1.
Ingatan yang Digusur
:setelah membaca buku amnesia
Di kota, bujang-bujang merantau
Meninggalkan huma, ladang tua yang merunduk
Di kampung, krisis pangan mengetuk pintu
Sawah digusur, diganti hamparan yang seragam
Ekspansi perkebunan datang seperti air bah
Menelan alih fungsi lahan tanpa jeda
Penanaman monokultur berbaris kaku
Mencekik tanah, membungkam rupa-rupa kehidupan
Food estate berdiri, janji di atas kertas
Tapi perut bumi makin tipis, retak
Ekologis menjerit dalam senyap
Ketika akar-akar hutan dicabut paksa
Masyarakat adat menggenggam doa dan parang
Menjaga kearifan lokal yang hampir punah
Teknologi lokal masyarakat: huma, tugal, pantun tanam
Dianggap kuno oleh mesin dan angka-angka
Setiap hektar yang berganti wajah
Adalah upaya menghapus ingatan
Tentang musim, tentang tanah yang bernapas
Tentang padi yang tumbuh bersama ikan dan kawan
Wahai kota, kau kenyang dari luka siapa?
Bujang pulang, tak temukan kampungnya
Hanya barisan sawit dan jagung seragam
Huma telah pergi, bersama nama-nama yang dilupa
Tapi benih masih tidur di genggam puyang
Menunggu hujan, menunggu berani
Agar huma tumbuh lagi,
Agar ingatan tak benar-benar mati.
2.
Di Balik Pintu Belakang
Hujan jatuh seusai azan,
Bada Isya lampu-lampu menggantung doa di langit-langit malam.
Kututup jas hujan yang basah, kugantung di pintu belakang,
Sebab di rumah ini, harapan tak pernah bocor.
Almanak di dinding menghitung waktu,
Satu demi satu lembarnya gugur seperti palem ekor tupai menari ditiup angin.
Namun mimpiku tak gugur, ia berdiri bijak, elegan, Menggam piala yang belum bernama.
Di atas meja, pigura menyimpan wajah-wajah yang menguatkan, Di sampingnya asbak kosong, sebab bara yang kupelihara bukan api, Melainkan semangat.
Lalu aku teringat:
Bahwa perempuan bukan untuk dikekang, melainkan dijaga dan dihormati.
Bukan bunga di vas yang tak boleh disentuh angin, Tapi akar yang bebas memilih tanah,
Daster sederhana pun bisa jadi sayap
Ketika ia berjalan menuju mimpinya sendiri.
Maka biarlah hujan reda,
Biarlah azan berikutnya datang membawa pagi. Selama pintu belakang tetap terbuka untuk pulang, Selama lampu masih mau menunggu, Harapan akan selalu punya alamat.
3.
Secangkir Kenangan di Sore Hari
Secangkir kopi masih mengepul di meja,
kretek yang menyisakan asap samar,
sore perlahan memeluk waktu,
memasuki kemarau yang mengeringkan harapan.
Perjalanan ini terasa makin berat dilangkah,
ikhtiar sudah kugapai sekuat tenaga,
doa kusematkan di setiap hembusan napas,
namun tak mampu berucap apa yang tersimpan di dada. Rasa laksana lada yang menjalar ke seluruh jiwa, menyisakan perih yang tak terungkapkan, seolah hidup ini berjalan mengikuti algoritma yang tak dapat diubah, namun aku masih mencoba tetap optimis meski hati lelah dan sedih.
Aku mengakui masih adanya tantangan,
seperti keterbatasan yang selalu menyertai langkah, ada ujian yang datang dari tantangan, juga perbedaan yang terjal.
Namun di balik segala keterbatasan itu,
aku tetap memegang teguh prinsip dan berakhlak mulia, menjalankan kewajiban dengan penuh tanggung jawab, meski kadang kemampuan terasa tak seimbang dengan apa yang harus dilakukan.
Di tengah segala rasa tak mampu dan letih,
di tengah kesedihan yang sesekali datang menyelimuti, aku tak pernah berhenti memanjatkan harapan terbaik:
semoga senantiasa terjaga keselamatan,
diberikan kekuatan untuk melangkah,
segala urusan berjalan dengan lancar,
dan kesehatan senantiasa menyertai setiap waktu.
Januari – Mei 2026.
( Aan Frimadona Roza, Pengiat di RBY)
