MBG di Bulan Ramadhan: Menjaga Gizi, Menguatkan Empati

Oleh: Adie Nurjana Resma
Kepala SPPG Ramsai Way Tuba

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar rutinitas distribusi makanan. Ia adalah wujud kehadiran negara dalam memastikan generasi tumbuh sehat dan kuat. Di tingkat pelaksana, kami di SPPG Ramsai Way Tuba merasakan bahwa program ini bukan hanya soal teknis, tetapi juga soal tanggung jawab moral.

Mengacu pada kebijakan dari Badan Gizi Nasional, pelaksanaan MBG pada Februari 2026 mengalami penyesuaian seiring libur nasional dan awal Ramadhan 1447 H. Pada 16–17 Februari, distribusi ditiadakan karena cuti bersama dan libur Tahun Baru Imlek. Kemudian pada 18–22 Februari, di awal Ramadhan, pendistribusian juga dihentikan sementara dan akan kembali berjalan serentak mulai 23 Februari 2026. Sebagian mungkin bertanya, mengapa harus ada jeda?

Bagi kami, penyesuaian ini justru menunjukkan bahwa program nasional dijalankan dengan mempertimbangkan konteks sosial dan keagamaan masyarakat. Ramadhan adalah bulan ibadah, bulan pembinaan diri, dan bulan penguatan solidaritas. Pelaksanaan program publik pun perlu menyesuaikan agar tetap relevan dan efektif.

Namun yang lebih penting dari sekadar jadwal adalah semangat pelayanan. Di tengah jeda distribusi, kami tidak berhenti bekerja. Koordinasi dengan PIC sekolah dan bidan desa terus dilakukan. Kami memastikan kesiapan satuan pendidikan, serta mendata kembali sasaran prioritas seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan balita yang tetap membutuhkan perhatian gizi selama bulan suci.

Dalam pandangan saya, MBG bukan hanya tentang “memberi makan”, tetapi tentang membangun kesadaran bersama bahwa gizi adalah fondasi masa depan. Anak yang cukup gizi akan lebih siap belajar. Ibu hamil dan menyusui yang terpenuhi nutrisinya akan melahirkan generasi yang lebih sehat. Balita yang terjaga asupan gizinya akan tumbuh optimal. Di sinilah letak strategisnya program ini.

Transparansi dan akuntabilitas juga menjadi prinsip penting. Jika ada pihak yang belum bersedia menerima MBG selama Ramadhan dengan alasan tertentu, hal itu tetap kami hormati dengan prosedur administrasi yang tertib. Karena pelayanan publik yang baik bukan memaksa, melainkan mengajak dan memberi ruang dialog.

Ramadhan sejatinya mengajarkan empati. Dan MBG, bagi kami di SPPG Ramsai Way Tuba, adalah praktik nyata empati itu sendiri. Menjaga gizi masyarakat berarti menjaga masa depan daerah dan bangsa.

Semoga kolaborasi antara sekolah, tenaga kesehatan, pemerintah desa, dan seluruh elemen masyarakat terus menguat. Karena program yang baik tidak akan berhasil tanpa dukungan bersama.

Di bulan penuh berkah ini, mari kita jadikan pelayanan sebagai ibadah, dan pengabdian sebagai jalan membangun generasi yang lebih sehat dan berdaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *