“Nyawa Saya Wakafkan untuk Negara”: Mengenang Putra Way Kanan yang Mengabdi hingga Akhir

Oleh Aan Frimadona Roza, Bergiat di Rumah Baca Yussuf Baradatu


Kabar wafatnya Jenderal TNI (Purn.) Ryamizard Ryacudu pada 31 Mei 2026 menghadirkan duka bagi bangsa Indonesia. Namun bagi masyarakat Way Kanan, kepergian beliau terasa lebih dekat dan personal. Sebab di balik jabatan sebagai mantan Kepala Staf Angkatan Darat dan Menteri Pertahanan Republik Indonesia, Ryamizard adalah putra daerah yang akar keluarganya berasal dari Kampung Mesir Ilir, Kecamatan Bahuga, Kabupaten Way Kanan.
Tidak banyak tokoh nasional yang memiliki perjalanan pengabdian sepanjang dan sekuat Ryamizard.

Karier militernya ditempa dari bawah hingga mencapai posisi-posisi strategis dalam tubuh TNI. Ia pernah memimpin Kostrad, menjadi Kepala Staf Angkatan Darat, hingga dipercaya mengemban amanah sebagai Menteri Pertahanan Republik Indonesia. Dalam berbagai kesempatan, Ryamizard dikenal sebagai sosok yang tegas, berani, dan selalu menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi.


Salah satu kalimat yang paling dikenang dari dirinya adalah, “Nyawa saya, saya wakafkan untuk negara.” Sebuah ungkapan yang bukan sekadar retorika. Kalimat itu mencerminkan jalan hidup yang dipilihnya sejak muda: mengabdikan diri sepenuhnya untuk menjaga kedaulatan dan keutuhan Indonesia.
Bagi masyarakat Way Kanan, Ryamizard bukan hanya tokoh nasional. Ia adalah bagian dari sejarah daerah ini. Ayahnya, Mayjen TNI (Purn.) Musannif Ryacudu, merupakan putra Kampung Mesir yang dikenal dekat dengan Presiden Soekarno. Ikatan itulah yang membuat Ryamizard tidak pernah melupakan kampung halamannya. Di tengah kesibukan sebagai pejabat negara, ia masih menyempatkan diri pulang ke Way Kanan, bersilaturahmi dengan keluarga dan masyarakat.


Pengukuhan dirinya sebagai Penyimbang Marga Natar Agung menjadi bukti bahwa masyarakat adat Lampung menempatkannya sebagai bagian penting dari keluarga besar Way Kanan. Gelar itu bukan semata penghormatan kepada seorang pejabat tinggi negara, melainkan penghargaan atas dedikasi dan kepeduliannya terhadap tanah leluhur.
Kepergian Ryamizard meninggalkan pelajaran berharga bagi generasi muda Way Kanan. Bahwa anak kampung pun dapat mengabdi hingga tingkat tertinggi jika memiliki disiplin, integritas, dan kecintaan kepada bangsa. Di tengah zaman yang sering mengukur keberhasilan dari popularitas dan materi, Ryamizard menunjukkan bahwa kehormatan sejati lahir dari pengabdian.


Hari ini, Indonesia kehilangan seorang patriot. Way Kanan kehilangan salah satu putra terbaiknya. Namun jejak pengabdian yang ditinggalkan Ryamizard Ryacudu akan tetap hidup sebagai inspirasi bahwa cinta kepada daerah dan cinta kepada negara dapat berjalan beriringan.


Selamat jalan, Jenderal. Dari tanah Mesir di Way Kanan hingga panggung pengabdian nasional, namamu akan selalu dikenang sebagai putra daerah yang telah mewakafkan hidupnya untuk Indonesia.


(dikutip dari berbagai sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *