Oleh: Aan Frimadona Roza, Penggiat Literasi Rumah Baca Yussuf Baradatu
Malam itu, langit pekat perlahan diselimuti cahaya kecil yang berkelip dari halaman rumah-rumah warga. Obor-obor dinyalakan. Api yang sederhana, tetapi menyimpan makna yang dalam. Pemandangan itu bukan hal baru bagi masyarakat Dusun Pekalongan, Kampung Bhakti Negara, Way Kanan. Setiap datang malam 1 Suro, sebagian warga yang merupakan penganut Sapta Darma menyalakan obor sebagai bagian dari tradisi dan keyakinan yang mereka jalankan turun-temurun.
Sebagai warga yang hidup berdampingan dengan mereka, saya memandang nyala obor itu bukan sekadar api yang menerangi malam. Ia adalah simbol keberagaman yang hidup dengan damai di tengah masyarakat. Sebuah tanda bahwa perbedaan keyakinan tidak harus melahirkan jarak, apalagi permusuhan.
Di kampung kami, masyarakat telah lama hidup berdampingan dalam keberagaman. Ada yang memeluk agama yang berbeda, ada pula yang menjadi bagian dari aliran kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Salah satunya adalah Sapta Darma. Bahkan menurut cerita masyarakat, Kampung Bhakti Negara dikenal sebagai salah satu basis perkembangan Sapta Darma di Kabupaten Way Kanan. Keberadaan sanggar yang digunakan sebagai tempat kegiatan spiritual menjadi salah satu penanda bahwa komunitas ini telah lama menjadi bagian dari denyut kehidupan kampung.
Menariknya, keberadaan mereka tidak pernah menjadi alasan lahirnya sekat-sekat sosial. Anak-anak tetap bermain bersama, warga tetap bergotong royong saat membangun jalan, membersihkan lingkungan, atau membantu tetangga yang sedang memiliki hajatan maupun musibah. Kehidupan berjalan sebagaimana mestinya, penuh rasa hormat dan saling menghargai
Di tengah dunia yang sering diwarnai konflik karena perbedaan, kampung-kampung kecil seperti Bhakti Negara justru mengajarkan pelajaran besar. Bahwa kerukunan tidak lahir karena semua orang sama, tetapi karena semua orang mau menerima perbedaan.
Nyala obor pada malam 1 Suro menjadi pengingat bahwa cahaya tidak pernah memilih siapa yang akan diterangi. Ia hadir untuk semua. Begitu pula kehidupan bermasyarakat. Perbedaan agama, suku, budaya, maupun aliran kepercayaan semestinya menjadi warna yang memperindah kehidupan bersama, bukan alasan untuk saling menjauh.
Indonesia dibangun di atas keberagaman. Dari Sabang sampai Merauke, dari kota hingga pelosok kampung, masyarakat hidup dengan latar belakang yang beragam. Jika keberagaman itu mampu dijaga dengan sikap saling menghormati, maka ia akan menjadi kekayaan sosial yang tak ternilai. Karena sesungguhnya, yang membuat sebuah kampung besar bukanlah kesamaan yang dimiliki warganya, melainkan kemampuan mereka merawat perbedaan dengan hati yang lapang.
Maka ketika obor-obor itu menyala di malam Suro, saya melihat lebih dari sekadar cahaya api. Saya melihat cahaya toleransi, cahaya persaudaraan, dan cahaya harapan bahwa keberagaman akan selalu menjadi kekuatan yang menyatukan masyarakat Bhakti Negara dan Way Kanan. Sebab dalam terang yang berbeda-beda itulah, kita belajar menjadi satu Indonesia.
