Ketika Buku Tak Lagi Datang, Siapa Menjemput Masa Depan?

Oleh: Aan Frimadona Roza, S.Pd., M.Pd., Penggiat Rumah Baca Yussuf, Pengurus ICMI Orda Way Kanan

Sebuah bangsa dapat membangun jalan, jembatan, gedung, bahkan membentuk berbagai program ekonomi. Namun, ada satu hal yang tidak boleh berhenti berjalan: gerakan literasi. Sebab, di balik setiap bangsa yang maju selalu ada masyarakat yang gemar membaca, berpikir kritis, dan terus belajar

Kabar bahwa sejumlah program Perpustakaan Nasional RI pada tahun 2026 terhenti akibat pemangkasan anggaran patut menjadi perhatian bersama. Program distribusi seribu buku ke desa, taman baca masyarakat, lapas, dan puskesmas tidak dapat dilanjutkan. Bantuan pembangunan serta penguatan perpustakaan daerah juga ikut terdampak.
Tentu pemerintah memiliki banyak prioritas pembangunan, seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG) maupun penguatan Koperasi Desa Merah Putih. Kedua program tersebut memiliki tujuan yang baik. MBG berupaya memperbaiki kualitas gizi masyarakat, sementara koperasi desa diharapkan menggerakkan ekonomi rakyat.

Namun pertanyaannya, apakah peningkatan kualitas sumber daya manusia cukup hanya dengan perut yang kenyang dan ekonomi yang bergerak? Jawabannya tentu belum. Bangsa juga membutuhkan masyarakat yang mampu membaca, memahami informasi, berpikir logis, berinovasi, dan mengambil keputusan yang bijaksana. Semua itu tumbuh dari budaya literasi.

Buku bukan sekadar tumpukan kertas. Buku adalah jendela ilmu, ruang dialog dengan dunia, dan jalan keluar dari kemiskinan pengetahuan. Ketika distribusi buku berhenti, sesungguhnya ada peluang belajar yang ikut tertunda, terutama bagi masyarakat di daerah yang akses bacaan masih terbatas.

Indonesia sedang bercita-cita mewujudkan Generasi Emas 2045. Cita-cita sebesar itu memerlukan investasi yang seimbang. Gizi harus diperkuat, ekonomi desa harus tumbuh, tetapi literasi juga harus terus hidup. Ketiganya bukan untuk dipertentangkan, melainkan saling melengkapi.

Tanpa literasi, program ekonomi akan sulit berkembang karena masyarakat kurang memiliki kemampuan mengelola pengetahuan. Tanpa literasi, bonus demografi bisa berubah menjadi beban demografi. Sebaliknya, ketika budaya membaca tumbuh, masyarakat akan lebih mudah beradaptasi dengan perkembangan teknologi, menciptakan usaha baru, hingga meningkatkan kualitas hidupnya.
Karena itu, gerakan literasi nasional seharusnya dipandang sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar program pelengkap. Anggaran untuk buku, perpustakaan, dan taman baca bukanlah pengeluaran, melainkan modal membangun manusia Indonesia yang cerdas dan berdaya saing.

Kita tentu berharap akan ada solusi agar program-program literasi yang sempat terhenti dapat kembali berjalan. Sebab bangsa yang besar tidak hanya memberi makan tubuh rakyatnya, tetapi juga memberi asupan bagi akal dan pikirannya.

Pada akhirnya, perut yang kenyang mampu menguatkan tubuh, ekonomi yang baik mampu menggerakkan kehidupan, tetapi literasi akan menentukan ke mana bangsa ini melangkah. Jangan sampai buku kehilangan jalannya menuju masyarakat, sebab di sanalah masa depan Indonesia sedang ditulis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *