Oleh: Aan Frimadona Roza, Pengiat Literasi Rumah Baca Yussuf
Baradatu, Way Kanan (Kamis, 6 November 2025). Gerakan literasi di Indonesia saat ini berada pada fase penting. Kita telah berhasil menekan angka buta huruf hingga di bawah satu persen, namun tantangan besar berikutnya adalah bagaimana meningkatkan literasi fungsional: kemampuan memahami, menganalisis, dan menggunakan informasi dari bacaan dalam kehidupan nyata.
Hasil survei internasional seperti PISA 2022 menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar anak Indonesia mampu membaca teks, banyak yang belum memahami maknanya secara mendalam. Fakta ini menegaskan bahwa literasi tidak cukup berhenti pada “bisa membaca”, melainkan harus naik tingkat menjadi mampu berpikir kritis melalui bacaan.
Provinsi Lampung mencatat Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) sebesar 64,81 poin pada tahun 2024, masih di bawah rata-rata nasional yang mencapai 73,75 poin. Tingkat Kegemaran Membaca masyarakat Lampung juga masih sekitar 67,67 poin. Data ini menunjukkan bahwa gerakan literasi masih memerlukan dorongan kuat, terutama di daerah-daerah seperti Kabupaten Way Kanan yang tengah berupaya meraih predikat sebagai Kabupaten Literasi.
Pemerintah daerah melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Way Kanan kini aktif menggelar berbagai program: dari perpustakaan keliling, pembinaan perpustakaan kampung, hingga gerakan literasi digital baik di perpustakaan kampung dan komunitas literasi di Kabupaten Way Kanan.
Sebagai bagian dari masyarakat Way Kanan, Komunitas Literasi Perpustakaan Rumah Baca Yussuf berkomitmen ikut membantu pemerintah daerah secara mandiri dalam mewujudkan masyarakat literat. Melalui kegiatan swadaya dan kolaborasi dengan relawan, pengurus Rumah Baca Yussuf mengembangkan berbagai kegiatan seperti Membuka akses bacaan anak dan remaja di lingkungan Baradatu, Menyusun koleksi buku yang ramah dan sesuai usia, Menyelenggarakan kegiatan membaca bersama, diskusi kecil, dan pelatihan menulis, Menggerakkan literasi digital sederhana agar masyarakat dapat memanfaatkan teknologi secara positif.
Rumah Baca Yussuf hadir sebagai mitra nonformal pemerintah dalam menumbuhkan budaya membaca dari bawah. Kami percaya, gerakan literasi tidak harus menunggu program besar justru bisa dimulai dari inisiatif kecil yang konsisten dan mandiri.
Perkembangan teknologi menuntut masyarakat untuk tidak hanya bisa membaca, tetapi juga mampu memahami dan memproduksi informasi secara digital. Karena itu, Rumah Baca Yussuf bersama sekolah-sekolah di sekitar terus mengembangkan kegiatan yang menggabungkan antara literasi konvensional dan literasi digital dalam upaya ikhtiar mewujudkan generasi muda yang cakap dan kritis di era informasi.
Tantangan literasi di daerah seperti Way Kanan bukan hanya soal jumlah buku yang terbatas, tetapi juga minat baca dan kebiasaan membaca yang belum menjadi budaya keluarga. Banyak anak lebih tertarik pada gawai daripada buku, sementara fasilitas membaca masih minim.
Namun, dengan dukungan masyarakat, sekolah, dan pemerintah, Rumah Baca Yussuf percaya bahwa kebiasaan membaca dapat tumbuh melalui hal-hal sederhana semisal membaca 15 menit sebelum belajar, berbagi cerita setiap pekan, atau menciptakan ruang baca kecil di rumah dan kampung.
Kabupaten Way Kanan kini sedang bergerak menuju Kabupaten Literasi, dan Rumah Baca Yussuf bangga menjadi bagian dari gerakan ini. Melalui langkah kecil yang dilakukan secara mandiri dan berkelanjutan, kami ingin membuktikan bahwa dari pelosok pun bisa lahir cahaya pengetahuan. Karena sejatinya, literasi bukan sekadar kemampuan membaca teks melainkan kemampuan membaca kehidupan dan menyalakan harapan. Tabik.
Menguatkan Gerakan Literasi dari Way Kanan: Dari Membaca Menuju Memahami
