KOTA SUCI
Gara-gara walikota terlambat menutup rumah-rumah bordil di pinggiran kota, warga yang imannya mudah goyah naik darah, memprotes, menganggap otak walikota rusak, karena membiarkan kota yang telah puluhan tahun mereka jaga kesuciannya, terancam azab yang begitu hebat. Begitulah desas desusnya. Tak ada yang berani menentang. Polisi dan tentara hanya berbaris tak hendak menertibkan. Mulanya jumlah mereka hanya ratusan, tapi tak berselang lama jumlahnya bertambah tak terduga, semakin ramai, semakin ramai, dan membludak, kota menjadi sesak, bahkan di luar kapasitas.
Mulanya mereka hanya menyasar rumah bordil, tapi tak sedikit juga yang menyasar warga yang mereka anggap beda keyakinan. Tak ada yang tahu dari mana sebagian demonstran itu berasal. Ada yang bilang mereka pasukan langit yang setiap kata dan perintahnya adalah kebenaran. Fatwa mereka harus dipatuhi jika tidak mau dilaknat dan binasa.
Seseorang mengarahkan masa agar segera memblokir stasiun, terminal, pusat-pusat perbelanjaan, rumah-rumah makan, taman kota, hingga ke kantor pemerintahan. Yang tidak mendukung atau bahkan melawan dianggap setan-iblis yang harus dimusnahkan. Seisi kota jadi mencekam, penjarahan atau penganiayaan dilegalkan. Walikota yang gugup dan tidak ingin semakin sulit dikenalikan segera mengabulkan permintaan mereka.
Rumah-rumah bordil ditutup saat itu juga. Para pelacur diarak ke jalananan. Seperti sapi-sapi yang digiring ke penjagalan. Warga bersorak, mengepalkan tangan, menyanyikan lagu-lagu kematian bagi yang lain. Meludahi dan melempari para pelacur tanpa belas kasih, meski sudah berulangkali mereka menangis, menghiba, meminta ampun, tapi tentu percuma. Teriakan mereka justru semakin membuat tindakan pasukan langit semakin brutal, sumpah serapah dan cacimaki berhamburan di udara, di sepanjang jalan yang mereka lalui. Ramai benda-benda berterbangan ke rombongan pelacur, menjelang tengah malam keramaian itu baru mereda. Adzan subuh dikumandangkan seperti biasanya memecah pagi yang senyap, darah telah mengering, dan sobekan pakaian para pelacur di jalanan sesekali menggeliat diterpa angin dan kendaraan yang mulai melintas. Sebagian warga tahu ini politis, ini bukan melulu tentang iman. Tapi mereka tak peduli, dan mereka sangat gembira karena merasa berjasa menyelamatkan dan menjaga kesucian kota. Walikota tampak puas dengan tindakan warga yang dibutakan iman serampangan itu.
Polisi dan tentara terus berpatroli, keadaan perlahan mulai dapat kendalikan. Warga luar kota yang semula turut memenuhi kota sudah tampak batang hidungnya. Tiga hari kemudian kota itu lebih senyap dari biasanya. Hanya petugas kebersihan yang tampak (meski dengan wajah muram dan sangat malas) terus sibuk merapikan kota. Puluhan mayat yang semula tergeletak dan bertebaran di sejumlah lokasi sudah dikumpulkan dan dibuang ke sungai lalu menghilang di laut, tanpa upacara atau doa sebagaimana mestinya. Selama proses sterilisasi kota, warga menghabiskan waktu yg membosankan dengan menonton televisi. Lalu pada hari ke empat kembali bekerja seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Tak ada yang menyesal telah membunuh dan menjarah sebelumnya.
Malaikat menyibak awan kelabu di atas kota dan mencatat nasib buruk yang menimpa sebagian orang yang dianggap pendosa. Satu bayi terlantar menangis memilukan di dekat tong sampah, sesungguhnya banyak bayi atau anak kecil yang terlantar atau menjadi korban akibat aksi masa itu. Pejabat dan petugas keamanan yang sama korupnya tertawa. Menggelar rapat di hotel atau memilih tetap tinggal di apartemen mewahnya.
Tangis bayi yang tadi suaranya membuat berisik kota kini semakin melemah, ibunya yang pelacur sudah mati. Warga menutup mata, menyumbat telinga, dan berharap sesuatu yang buruk menghampiri anak haram yang teronggok di satu sudut kota suci. Doa mereka dikabulkan, seekor anjing membawanya pergi ke pinggiran kota, tempat orang-orang tanpa status yang jelas membangun tempat tinggal darurat di sana. Mereka menyebutnya orang moro-moro, sekumpulan perambah yang puluhan tahun lalu membangun camp pengungsian di pinggiran kota suci itu. Membuat ladang di sekitar lahan yang semula terbengkalai, tanpa kejelasan status hukum tanahnya, mereka bilang itu tanah negara, dan sebagai warga tentu tak salah menggarap lahan tersebut, lalu beberapa perusahaan datang dan mengubahnya menjadi kebon tebu, kebun nanas, atau ladang sawit yang saban tahun rajin mengirimkan cendera mata ke walikota dan anggota dewan.
