Oleh: Aan Frimadona Roza, Bergiat di Rumah Baca Yussuf Baradatu.
Di tengah gemuruh pesta pernikahan, denting musik, dan senyum para tamu undangan, ada satu prosesi yang sering luput dari perhatian banyak orang. Padahal di sanalah tersimpan makna yang begitu dalam, menyentuh, dan sarat nilai kehidupan. Prosesi itu adalah ngantak maju, ketika keluarga mempelai perempuan mengantarkan anak gadis mereka menuju rumah keluarga mempelai laki-laki.
Sekilas, prosesi ini tampak sebagai bagian biasa dari rangkaian adat perkawinan. Namun bagi masyarakat Lampung, khususnya di Way Kanan, ngantak maju bukan sekadar perjalanan dari satu rumah ke rumah lainnya. Ia adalah perjalanan batin yang mengajarkan tentang keikhlasan, tanggung jawab, dan perluasan makna keluarga.
Di balik langkah-langkah yang mengiringi pengantin perempuan menuju rumah suaminya, tersimpan perasaan yang tidak mudah diungkapkan. Ada orang tua yang selama bertahun-tahun membesarkan, menjaga, mendidik, dan mencurahkan kasih sayang kepada anak gadisnya. Kini, dengan penuh keikhlasan, mereka mengantarkan putrinya memasuki gerbang kehidupan yang baru. Tidak ada kata kehilangan dalam prosesi itu. Yang ada adalah pelepasan yang penuh harapan.
Melalui ngantak maju, keluarga perempuan seakan berpesan, “Kami tidak sedang melepaskan anak kami dari keluarga ini, tetapi kami sedang memperluas lingkaran keluarga kami.” Anak gadis yang dahulu berada dalam pelukan orang tua, kini menjadi bagian dari keluarga lain yang akan menjadi tempatnya tumbuh, belajar, dan membangun masa depan.
Prosesi ini juga mengingatkan bahwa pernikahan bukan hanya menyatukan dua insan, melainkan menyatukan dua keluarga besar. Hubungan yang sebelumnya asing kini dipertemukan oleh ikatan yang lebih kuat daripada sekadar perkenalan. Ada amanah yang dititipkan, ada kepercayaan yang diberikan, dan ada doa yang dilangitkan bersama.
Di zaman modern ketika segala sesuatu sering diukur dengan kemewahan pesta dan kemegahan dekorasi, ngantak maju menghadirkan pelajaran yang sederhana namun mendalam. Bahwa inti sebuah pernikahan bukanlah kemeriahan sehari, melainkan kesediaan dua keluarga untuk saling menerima dan saling menjaga. Mungkin karena itulah prosesi ini sering menghadirkan haru. Sebab setiap orang tua yang mengantarkan anak gadisnya sesungguhnya sedang melakukan salah satu bentuk cinta yang paling tulus: merelakan. Bukan karena kasih sayang berkurang, melainkan karena kasih sayang itu telah tumbuh menjadi kepercayaan.
Ngantak maju mengajarkan bahwa cinta tidak selalu berarti menggenggam erat. Kadang-kadang cinta justru menemukan kemuliaannya saat mampu melepaskan dengan ikhlas dan mendoakan dari kejauhan.
Di ujung prosesi itu, ketika langkah pengantin perempuan memasuki rumah keluarga suaminya, sesungguhnya yang berpindah bukan hanya seorang anak gadis. Yang ikut berpindah adalah harapan orang tua, doa-doa yang tak pernah putus, nilai-nilai keluarga yang diwariskan, serta keyakinan bahwa rumah tangga yang baru akan menjadi tempat bertumbuhnya kebahagiaan. Karena pada akhirnya, ngantak maju bukan sekadar adat. Ia adalah bahasa cinta yang diwariskan leluhur tentang cara melepas tanpa kehilangan, tentang cara menitipkan tanpa melupakan, dan tentang cara memperluas keluarga tanpa memutuskan akar kasih sayang. Tabik.
Ngantak Maju (Lampung): mengantarkan pengantin perempuan ke rumah atau keluarga mempelai laki-laki.
