?
Anak-anak tidak pernah tiba-tiba menjadi seperti itu. Sikap, tutur kata, dan perilaku mereka adalah hasil dari proses panjang. Mereka belajar dari apa yang mereka lihat setiap hari baik di rumah, di lingkungan, maupun di dunia digital yang kini begitu dekat dengan kehidupan mereka.
Sebagai seorang guru, saya merasakan langsung bagaimana perubahan karakter anak-anak hari ini. Mereka cerdas, cepat memahami hal baru, tetapi di sisi lain menghadapi tantangan besar dalam hal adab dan kontrol diri. Sementara sebagai pengurus ICMI Orda Way Kanan, saya melihat ini bukan hanya persoalan individu, tetapi persoalan bersama yang harus kita hadapi secara serius. Di sinilah peran rumah menjadi sangat penting.
Kita sering berharap sekolah mampu membentuk karakter anak secara utuh. Padahal waktu anak di sekolah sangat terbatas. Selebihnya, mereka berada di rumah dan lingkungan sekitar. Jika di rumah mereka tidak mendapatkan contoh tentang sopan santun, adab, dan penghormatan kepada orang lain, maka jangan heran jika nilai-nilai itu juga tidak tumbuh dalam diri mereka.
Dalam banyak kasus, orang tua baru tersadar ketika anak sudah “bermasalah”. Padahal tanda-tandanya sering muncul sejak awal cara berbicara yang mulai kasar, sikap yang tidak menghargai, atau kebiasaan yang semakin jauh dari nilai-nilai kebaikan.
Ada dua hal sederhana yang sebenarnya bisa menjadi kunci. Pertama, menanamkan nilai sejak dini. Anak perlu dikenalkan pada agama, akhlak, dan adab, bukan hanya sekadar pengetahuan. Karena kecerdasan tanpa karakter bisa kehilangan arah. Kedua, memperhatikan lingkungan dan pergaulan. Anak sangat mudah terpengaruh oleh teman dan apa yang mereka konsumsi di dunia digital. Tanpa pendampingan, mereka akan belajar dari mana saja tanpa filter.
Peristiwa di Purwakarta juga memberi pelajaran bahwa dunia digital punya pengaruh besar. Banyak anak ingin terlihat “keren” di media sosial, tanpa memahami batasan.
Akhirnya, sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan justru direkam dan disebarkan.
Di sinilah pentingnya kehadiran orang tua. Bukan hanya melarang, tetapi menjelaskan. Bukan hanya mengawasi, tetapi juga membangun komunikasi yang hangat dan terbuka.
Kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan anak. Mereka masih dalam proses belajar. Yang perlu kita lakukan adalah membimbing, bukan sekadar menghakimi. Sebagai guru, saya percaya sekolah tetap menjadi tempat penting untuk membentuk karakter. Namun sekolah tidak bisa berjalan sendiri. Perlu dukungan orang tua, masyarakat, dan semua pihak.
Rumah adalah tempat pertama anak belajar tentang kehidupan. Jika di rumah mereka belajar menghormati, maka di luar pun mereka akan menghormati. Jika di rumah mereka belajar empati, maka di luar mereka akan peduli.
Sebaliknya, jika rumah abai, maka dunia luar akan mengambil alih peran itu dan belum tentu mengarah ke kebaikan.
Video viral itu mungkin hanya berlangsung beberapa menit. Tapi pesan di baliknya sangat panjang.
Ini bukan hanya tentang satu sekolah, satu guru, atau satu kelompok siswa. Ini tentang kita semua tentang bagaimana kita mendidik generasi ke depan.
Mari kita mulai dari hal yang paling dekat: rumah kita sendiri. Karena perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil.
Dan langkah kecil itu… adalah perhatian kita kepada anak-anak hari ini. Tabik.
