Oleh: Aan Frimadona RozaPegiat Literasi Rumah Baca Yussuf Baradatu
Di belahan bumi sana, pesta sepak bola terbesar dunia sedang dimulai. Stadion-stadion megah dipenuhi sorak sorai, bendera berkibar, dan jutaan pasang mata menatap lapangan hijau penuh harapan. Sementara itu, di belahan bumi yang lain, dentuman perang masih terdengar. Konflik yang melibatkan Iran kembali memanaskan dunia dan mengguncang harga energi global. Dampaknya merambat hingga ke dapur-dapur rakyat biasa. Harga Pertamax di Indonesia naik tajam menjadi Rp16.250 per liter sejak 10 Juni 2026.
Di Jakarta, mahasiswa turun ke jalan. Mereka menyuarakan kegelisahan atas kenaikan harga BBM dan berbagai persoalan ekonomi yang dirasakan masyarakat. Demonstrasi menjadi bahasa ketika ruang-ruang dialog dirasa semakin sempit. Namun di tengah riuhnya dunia yang terasa semakin gaduh itu, pagi ini saya mendengar sesuatu yang berbeda. Burung pleci di rumah mulai gacor. Mungkin bagi sebagian orang itu hanya suara burung. Tetapi bagi saya, itu seperti pengingat bahwa kehidupan tidak pernah sepenuhnya dikuasai oleh berita buruk.
Ketika televisi menayangkan perang, media sosial dipenuhi perdebatan, dan harga-harga membuat banyak orang menghela napas panjang, seekor burung kecil masih mampu menyanyikan lagu kehidupannya dengan riang.Barangkali pleci itu tidak mengerti tentang geopolitik. Ia tidak tahu apa itu inflasi, konflik Timur Tengah, atau demonstrasi mahasiswa.
Namun ia mengajarkan sesuatu yang sederhana: hidup harus terus berjalan.Piala Dunia mengajarkan tentang harapan. Setiap tim datang dengan mimpi menjadi juara. Mahasiswa mengajarkan keberanian untuk menyampaikan suara. Perang mengingatkan bahwa perdamaian adalah sesuatu yang sangat mahal.
Kenaikan harga BBM mengajarkan pentingnya ketahanan dan efisiensi. Sedangkan pleci yang gacor pagi ini mengajarkan bahwa di tengah segala keruwetan dunia, masih ada ruang untuk menikmati secangkir kopi, membaca buku, dan mensyukuri hari. Sebagai pegiat literasi di Rumah Baca Yussuf Baradatu, saya percaya bahwa bangsa yang kuat bukanlah bangsa yang tidak pernah menghadapi masalah. Bangsa yang kuat adalah bangsa yang tetap mampu berpikir jernih ketika badai datang. Bangsa yang tetap membaca ketika banyak orang sibuk saling mencaci. Bangsa yang tetap menanam harapan meski berita yang datang silih berganti terasa menyesakkan.Dunia boleh gaduh.
Harga boleh naik. Perang boleh membuat pasar gemetar. Demonstrasi boleh memenuhi jalanan. Tetapi selama masih ada suara anak-anak belajar, masih ada buku yang dibaca, dan masih ada pleci yang bernyanyi di pagi hari, harapan belum mati.
Dan pagi ini, dari sebuah rumah sederhana di Baradatu, seekor pleci yang mulai gacor seolah berkata kepada kita semua: jangan biarkan kegaduhan dunia mencuri semangat untuk tetap hidup, berpikir, dan berharap. Penutup dari tulisan ini saya mengutip kata bijak, “Karena sering kali, ketika dunia sibuk berteriak, harapan justru datang lewat nyanyian seekor burung kecil.” Tabik.