Orang moro-moro yang membangun sebentuk camp pengungsian di register 45 terus bertambah jumlahnya. Mereka suka membuat api anggun di tengah camp, membuat lingkaran, benyanyi, menari, merayakan ketidakterikan, ketidakjelasan, mengutuki ketidakberpihakan, salah urus, dan kesombongan pemerintah kepada rakyatnya sendiri. Tiada-nya pemenuhan hak-hak konstitusional dan hak-hak legal bagi masyarakat. Bahkan sudah mendekati pada tindakan diskriminatif. Mereka tidak mendapat kartu tanda penduduk (KTP), tidak boleh menggunakan hak politik, tidak mendapat pelayanan pendidikan, kesehatan, dan bahkan bantuan program-program sosial. Padahal mereka adalah entitas komunitas yang tinggal sudah belasan tahun.
Stigma perambah hutan membuat pemerintah semakin sombong, tak acuh. Pemerintah daerah sendiri kukuh berargumen bahwa berdasarkan UU No 23 tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan, warga Moro-Moro tidak bisa dikategorikan penduduk karena bertempat tinggal di kawasan hutan di pinggiran kota. Konflik panjang dipicu penguasaan dan pengelolaan hutan tanaman industri yang sejak lama telah menjadi silang sengketa antara investor, masyarakat, dan pemerintah. Orang moro-moro terus menari hingga larut malam, melupakan peran pemerintah dan aparat yang lebih berpihak pada perusahaan, melupakan Tuhan, hingga lupa dengan nasib buruk yang membayangi hidup mereka.
Mereka menyisakan lubang besar dalam dada saya. Ah, lebih baik menikmati momen matahari muncul dari batas laut. Melupakan mereka yang sedang membangun kepercayaan dan menghembuskan kebohongan baru dengan membangun gedung-gedung lebih besar, memperluas dan menambahkan banyak jalur yang terkonsentrasi di Kota Suci.
Orang moro-moro enggan mempermasalahkan semua itu. Sudah begitu lama, bahkan sebelum negeri ini diinvasi oleh bangsanya sendiri, jauh sebelum pekik kemerdekaan dikumandangkan, bahwa kami selalu berhadapan dengan suatu rezim yang membangun citra khusus, mendesain kepercayaan dengan kesempatan dan peluang sangat terbatas. Mungkin, jika ada sesuatu yang sedikit menyimpang, sewaktu-waktu kami mendapat panggilan. Si penelepon dengan leluasa dapat merahasiakan identitasnya. Di beberapa tempat mereka memberi gangguan pada komunitas-komunitas di pinggiran kota. Sudah puluhan atau ratusan tahun, saya dan warga moro-moro sudah terbiasa didesak & tercekam rasa bersalah yang tidak semestinya.
Ya, sungguh, ini mungkin yang sebut kejahatan sistemik, tidak ada gunanya menolak, kami sudah lama mati. Warga di Kota Suci merawat banyak anjing, ular, tikus, dan harimau di halaman dan kebun belakang rumahnya. Memasang telinga di setiap dinding, menyadap perbincangan dengan memamsang semua model komunikasi, memasang CCTV di camp pengungsian, tak ada yang dapat disembunyikan atau tak ada tempat aman bagi kami untuk menyimpan rahasia. Tapi kami bisa bertemu jika membawa banyak uang tunai. Datang seolah untuk menebus dosa-dosa, untuk kekonyolan dan kecerobohan yang barangkali tidak pernah kami perbuat, yang jika beruntung akan mereka maklumi.
Mereka mengenakan topi terbalik, menunjukkan kode khusus sambil mendengarkan musik religius. Kini mereka juga menangani uang, menentukan jenis dan menu makanan, menguasai semua pasar, menentukan jenis pesta dan pakaian yang harus dikenakan semua koloni. Tidak masalah jika kami kurus, tidak masalah jika kami gemuk, tidak masalah otak kami tumpul. Kami hanya perlu menyiapkan banyak uang agar bisa berpakaian seperti orang-orang itu, mengenakan jas, duduk di barisan depan, di kursi-kursi berkarpet merah, dengan dagu yang selalu terangkat. Mereka membangun kepercayaan, membuat penawaran atas diri tertentu. Tak peduli setuju atau tidak.
