Oleh: Suyanto, S.PdI
Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) UPT SMP Negeri 7 Banjit
Nama saya Suyanto. Melalui tulisan ini, saya ingin berbagi perjalanan hidup saya sebagai seorang pendidik sebuah perjalanan panjang yang dimulai dari guru honorer hingga kini saya bersyukur telah diangkat sebagai PPPK paruh waktu. Perjalanan ini penuh dengan tantangan, pengorbanan, dan kebahagiaan yang tak ternilai.
Saya menyelesaikan pendidikan tinggi pada tahun 2014 dengan harapan besar dapat segera mengabdi di dunia pendidikan. Namun, kenyataan tidak selalu sejalan dengan harapan. Beberapa tahun setelah lulus, saya masih berjuang mencari kesempatan untuk berkiprah di bidang yang saya cintai. Meski demikian, keyakinan saya tidak pernah pudar bahwa menjadi guru bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan hati.
Awal Mengabdi sebagai Guru Honorer
Kesempatan itu akhirnya datang pada tahun 2017, ketika saya mulai mengajar sebagai guru honorer Pendidikan Agama Islam (PAI) di UPT SMP Negeri 7 Banjit. Meskipun dengan segala keterbatasan status dan kesejahteraan, saya merasa bersyukur dapat ikut berperan dalam mendidik dan membimbing generasi muda.
Mengajar PAI bukan hanya tentang menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga menanamkan nilai-nilai keimanan, akhlak, dan karakter. Di sinilah saya belajar bahwa tugas guru bukan sekadar mentransfer ilmu, melainkan membentuk manusia seutuhnya.
Tantangan dan Keteguhan Hati
Menjadi guru honorer bukanlah hal yang mudah. Keterbatasan gaji dan fasilitas sering kali menjadi tantangan terbesar. Gaji yang diterima jauh dari kata cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, saya berusaha menanamkan dalam diri bahwa keikhlasan dan tanggung jawab terhadap peserta didik harus tetap menjadi prioritas utama.
Selain itu, dinamika kelas dengan beragam karakter siswa menuntut saya untuk terus belajar dan beradaptasi. Setiap siswa memiliki cara belajar yang berbeda. Ada yang mudah memahami, ada pula yang membutuhkan pendekatan khusus dan kesabaran ekstra. Semua proses tersebut menjadi pengalaman berharga dalam perjalanan saya sebagai pendidik.
Titik Balik: Diangkat sebagai PPPK Paruh Waktu
Setelah bertahun-tahun mengabdi sebagai guru honorer, saya bersyukur karena kini telah diangkat sebagai PPPK paruh waktu. Bagi saya, ini bukan hanya perubahan status kepegawaian, tetapi juga bentuk pengakuan atas perjuangan dan pengabdian panjang di dunia pendidikan.
Pengangkatan ini memberikan harapan baru, semangat baru, dan motivasi untuk terus meningkatkan kualitas diri sebagai guru. Meski belum sepenuhnya sempurna, status ini menjadi langkah maju yang patut disyukuri dan dijadikan penyemangat untuk terus berkontribusi lebih baik bagi sekolah dan peserta didik.
Kebahagiaan yang Menjadi Penguat Langkah
Di balik semua proses dan tantangan, kebahagiaan terbesar saya tetap sama: melihat siswa tumbuh, belajar, dan menjadi pribadi yang lebih baik. Saat mereka memahami pelajaran dan menunjukkan perubahan positif, di situlah letak kepuasan batin yang sulit digantikan oleh apa pun.
Salah satu motivasi hidup yang selalu saya pegang adalah potongan ayat yang sangat familiar: “Fastabiqul khairat”, berlomba-lomba dalam kebaikan. Ayat ini mengingatkan saya bahwa setiap langkah kecil dalam mendidik adalah bagian dari kebaikan yang bernilai besar.
Perjalanan dari guru honorer hingga PPPK paruh waktu mengajarkan saya tentang arti kesabaran, keikhlasan, dan keteguhan hati dalam mengabdi. Semoga kita semua, para guru dan tenaga pendidik, senantiasa diberikan kesejahteraan, kekuatan, kesabaran, dan keikhlasan tanpa batas dalam menjalankan amanah mulia ini.
Karena pada akhirnya, menjadi guru adalah tentang pengabdian, bukan semata-mata jabatan atau status.
