Oleh Rosmalia Resma, Sekretaris Rumah Baca Yussuf Baradatu
Hari Kartini setiap 21 April selalu menghadirkan satu pertanyaan penting: sejauh mana kita melanjutkan perjuangan beliau? Bagi kami di Rumah Baca Yussuf Baradatu, Kartini tidak hanya dikenang melalui kebaya dan seremoni. Semangatnya justru kami hidupkan lewat buku, tulisan, dan kebiasaan belajar yang terus tumbuh.
Kartini adalah simbol keberanian intelektual. Ia melawan keterbatasan bukan dengan kekerasan, melainkan melalui membaca dan menulis. Dari situlah lahir kesadaran, dan dari kesadaran itulah perubahan dimulai.
Semangat inilah yang kami rawat bahwa literasi adalah kunci utama pemberdayaan, terutama bagi perempuan.Di lingkungan kami, perempuan memiliki peran penting sebagai madrasah pertama dalam keluarga. Ketika seorang ibu gemar membaca, anak-anaknya akan tumbuh dalam budaya literasi yang kuat. Karena itu, peringatan Hari Kartini menjadi momentum untuk mengajak perempuan kembali dekat dengan buku, membuka ruang diskusi, serta menumbuhkan kebiasaan belajar di rumah.
Rumah Baca Yussuf terus berupaya menghadirkan ruang yang aman dan nyaman melalui perpustakaan mandiri. Di tempat sederhana ini, perempuan dan anak-anak dapat belajar, berbagi cerita, serta menumbuhkan keberanian untuk berkarya.
Bagi kami, ruang baca bukan sekadar tempat menyimpan buku, tetapi juga ruang emansipasi tempat mimpi dirawat dan masa depan dibangun.Di era digital, perjuangan Kartini menemukan bentuk baru. Literasi tidak hanya sebatas membaca buku, tetapi juga kemampuan menyaring informasi, memahami teknologi, dan menyebarkan hal-hal positif. Perempuan yang melek literasi digital akan menjadi lebih kuat, mandiri, dan mampu menjadi agen perubahan di lingkungannya.
Akhirnya, Hari Kartini mengingatkan kita bahwa literasi adalah “napas” perjuangan yang harus terus dijaga. Selama buku masih dibaca dan ilmu terus dibagikan, selama itu pula semangat Kartini akan tetap hidup mengalir dari rumah ke rumah, dari generasi ke generasi.