Saya ada di tengah hiruk-pikuk camp orang moro-moro. Terpental, bergulingan, tersungkur dihantam hoax dan kekeruhan pikiran sendiri. Terbelenggu ketidakjelasan dan ketidakjernihan melihat sejumlah hal. Pontang-panting digebuk kenangan dan harapan. Tapi tentu saya tak mau begitu saja mengalah. Saya tak mau menderita sendiri. Saya gigit sore hingga kroak, lalu mengikat dan melemparnya ke selokan . Sementara bulan yang terkekeh di atap rumah saya lempar kaleng cocacola hingga satu matanya bengkak. Tadi pagi, satu sosok yang mengaku malaikat berdiri dan berkacak pinggang di halaman, dagunya ke atas, dengan senyum sinis, dan suara lantang memanggil nama saya. Saya sebagai bajingan tak kalah angkuhnya, membuka pintu dan menyiapkan sejumlah kata atau kalimat tak lengkap yang bisa membuatnya tersesat, atau minimal (diam-diam) membuat Malaikat yang tampak ceroboh itu, tak menduga, ada lubang besar di halaman, dan ia benar-benar terjebak. Ia marah dan terus berteriak. Lubang yang semula berwana coklat berganti merah. Dan saya, setelah melongok sebentar, kembali berdiri di depan pintu, tersenyum puas. Berkurang satu malaikat yang mencatat dosa-doa saya hari ini. Saya kembali ke kamar kumuh, memeriksa instagram, facebook, youtube, twitter, dan lain-lain. Terbius bujuk rayu realitas yang tak riil ini, berjam-jam, berhari-hari, bertahun-tahun, hingga tak sadar malaikat itu berhasil keluar dari lubang dan sudah mengetuk pintu dengan keras, bahkan kali ini ia ditemani dua ekor anjing besar yang siap menerkam saya.
Di kegelapan saya menemukan diri saya yang celaka. Sosok dengan sepasang mata bulat merah, membawa senapan laras panjang dan berkeliaran di jalan Kota Suci. Dua mobil petugas keamanan berhenti menghadang di dekat jembatan. Lampu kendaraan mereka menyala & sangat menyilaukan. Terdorong rasa gusar, saya arahkan senapan dan berniat menghabisi mereka, yang rupanya lebih sigap dengan ancaman seperti ini. Mereka bilang saya sudah dikepung, meminta segera meletakkan senjata sebelum hitungan ke tiga, mengangkat dua tangan, dan bersujud pada govermen di pengadilan jika berharap keringanan. Huh, enak saja. Warga kota memamerkan senyum tertahan di jendela-jendela apartemen mewah yang teronggok di sisi kiri dan kanan jalan, menambah dongkol saya dan ribuan proletar lainnya. Api dendam berkobar, mengatasi ketakutan atas ancaman yang siap mengirim saya ke neraka.
Menggunakan pengeras suara, salah satu petugas keamanan kembali melontarkan kata-kata peringatan. Lebih tegas dan lebih tajam dari sebelumnya. Dasar sundal. Tapi apa peduli saya. Mungkin mereka sudah muak dengan huru-hara yang terjadi beberapa bulan terakhir, tampak tidak sabar, dan mungkin mereka berharap saya tidak menyerah. Mereka membutuhkan alasan untuk menarik pelatuk, peluru-peluru melesat menembus tubuh saya. hingga roboh dan mati dengan kondisi menyedihkan. Seperti nasib puluhan demonstran yang hingga sekarang tak jelas kabarnya. Hitungan pertama digemakan, berharap saya gentar dan buru-buru putar haluan, meminta maaf atas kekonyolan yang saya lakukan.
Saya meludah ke tanah. Mengamati mereka satu per satu. Tampak malaikat kematian duduk di belakang mereka dengan dagu terangkat, menjilati kuku-kuku tajamnya yang hitam, mengawasi keadaan yang tampak tegang, yang ia duga sesaat lagi mencekam. “Jangan bertingkah seolah-olah kamu orang baik, bajingan,” guman malaikat itu yang membuat kaki saya sedikit goyah. Anjing di kepala saya mendengus geram. Dua!! Kembali terdengar peringatan petugas keamanan. Saya tidak berniat mundur, dan menduga pasti banyak petugas keamanan yang mulai gugup. Malaikat maut yang mengenakan jubah hitam akhirnya berdiri seiring salah satu orang menyebut kata Tiga!!! Nyaris serentak peluru berhamburan, melesat dan memburu tubuh saya. Orang-orang di jendela apartemen terbelalak, tubuh saya mendadak meringan, melayang, lalu angin sore dengan sigap mendorong tubuh saya ke atas hingga lebih tinggi dari atap apertemen, melewati beberapa gumpal awan hitam, dan beberapa waktu kemudian saya dijebloskan ke neraka. Dan meski samar, saya mendengar sorak sorai orang-orang di kota suci itu. Anak haram itu sudah mati, anak haram itu sudah mati!
***
