BARADATU (29/10). Sastra bukan sekadar rangkaian kata. Ia bisa menjadi cermin kehidupan, ruang perlawanan, sekaligus suara bagi kebebasan manusia. Melalui cerpen Mata-mata di Kepala, penulis Ni Komang Ariani menghadirkan kisah yang mengajak pembaca merenungkan hubungan antara individu, kekuasaan, dan kemerdekaan berpikir.
Cerpen tersebut dimuat di Harian Kompas pada 25 Mei 2025 dan menjadi bagian dari perjalanan kepenulisan Ni Komang Ariani, penulis asal Bali yang telah menghasilkan sejumlah karya fiksi. Perjalanan Ni Komang Ariani di dunia literasi tidak dibangun dalam semalam. Ia pernah bekerja sebagai penyiar radio dan jurnalis sebelum semakin menekuni dunia kepenulisan. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan kreatifnya dalam membaca realitas sosial dan mengolahnya menjadi cerita.
Sejumlah karyanya antara lain kumpulan cerpen Lidah dan Bukan Permaisuri, serta novel Marigold. Ia juga pernah memperoleh penghargaan melalui karya novelet Nyanyi Sunyi Celah Tebing dalam lomba cerita bersambung Femina pada 2008.
Cerpen Mata-mata di Kepala menghadirkan refleksi tentang kebebasan individu di tengah bayang-bayang kekuasaan. Cerita ini mengajak pembaca mempertanyakan sejauh mana seseorang dapat mempertahankan pikiran, suara, dan pilihan hidupnya ketika berhadapan dengan tekanan dari luar.
Di sinilah sastra menemukan perannya. Cerpen tidak harus selalu memberikan jawaban, tetapi dapat membuka pertanyaan, menumbuhkan empati, dan membantu pembaca melihat persoalan dari sudut pandang yang berbeda.
Bagi pegiat literasi, karya semacam ini menjadi pengingat bahwa membaca bukan sekadar memahami jalan cerita. Membaca juga berarti melatih daya kritis, memperluas perspektif, serta membangun keberanian untuk berpikir secara mandiri.
Menumbuhkan Budaya Baca dari Daerah
Rumah Baca Yussuf di Baradatu, Kabupaten Way Kanan, memandang karya sastra sebagai bagian penting dalam membangun budaya literasi masyarakat. Kehadiran penulis dengan beragam pengalaman dan perspektif memberikan kesempatan kepada pembaca untuk mengenal kehidupan di luar lingkungan sehari-hari mereka.
Melalui buku dan cerita, pembaca dapat menjelajahi pengalaman manusia, memahami perbedaan, serta mengembangkan kepekaan terhadap persoalan sosial.
Kisah perjalanan Ni Komang Ariani juga menjadi pengingat bahwa dunia kepenulisan membutuhkan ketekunan, keberanian berekspresi, dan kesediaan untuk terus belajar. Penulis tumbuh melalui proses panjang membaca, mengamati, menulis, dan memperbaiki karya.
Pada akhirnya, kekuatan sastra tidak hanya terletak pada penghargaan yang diterima, tetapi juga pada kemampuannya meninggalkan pertanyaan dan pemikiran dalam benak pembaca. Sebab, ketika buku dibuka dan cerita dibaca, pikiran menemukan ruang untuk merdeka.
