Oleh: Aan Frimadona Roza, Bergiat di Rumah Baca Yussuf Baradatu.
Tidak ada orang yang pernah membuat daftar cita-cita: “Suatu hari nanti aku ingin mendengar seseorang kentut.” Mustahil. Sejak kecil kita diajarkan menahan tawa ketika mendengarnya, meminta maaf jika tanpa sengaja melakukannya, bahkan sesekali saling menuduh ketika bunyinya mengagetkan seisi ruangan. Kentut, dalam kehidupan sehari-hari, lebih sering menjadi bahan lelucon daripada bahan syukur. Namun, hidup memang senang membolak-balik cara pandang manusia.
Di ruang perawatan rumah sakit, setelah seseorang menjalani operasi, kentut berubah status. Ia bukan lagi sumber malu, melainkan kabar gembira. Dokter menanyakannya. Perawat menunggunya. Keluarga mendoakannya. Bahkan pasien yang biasanya enggan membahasnya kini berharap penuh, “Semoga hari ini sudah keluar.” Begitulah. Ada saatnya satu bunyi kecil lebih berharga daripada seribu kata-kata penyemangat.
Saya membayangkan, jika kentut bisa memperoleh penghargaan, mungkin hari itu ia layak menerima gelar “Pahlawan Pemulihan.” Kedatangannya disambut senyum. Kepergiannya meninggalkan rasa lega. Tidak ada tepuk tangan, tetapi semua hati bersorak.
Lucu? Tentu.
Namun justru di situlah kehidupan sedang mengajarkan sesuatu yang sangat serius.
Selama tubuh sehat, kita merasa semuanya berjalan dengan sendirinya. Usus bergerak, jantung berdetak, paru-paru mengembang, darah mengalir. Kita tidak pernah mengucapkan terima kasih kepada organ-organ itu. Kita baru panik ketika salah satunya berhenti bekerja sebagaimana mestinya.
Ternyata manusia sering kali baru pandai bersyukur setelah kehilangan kenyamanan.
Rumah sakit adalah tempat yang meruntuhkan kesombongan. Di sana tidak ada jabatan yang bisa menggantikan rasa sakit. Tidak ada gelar akademik yang mampu mempercepat pemulihan. Tidak ada harta yang bisa membeli waktu agar luka segera sembuh. Semua orang kembali menjadi manusia yang sama: menunggu tubuhnya pulih setahap demi setahap.
Hari pertama membuka mata. Hari berikutnya duduk. Lalu berdiri. Belajar berjalan. Menunggu kentut. Setelah itu baru boleh minum, makan, hingga akhirnya pulang.
Kesembuhan ternyata tidak datang dengan lompatan besar. Ia hadir melalui kemenangan-kemenangan kecil yang sering luput kita syukuri.
Ironisnya, di luar rumah sakit kita sering mengukur kebahagiaan dengan mobil baru, rumah megah, jabatan tinggi, atau saldo rekening. Padahal di balik pintu ruang perawatan, ukuran bahagia menjadi jauh lebih sederhana.
“Sudah kentut.”
Hanya dua kata. Tetapi dua kata itu mampu menghapus kecemasan keluarga, menghidupkan harapan pasien, dan menjadi isyarat bahwa tubuh sedang kembali menemukan irama kehidupannya.
Mungkin itulah pelajaran paling indah dari sebuah ruang rawat inap. Tuhan tidak selalu menghadirkan mukjizat melalui peristiwa besar. Kadang Dia menyelipkan harapan lewat sesuatu yang selama ini kita anggap remeh.
Maka, jangan menertawakan hal-hal kecil dalam hidup. Sebab pada saat tertentu, justru yang paling sederhana itulah yang paling kita tunggu, paling kita syukuri, dan paling kita doakan. Dan saya yakin, hanya di rumah sakit, kalimat ini dapat menjadi berita paling membahagiakan hari itu.
“Alhamdulillah… akhirnya sudah kentut.”
Betapa hidup memang pandai mengajarkan manusia bahwa rasa syukur sering kali lahir dari hal-hal yang selama ini luput kita hargai.
