Ngakon Adat: Ketika Pernikahan Menjadi Jembatan Budaya

Oleh Rumah Baca Yussuf Baradatu

Di sebuah pernikahan keluarga di Kampung Tiuh Balak, Kecamatan Baradatu, saya kembali menyaksikan betapa kayanya tradisi yang dimiliki masyarakat Lampung. Bukan hanya akad nikah yang menjadi pusat perhatian, tetapi juga prosesi adat yang mengiringinya.Salah satu momen yang menarik adalah saat mempelai perempuan yang berasal dari suku berbeda menjalani prosesi ngakon adat.

Melalui prosesi ini, ia diterima sebagai bagian dari keluarga besar Lampung. Suasana berlangsung penuh kekeluargaan, disaksikan para tetua adat, keluarga, dan masyarakat yang hadir.Di tengah kehidupan yang semakin modern, tradisi seperti ini menyimpan pesan yang sangat berharga. Adat mengajarkan bahwa perbedaan bukan alasan untuk menjaga jarak, melainkan kesempatan untuk memperluas persaudaraan.

Pernikahan menjadi ruang perjumpaan berbagai latar belakang yang kemudian dipersatukan oleh rasa hormat dan kebersamaan.Bagi masyarakat Way Kanan, adat bukan sekadar warisan leluhur yang dipertahankan karena kebiasaan.

Adat adalah nilai yang terus hidup dalam kehidupan sehari-hari, mengajarkan pentingnya menghormati keluarga, menjaga silaturahmi, dan memperkuat ikatan sosial.

Pernikahan di Tiuh Balak itu pun menjadi pengingat bahwa di tengah perubahan zaman, tradisi masih memiliki peran penting sebagai penjaga identitas dan perekat persaudaraan. Dari sebuah kampung di Way Kanan, nilai-nilai itu terus diwariskan, menghubungkan masa lalu dengan masa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *